Reportase Telulikuran DK Edisi #14 – Desember 2017 Milad Satu Tahun DK “Manunggal” (2)

Foto : Hariadi (Dok. Progress)

Memasuki sesi tanya-jawab, Cak Rouf (Lamongan) menanyakan apakah boleh orang Islam memakai kata “sembahyang” untuk menyebut ritual sholat, sedangkan akar katanya berasal dari konsep agama lain. Selanjutnya Cak Hilmi (Lamongan) merespon penjelasan Gus Sabrang, bahwa dalam kerelaan seseorang pasti terdapat rasa percaya atau keyakinan. Pertanyaannya, di manakah letak keyakinan? Lalu misalnya, kita yakin “1+1=2”, apakah keyakinan tersebut bersifat ilmiah atau doktrin? Bagaimana jika sedari kecil kita diajarkan bahwa “1+1=10”? Bisa jadi “1+1” tidak lagi sama dengan “2”, melainkan sama dengan “10”. Maka, bagaimana syarat agar sesuatu bisa disebut ilmiah? Pertanyaan terakhir pada sesi pertama ini diajukan oleh Cak Robi (Menganti) mengenai cara memimpin diri sendiri.

Gus Sabrang menjawab dan mengelaborasi pertanyaan yang diajukan jamaah

Kebenaran yang Relatif dan Doktrin yang Berkesadaran
Menurut Gus Sabrang, pemakaian kata “sembahyang” atau “sholat” bukanlah hal fundamental, yang terpenting niatnya benar. Keduanya hanya istilah. Jika masih diburu benar-salahnya, kita perlu menyadari bahwa sesungguhnya kebenaran bersifat relatif, tidak absolut, kecuali Allah—yang hanya bisa dicapai dengan percaya (iman). Manakah yang benar, bumi bulat atau bumi datar, jawabannya tergantung perspektif masing-masing. Secara fisik, bentuk bumi tampak agak lonjong, tidak sepenuhnya bulat. Jadi, bumi lebih mendekati bentuk bulat dibandingkan datar. Tetapi jika kita bergerak mendekati kecepatan cahaya, maka bumi akan kelihatan datar. Begitu pula ketika jarak diukur menggunakan satuan meter, misalnya “10 meter”. Dalam lingkup “pengetahuan meter”, hasil ukuran tersebut benar. Tetapi jika pengetahuan kita telah sampai pada “pengetahuan sentimeter”, ukuran 10 meter tersebut menjadi salah. Sebab ada kebenaran yang lebih tepat/presisi, yaitu (misalnya) “10 m 20 cm”. Pada “pengetahuan milimeter”, “10 m 20 cm” adalah sesuatu yang salah, karena kebenarannya berkembang menjadi (misalnya) “10 m 20 cm 3 mm”.

“Semakin luas cakrawala perspektif kita dalam melihat sesuatu, semakin kabur batas antara benar dan salah. Maka, tanggung jawab kebenaran itu letaknya bukan pada realitas (apa yang benar/salah), melainkan terletak pada limitasi pengetahuan kita (seberapa jauh kebenaran yang kita ketahui),” kata Gus Sabrang. Jika pengetahuan kebenaran kita sampai pada ukuran 10, namun kita memakai standar kebenaran pada ukuran 8, maka kita sudah berlaku tidak jujur terhadap diri sendiri.

Menjawab pertanyaan mengenai letak keyakinan, Gus Sabrang mengupas singkat anatomi otak manusia, “Secara ilmiah, neokorteks (otak bagian luar) berfungsi untuk (memproses) bahasa, pertimbangan, sebab-akibat. Sistem limbik (otak bagian dalam) untuk (memproses) keyakinan/kepercayaan, emosi, yang nantinya berhubungan dengan detak jantung. Pada bagian dalam sistem limbik terdapat otak reptil yang berhubungan dengan rasa lapar, kemampuan bertahan hidup, dan seterusnya.”

