Di Bawah Naungan Pohon Rindang Itu

Bocah Angon itu membentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arahku, seolah sedang menyambut saudaranya yang telah lama tak ditemui. “Kemarilah. Tak perlu kau merasa sepi dan sedih. Sebab ini memang jalan sunyi. Berjalanlah bersamaku.”

Bagiku, manusia yang lahir dan besar di tengah cengkeram rezim kepalsuan itu, kehangatannya yang tulus bak oase di padang tandus. Bersamanya, aku menyanyikan lagu-lagu cinta dan meneriakkan puisi-puisi, kepada bumi dan langit, kepada Dia dan KekasihNya. Kami terus bernyanyi, hingga tajam matanya membongkar resah jiwaku. “Aku muak! Marah! Dunia yang culas sedang berusaha berbuat makar pada gravitasi Tuhan. Mereka menyedot kesejahteraan hidupku dan keluargaku. Kemudian, menggantinya dengan kesengsaraan!”

In lam takun ‘alayya ghodhobun fala ubali!” Ia mengajarkanku cara menghadapi derita. Tak peduli apa yang terjadi padaku, ya Tuhan, asalkan Engkau tak marah kepadaku! Meskipun dunia bekerjasama menipuku habis-habisan, hingga yang benar tampak salah, dan yang salah tampak benar. “Tenanglah, Tuhan Maha Pembuat Makar kepada yang memakariNya. Suatu hari, kau akan melihat matahari kemerah-merahan terbit dari ufuk timur. Maka bergembiralah menjalani hari-harimu yang sekarang!” Ia menguatkan harapanku.

“Lalu, ke mana kita akan melangkah?”, tanyaku.

“Ke tempat tujuan sejati. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

“Bagaimana caranya?”

“Pertama-tama, belajarlah menjadi manusia.”

Teringatlah aku akan diriku selama ini. Sebutir debu yang berjalan di atas dengan mendongakkan kepala, semacam orang buta yang menyangka telah memahami rupa seekor gajah hanya dengan memegang ekornya saja. Aku terbatas pantas disebut makhluk manusia, belumlah pantas disebut insan, yaitu manusia yang menggunakan otak dan akalnya, juga hati dan keadilannya.

“Jika kau sudah menjadi insan manusia, teruslah berjalan untuk menjadi abdullah, dan pada puncaknya khalifah Allah.

Bocah Angon menjelma menjadi Guru Kehidupan. Bersamanya, aku meluruskan urat-urat pikirku yang selama ini terkilir, bengkok, dan terpelintir. Setiap lagu, kisah, lelucon, puisi yang kudengar darinya bukan sekedar pelipur lara atas carut-marut dunia, namun juga menenun sebuah jembatan yang membawaku menuju keharibaanNya. Sementara, dalam sendiri, ia menjadi Kawan dalam Renungan yang memutarbalikkan otak awamku. Siapa mengira bahwa Tuhan pun “berpuasa”, dan kemerdekaan sejati dapat diraih ketika manusia menemukan batasan-batasan? Waktu benar-benar lekas berlalu bersamanya. Bunga-bunga harapan selalu mekar melalui kata-katanya; tentang masa depan yang lebih baik dan tentang keluasan ampunan serta kasih sayangNya.

“Simpanlah kunci-kunci ini meski kini kau tak memahaminya. Kelak, mereka akan membantu membuka pintu-pintu permasalahan hidup”, katanya.

Aku mengangguk patuh, pada saat yang sama, melihat sebuah cincin melingkar pada salah satu jemari tangannya. Sang Pewaris Cincin Pemersatu Nusantara.

Dulur, jangan berhenti di sini. Ayo!”

Seseorang menepuk pundakku. Disusul orang-orang berikutnya. Bahkan, ada yang menggandeng dan merangkulku. Aku memperluas jarak pandangku. Aku tak sendiri. Di sekelilingku, ada banyak manusia yang mengikuti Sang Guru Kehidupan dalam berbagai corak warna lahiriah dan batiniah.

“Guru Bangsa… Guru Bangsa…”, gumamku takjub.

Seseorang di sebelahku berbisik, “Dia Ngai Ma Dodera.

Aku, bersama lautan jutaan manusia yang kepalanya terbungkus warna bendera gula-kelapa Majapahit, putih dan merah, mengelilingi sebuah pohon. Ngai Ma Dodera. Di bawah pohon besar nan rindang itu burung-burung kecil membangun sarang-sarang. Aku ditarik oleh magnet ketentraman yang dipancarkannya. Aku dipikat oleh syair pujian burung-burung kepada Dia dan KekasihNya, diiringi melodi yang sama dengan lagu yang pernah dinyanyikan para leluhurku. Begitu sampai di bawah naungan kerindangannya, aku mendongak ke atas, menemukan kokohnya dahan-dahan pengetahuan langit yang menganakkan ranting-ranting menakjubkan ilmu kanthi laku, dan dirimbuni daun-daun kebijaksanaan yang membumi. Di bawah naungan pohon rindang itu, burung-burung bertengger takzim. Sementara keberadaanku serupa seekor kutu yang nunut di ketiak salah satu burung itu.

(Kandungan batin para Jannatul Maiyah Damar Kedhaton disarikan dan dinarasikan oleh Eryani Widiastuti)