Prolog Telulikuran DK Edisi #13 – November 2017 “Rembug”

Rembug, rapat, dan musyawarah sepertinya bolehlah mendapat pemaknaan yang sama. Atau paling tidak, ketiganya mirip dan serupa substansinya. Dalam rembug berlangsung proses tukar pendapat, saling menyelami dasar pemikiran, saling menjajaki landasan ide, sebagai jembatan untuk menemukan resultan berupa kesepahaman, lalu kesepakatan. Sebagai arena transaksi gagasan, rembug menyediakan ruang yang leluasa bagi sebuah komunitas untuk merayakan keragaman isi benak para pegiatnya. Dalam konteks ini, keterampilan meracik dan memasak gagasan hingga menghasilkan menu kesimpulan, sangatlah diperlukan. Tentu saja, nilai-nilai yang dianut-yakini bersama oleh sebuah komunitas, termasuk pertimbangan asas manfaat dan mudharat, menjadi payung utamanya.

Tak melulu pada relasi antar manusia, sebenarnya rembug juga layak diaplikasikan pada lingkup pribadi dalam melakoni hidup. Tak dapat dipungkiri, dialektika pencarian nilai sejati kehidupan terus berlangsung pada tiap diri manusia. Maka, dengan dan di dalam diri sendiri, kita pun perlu melakukan rembug.

Pada edisi Telulikuran yang telah kita lalui bersama, tentu kita masih ingat pesan Lik Hammad tentang “momentum jeda” dan “kesadaran akan batas”. Kalau kita cermat menangkap pesan itu, bukankah kita sedang ditawari wacana untuk rembug dengan diri sendiri? Sebelum melakukan suatu perbuatan, baik maupun kurang baik, kita sebenarnya diberi Tuhan suatu momentum jeda guna menimbang-nimbang perbuatan, perilaku, serta ucapan sebelum semuanya kita lakukan. Kemudian dalam proses “melakukan”, kita diberi lagi kesadaran akan batas: “Sing taklakoni iki apik apa ora, ya?” Mayoritas kita sangat mungkin pernah mengalami rembug pribadi semacam ini.

Lebih luas lagi, dari skala rumahtangga, kampung, desa, bahkan sampai negara, bukankah Rembug sangat dibutuhkan untuk kemaslahatan bersama? Karena jika sudah berhimpun, keputusan mengenai apa yang baik dilakukan haruslah lahir melalui kesepakatan bersama; sekali lagi, dengan mempertimbangkan faktor manfaat dan mudharat. Apakah hal seperti itu sudah atau akan terjadi pada rumahtangga, desa, dan negara kita? Silahkan sampeyans sendiri yang menilai.

Dulurs, dalam hitungan minggu, maka genaplah 1 tahun perjalanan kita, berhimpun dalam lingkaran yang bernama Damar Kedhaton. Maka, dengan kesadaran bahwa Damar Kedhaton adalah Kita, dengan semangat katresnan, payung istiqomah, dan tetap dalam waa ila rabbika farghab, mari hadir ber-rembug bareng dengan gembira, pada :

Jumat, 17 November 2017
Pukul 19.23 WIB
Dusun Geger Kulon RT.02 RW.01
Jalan Raya Iker-Iker Geger Ds. Iker-Iker Geger, Kec. Cerme, Kab.Gresik
(250 meter utara Balai Desa Iker-Iker Geger, sebelah barat jalan raya)