Suasana Milad 1 Tahun DK di Gedung UPT SKB Cerme

Penjelasan Gus Sabrang selanjutnya bergulir ke topik “ilmiah dan doktrin”. Syarat ilmiah sederhana saja; prosesnya diceritakan, agar siapapun bisa mereplikasi (mengulangi) proses tersebut dan hasilnya sama. Misalnya “1+1=2”; hendak dihitung menggunakan apel, gelas, uang, atau apapun, hasilnya tetap sama, yaitu “2”. Sedangkan doktrin yang selama ini sering dianggap negatif, ternyata menurut Gus Sabrang, bisa juga berfungsi positif bagi kehidupan manusia. Lebih penting lagi, kita harus membangun kesadaran tentang asal-muasal keputusan yang kita buat atau kebenaran yang kita yakini, apakah berasal dari doktrin atau dari hasil berpikir mandiri. Seandainya memang berasal dari doktrin, maka tahap berikutnya adalah memikirkan ulang apakah doktrin tersebut akan kita teruskan atau kita ganti dengan hasil pemikiran kita sendiri. Inilah kedaulatan berpikir yang diajarkan Maiyah. Semua informasi, baik bersifat doktrin maupun ilmiah, harus kita olah.

“Jangan mudah menerima sekaligus membuang informasi. Simpan dan buktikan sendiri informasi tersebut. Jika informasi terbukti benar, maka pengetahuan kita bertambah. Jika ternyata tidak benar, silakan buang informasinya,” pesan Gus Sabrang.

Mengenai memimpin diri sendiri, Gus Sabrang menekankan bahwa Islam telah menggelar konsep tersebut secara luar biasa. Menjaga/mengelola nafsu, mengelola tidur, berdisiplin sholat dan puasa adalah sebagian kecil workshop atau latihan untuk mengenal dan memerintah (memimpin) diri sendiri yang diajarkan Islam. Bukankah dalam Islam, kita diperintahkan untuk menjadi khalifah, termasuk meng-khalifah-i diri sendiri?
“Setahu saya, sumber paling ‘sip’ tentang memerintah (memimpin) diri sendiri adalah workshop-workshop dan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Kanjeng Nabi,” tandas Gus Sabrang.

Lik Ham menanggapi pemaparan dari Gus Sabrang dan jamaah

Lik Ham sependapat dengan Gus Sabrang bahwa syarat menjadi pemimpin adalah bersedia untuk dipimpin. Sayangnya, ketika ditanya dipimpin siapa, orang sering terjebak pada sosok/simbol yang tampak secara fisik saja. Sama seperti pemahaman kita tentang Nur Muhammad, juga tentang Dajjal. Umumnya kita memahami Dajjal sebagai makhluk fisik bermata satu, padahal keterangan tersebut merupakan amsal. Sebagai contoh, Dajjal bisa dikalahkan oleh Nabi Isa. Apakah artinya? Nabi Isa adalah simbol kasih sayang dan kebersamaan secara terus-menerus, sedangkan Dajjal mewujud dalam perilaku manusia gemar berdebat, ngotot, dan lain-lain. Bagaimana dengan Nur Muhammad? Nur Muhammad adalah simbol orang-orang yang rela, ikhlas, dan selesai hatinya.

Senada dengan Gus Sabrang, Lik Ham pun mengatakan jika kebenaran itu relatif, dan bisa menjadi salah jika tidak diletakkan pada tempatnya. “Ada seorang penumpang bus umum yang melaksanakan sholat ketika bus berhenti sejenak di toilet pom bensin. Sholat adalah hal yang benar. Tetapi menjadi hal yang salah karena momentum (sholat-nya) tidak tepat. Akhirnya, para penumpang lain kesal menunggu karena si penumpang tadi tidak kunjung selesai sholat,” Lik Ham memberi contoh.

Kemudian, Lik Ham menyambungkan konsep hubungan segitiga dan manunggal. Dalam Maiyah, hubungan segitiga terjadi antara manusia-Allah-Rasulullah. Lantas, bisakah kita menemukan bentuk-bentuk hubungan segitiga dalam diri pribadi atau dalam keseharian, agar diri ini bisa manunggal dengan perbuatan? Misalnya dalam memancing, kita membutuhkan “segitiga” orang yang memancing-alat pancing-apa yang dipancing. Dalam hal menulis, kita membutuhkan “segitiga” penulis-alat tulis-apa yang ditulis.

Lik Ham, Gus Sabrang dan Pak Kris saling melengkapi dalam mengelaborasi tema “Manunggal”

Pak Kris Adji merespon bahasan “segitiga” Lik Ham dari sisi arsitektur, bahwa sejarah kebudayaan manusia telah membuktikan segitiga sebagai konstruksi paling kokoh. Konstruksi segitiga telah dikenal sejak jaman Yunani, digunakan dalam pembangunan piramida, dan masih dipakai hingga sekarang. Oleh sebab itu, jika kita memakai konsep Segitiga Cinta Maiyah, maka kita akan menemukan cinta yang sejati.

“Tapi kenapa Allah memberi contoh konstruksi kubus lewat bangunan Ka’bah, sementara manusia telah membuktikan bahwa konstruksi paling kokoh adalah segitiga?” Pak Kris Adji menggelitik benak jamaah.
Selain mengupas konsep segitiga, Pak Kris Adji melengkapi pembahasan manunggal dari sudut pandang jalinan hubungan suami dan istri. Seseorang yang disebut suami pasti memiliki istri, begitu pula sebaliknya. Jadi hakikatnya, suami-istri adalah sebuah bentuk ke-manunggal-an dan saling melengkapi. Namun bila keduanya bertengkar terus-menerus, biasanya karena keinginan-keinginan pribadi, maka ke-manunggal-an rumahtangga pun runtuh.

Platonic Solids : 5 Bentuk Dasar yang Menyusun Dunia

“Cak Rifqi mempersembahkan sebuah puisi “Jalan Sunyi” karya Mbah Nun

Pukul 00.25 WIB, suasana diskusi disegarkan oleh Cak Rifqi yang mempersembahkan sebuah puisi “Jalan Sunyi” karya Mbah Nun, lalu dirajut dengan lagu “Belum Ada Judul” milik Iwan Fals yang ditampilkan oleh Cak Yusuf dkk. Tiupan harmonika dan petikan gitar menaburkan bumbu semangat bagi para jamaah untuk terus terjaga, melanjutkan diskusi, meskipun hari telah berganti. Suasana semakin semarak saat Gus Sabrang menyanyikan “Sebelum Cahaya” dan “Cinta Bersabarlah”.

 

Sebelum masuk ke sesi tanya jawab berikutnya, Gus Sabrang menanggapi pertanyaan yang dilempar Pak Kris Adji mengenai konstruksi segitiga versus konstruksi kubus Kakbah. Jika dipecah-pecah secara matematis, kesatuan (ke-manunggal-an) jagat tiga dimensi yang kasat mata ini dapat menghasilkan 5 kemungkinan bentuk dasar yang disebut Platonic Solids, yaitu tetrahedron (berasal dari bentuk segitiga), hexahedron (cube/kubus) (konstruksi yang digunakan Ka’bah), octahedron, dodecahedron, dan icosahedron.

“Jika kamu mempelajari banyak kebudayaan pasti nanti akarnya ke situ (Platonic Solids). Misalnya, (kebudayaan) Yahudi terhubung kepada ‘tetrahedron’ dan ‘octahedron’, sehingga muncullah Bintang David, Markabah, dan seterusnya. (Kebudayaan) Cina dengan ilmu angkanya, Pa Kua, bisa dikoneksikan kepada ‘icosahedron’ dan ‘dodecahedron’. Islam koneksinya dengan kubus. Roma (condong) ke ‘icosahedron’. Kalau Jawa, saya belum mendalami. Hari-harinya bisa masuk ke ‘icosahedron’, dan hitung-hitungannya bisa masuk ke ‘dedocahedron’.”

Ketika kesempatan tanya-jawab dilemparkan ke forum, beberapa jamaah menyambut antusias. Cak Ketang (Jombang) menceritakan pengalamannya bertemu makhluk gaib, serta menyampaikan keinginannya untuk memahami moksa dan sukma nguntal raga. Cak Anwar (Mojokerto) menanyakan dua hal. Pertama, mengenai keterkaitan antara pilihan yang disediakan Allah dan kerelaan atas ketentuanNya. Kedua, tentang sikap menghadapi perbedaan agama yang dipersepsikan sebagai “berbagai jalan yang berbeda, tetapi satu tujuan”. Cak Mahmud (Sidoarjo) menanyakan bagaimana cara mengajarkan cita-cita kepada anak. Terakhir, Cak Supriyanto (Cerme) meminta tips supaya sebuah keluarga bisa menyatu meskipun berbeda pendapat.

Di sela elaborasi tema, Gus Sabrang mencairkan suasana dengan lagu-lagu LETTO diiringi musik dari Cak Yusuf.

Cita Agni dan Dinginnya Amsal -273,2ºC

Untuk pertanyaan Cak Ketang, Gus Sabrang berpesan, sebaiknya kita berendah hati dalam menyikapi fenomena-fenomena yang tampak aneh atau luar biasa. Siapa tahu, fenomena-fenomena tersebut sebenarnya tidak semengerikan yang kita sangka. Selanjutnya, Gus Sabrang membahas pertanyaan Cak Anwar, “Kerelaan adalah kuda-kuda ketika menentukan pilihan. Ketika memilih, kita menghitung resikonya (sebab-akibat). Kalau sudah memilih resiko mana yang rela ditanggung, baru kemudian kita membuat pilihan.”

Mengenai pertanyaan tentang perbedaan agama, Gus Sabrang menyarankan untuk tidak menyalahkan juga tidak membenarkan, sesuai prinsip Alquran “bagiku agamaku, bagimu agamamu”. Malah yang lebih penting, kata Gus Sabrang, adalah bagaimana perilaku kita dalam sesrawungan. Sebagai contoh, berdakwah dengan cara berteriak-teriak memaksakan kebenaran pribadi tidak akan membuat orang bersimpati terhadap pesan yang kita bawa. Namun bila kita menjadi orang yang menyenangkan dalam pergaulan dan bisa menginspirasi, maka orang-orang akan menelusuri akar kita, dan akhirnya menemukan bahwa kebaikan tersebut berasal dari sistem keyakinan yang kita anut. Harus diingat bahwa setiap orang sedang melakukan perjalanan mencari Tuhan. Maka, daripada kita menjadi “pengganggu” dengan memaksakan kebenaran versi kita, lebih baik temani saja hatinya.

“Menurut bahasa Sansekerta, ‘cita’ berarti ‘berpikir’, bukan ‘sesuatu yang dituju’ atau ‘awang-awang’.” Sebelum menjawab pertanyaan mengenai cita-cita, Gus Sabrang mengajak jamaah mengupasnya terlebih dahulu.

Gus Sabrang menjelaskan, daya pendorong hidup manusia adalah api. Pertama, api di area sekitar kemaluan. Sumber kebahagiaannya adalah hal fisik/mendasar (nafsu-nafsu dasar), seperti makanan, harta, kekuasaan, kegagahan, dan kehormatan. Kedua, api di area kepala (cita agni). Sumber kebahagiaannya adalah ilmu, pemahaman, belajar, berpikir. Tak heran jika ada orang yang belajar atau bekerja hingga lupa makan, karena memang itulah sumber kebahagiaannya. Ketiga, api telah menyatu dalam seluruh bagian tubuhnya dan menyambung dengan sukmanya (elemen). Jadi, seluruh tubuhnya adalah api. Hal apapun akan menyambungkan dirinya dengan Tuhan dan membuatnya bahagia meski tanpa alasan. Inilah yang disebut sukma nguntal raga.

“Saya tidak pernah mengajarkan cita-cita apapun kepada anak saya,” Gus Sabrang melanjutkan pembahasan. “Saya hanya ingin dia menemukan dirinya sendiri. Saya mengajak dia nikmat dalam berpikir, nikmat dalam mencari, nikmat dalam hidup berpengalaman, dan mencari hakikat hidup. Biarkan anak menyimpulkan sendiri melalui diskusi. Orangtua hanya menggiring. Biarkan anak menjadi seperti yang Tuhan maksudkan, bukan menjadi seperti yang orangtua maksudkan.”

Jamaah merespon paparan tema dan mengajukan pertanyaan

Jika orangtua mengajarkan cita-cita kepada anak, pastilah itu bukan cita-cita sang anak, melainkan cita-cita atau angan-angan sang orangtua. Lebih baik, hidupkan cita agni atau kenikmatan berpikir dalam diri sang anak melalui diskusi, permainan tebak-tebakan, dll. Jika taman bermain sang anak adalah berpikir, maka dilepas di mana pun, ia akan belajar. Anak akan menjadi orang yang lebih baik daripada yang dibayangkan orangtua. Di sini, orangtua berperan sebagai teman diskusi yang lebih berpengalaman.

Kini, giliran Gus Sabrang menjawab pertanyaan mengenai manunggal dalam keluarga. Dalam fisika, ada 2 jenis benda dasar, yaitu fermion (hal-hal yang tidak bisa berbagi tempat, kesatuannya memiliki limitasi; contohnya benda-benda yang ada sekitar kita) dan boson (sifatnya seperti cahaya, bisa menempati ruang yang sama. Contohnya laser; cahaya laser sangat banyak, tapi cuma menempati satu garis). Mengamati keberadaan dua benda dasar yang berbeda sifat tersebut, Gus Sabrang menyimpulkan bahwa pada level tertentu, kesatuan/manunggal itu tidak harus sama, tapi saling melengkapi untuk menjadi sebuah sistem yang bekerja sempurna. Untuk meraih harmoni, suami-istri tidak harus menjadi sosok yang sama, namun saling mengetahui kekurangan dan kelebihan satu sama lain, sehingga menjadi klop seperti kepingan puzzle. Meskipun tidak ada dua keping puzzle yang berbentuk sama, namun bisa saling melengkapi sehingga terbentuklah sebuah gambar yang utuh.

“Pada level berikutnya, jika fermion mencapai suhu yang sangat rendah (yaitu) -273,2ºC, semua bisa menjadi satu seperti cahaya, menjadi satu titik yang ‘nyawiji’.” Gus Sabrang menganggap fenomena tersebut sebagai sebuah amsal kehidupan. “Kalau kita sudah ‘adem/anyep’ semua—wahai jiwa-jiwa yang tenang, maka kita bisa menjadi satu dengan siapa saja tanpa harus disatu-satukan, karena sudah tidak ada pergolakan. Jagad Cilik dan Jagad Gedhe sudah tidak ada bedanya, tidak berjarak.”

Untuk menuju keadaan adem/anyep yang diistilahkan Gus Sabrang sebagai “pada suhu yang sangat rendah dan pada kesadaran aku yang sangat tidak”, jangan sampai ngoyo/stres. Sebab semakin kita bernafsu mencapainya, semakin tinggi pula “suhu” dalam diri. Maka, pesan Gus Sabrang berikut sangatlah tepat, “Rendahkan suhunya, ‘muthmainnah’-kan hatinya, selesaikan hatinya, rela; mengenal diri sendiri, menerima diri sendiri, termasuk menerima kesalahan diri sendiri. Semakin anda dingin, semakin tidak bisa disakiti. Itulah salah satu cara menuju amsal -273,2ºC.”.

Sinau Manunggal: Belajar untuk Pasrah dan Rela terhadap Kehendak Allah

Kehendak akar adalah tumbuhnya batang dan daun. Kehendak batang adalah tumbuh memanjang, dan tumbuhnya dahan serta daun. Dan ke-manunggal-an dari semua kehendak tersebut adalah munculnya buah. Tetapi fase kehidupan tidak berhenti di situ. Nantinya, sang pohon juga akan mengalami fase tumbang. Demikian pula kehidupan manusia terdiri dari fase-fase, atau rokaat—jika memakai istilah dalam sholat. Setiap rokaat kehidupan harus dihayati dan dijalani dengan sungguh-sungguh.

Lik Ham mengaitkan penjelasan di atas dengan pengalaman Cak Ketang bertemu fenomena gaib, “Ketika ‘sampeyan’ melihat itu tadi (makhluk gaib), nikmati saja (peristiwanya). Jangan terburu-buru membayangkan atau berpikir atau merekayasa yang macam-macam. Kalau adanya tempe ya nikmati tempe, jangan membayangkan makan tahu, bebek, atau ayam. Siapa tahu dengan menikmati dan meresapi tempe, anda dipertemukan Allah dengan wujud yang lain lagi. Seperti yang dikatakan Mas Sabrang tadi, ‘sinau’ rela/ikhlas. Jika bertemu makhluk gaib, disapa saja dengan ‘sholawat’. Tidak ada makhluk yang tidak ‘sungkan; dengan Kanjeng Nabi.”

Kembali pada pembahasan manunggal, Pak Kris Adji menggunakan perspektif seni rupa, melalui penggambaran interaksi antara warna kuning dan biru, “Ketika kedua warna ini didekatkan, muncullah garis batas (tidak menyatu). Tetapi manakala sebagian warna kuning dan biru menyatu, dia akan menjadi warna hijau. Dia (penyatuan warna) tidak biru, juga tidak kuning, tetapi memiliki unsur kuning dan unsur biru. Demikian pula hakikat ‘manunggal’.”

Semula, contoh interaksi titik-garis-ruang juga digunakan sebagai alat bantu memahami “manunggal”. Eksistensi garis, kata Pak Kris Adji, merupakan perwujudan dari keberadaan titik-titik yang berdekatan. Selanjutnya, garis-garis tadi bekerja sama membentuk bidang, dan kemudian bidang-bidang itu manunggal membentuk ruang. Sayangnya, manusia tidak terbiasa menghargai hal kecil dan hal yang bersifat asal-usul. Kebanyakan manusia lebih menghargai ruang daripada titik, lebih menghargai raga daripada sukma.

Cak Rahmat menambahi pemaparan Gus Sabrang

Berikutnya, Cak Rahmat urun rembug, menyibak perbedaan rela dan pasrah seperti yang pernah disampaikan Mbah Nun, “Rela itu kalau kita sudah ketemu dengan barangnya (ketentuan Allah). Pasrah adalah ketika kita menyerah terhadap takdir/ketentuan Allah yang belum diketahui dan belum terjadi. Pasrah inilah yang menyebabkan kita ‘manunggal’ dengan Allah.”

Malam bergeser menuju waktu Subuh. Diskusi bergulir menuju titik akhir. Kesempatan interaksi yang diberikan moderator disambut Cak Irul dengan pertanyaan makna simbol segitiga (segitiga Penrose) pada backdrop panggung. Lalu, disusul pertanyaan Ning Wiwid tentang keseimbangan antara doktrin positif dan ruang dialektika dalam mendidik anak.

Pak Kris menerangkan bahwa simbol segitiga tersebut memang merupakan ilusi geometri. Ia adalah bidang yang memiliki kesan ruang, tetapi bukan merupakan ruang. Gus Sabrang malah balik bertanya, kenapa ada segitiga? Tanpa menunggu respon, Gus Sabrang menjawabnya sendiri, “Karena ada batas yang membentuk segitiga tersebut. Jika tidak ada batas, maka tidak ada segitiga. Jadi, kunci keberadaan adalah batas. Tapi, banyak yang melupakan yang sebenarnya paling penting adalah bidang gambar di mana segitiga itu berada.”

Topik segitiga membawa diskusi mengalir ke topik batas

Mbak Wiwid merespon dengan pertanyaan tentang cara menyeimbangkan antara doktrin positif dan ruang dialektika dalam mendidik anak

— yang  anehnya malah meluas lewat contoh-contoh Gus Sabrang. Contoh-contoh tersebut bercerita betapa terbatasnya diri manusia, mulai dari keterbatasan persepsi dimensi manusia yang hanya sampai jagat 3 dimensi, keterbatasan penglihatan warna manusia dibandingkan mata burung, belum lagi keterbatasan indra peraba/kulit manusia, dan lain-lain. Tetapi, kata Gus Sabrang, manusia Jawa berhasil menemukan persambungan dengan alam semesta, sehingga ia mampu menembus dimensi dan batasan-batasan umum. Sebagai contoh, manusia Jawa mampu memanfaatkan energi panas di bawah kulit ari untuk membuat gamelan dan gong dengan cara menekan-nekan logam menggunakan tangan telanjang (tanpa alat lain).

 

“Jadi, bagaimana memahami dimensi di atas 3D? Gunakanlah koordinat ‘ilmu rasa’. Bagaimana caranya? Yaitu dengan membangunkan sensor/indera yang belum ‘wungu’ (bangun) yang terletak di bawah kulit ari. Caranya, endapkan hati, merasakan ‘rasa’ pada tiap titiknya.”

Penjelasan Gus Sabrang yang meluas ke dimensi 3D

Terakhir, Gus Sabrang menceritakan pengalamannya mendidik anak untuk menjawab pertanyaan Ning Wiwid. Ada beberapa macam cara berinteraksi dengan anak. Penggunaannya harus benar-benar dipertimbangkan. Misalnya, untuk menyampaikan pesan yang tidak fundamental, pakailah ekspresi yang lebih santai. Sebaliknya, jika perlu menyampaikan pesan yang fundamental, pasanglah muka serius. Tanpa membentak, pesan tersebut bisa tersampaikan, karena anak dapat membaca ekspresi orangtua berdasarkan pengamatannya terhadap kebiasaan orangtua. Ketika bermaksud memberi ruang bagi anak untuk berpikir sendiri, maka tidak perlu memasang muka serius. Sambil sedikit bercanda juga tidak mengapa.

Pesan Gus Sabrang, gunakanlah berbagai cara komunikasi dengan anak secara seimbang; ada komunikasi muka (ekspresi), ada komunikasi verbal, dan ada komunikasi rasa. Contoh komunikasi rasa; ketika orangtua takut terhadap sesuatu, anak ikut merasa takut terhadap hal yang sama. Kegelisahan yang dirasakan seorang ibu biasanya nyambung kepada menurunnya kesehatan sang anak, terutama jika masih bayi. Jadi, ada keterikatan hati antara orangtua-anak yang bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi. Suatu hari nanti, anak akan mampu memahami cara komunikasi orangtuanya, sehingga orangtua tidak perlu terus-terusan “menggunakan mulut” dalam mendidik anak. (wid/ddk)

Lik Ham memimpin doa dan menutup acara Milad 1 Tahun Damar Kedhaton