Prolog Telulikuran DK Edisi #17 – Maret 2018 “[BUKAN] Generasi Cangkir”

 

Tahqiq: “Manusia itu keberadabannya adalah berjalan, bergerak, mencari, bekerja, berdoa, mencoba menemukan. Bukan dikasih tahu, disuguhi, dikasih barang jadi, dan tinggal mengkonsumsi”.

(Dikutip dari tulisan Simbah dalam Daur I-249; dapat dibaca di https://www.caknun.com/2016/bukan-generasi-cangkir)

Sebagian besar dari kita—orang Nusantara—sedikit/banyak tentunya memiliki pengetahuan mengenai peradaban leluhur kita. Dari buku-buku, cerita-cerita rakyat yang dituturkan sebelum tidur oleh kakek-nenek atau bapak-ibu kita, juga dari kisah-kisah yang disampaikan banyak ulama, perlahan terkuaklah “kehebatan” para leluhur dalam berikhtiar—mulai dari aspek sosial, politik, sampai ruhani. Bukti-bukti arkeologisnya pun masih bisa kita kita saksikan bersama karena cukup terawat sampai sekarang. Bukti-bukti non benda yang terekam dalam budaya—baik sosial maupun spiritual—juga masih dapat kita rasakan mewarnai kehidupan.
Maka tak ada salahnya jika kita mundur sejenak untuk melesat jauh ke depan sebagaimana cara kerja panah dan busur, merenungkan jejak-jejak peninggalan masa silam. Merenungkan bagaimana dan dari mana istilah “Sang Hyang Widhi”, “Sang Hyang Wenang”, “Sang Hyang Tunggal”, dsb. Merenungkan bagaimana Borobudur yang diperkirakan didirikan pada abad 8-9 Masehi masih mampu berdiri kokoh dan megah hingga sekarang. Lalu mengapa dalam kurun berpuluh-puluh tahun, meskipun terjadi berkali-kali pergantian pemimpin, proses pembangunan Borobudur tetap dijalankan? Mungkinkah Borobudur dibangun atas motif-motif yang lebih langgeng—motif ruhani misalnya—daripada sekedar program pembangunan kabinet pemerintahan tertentu? Pernahkah pula kita merenung bagaimana para leluhur menjalin hubungan dengan alam? Mereka sangat peka dan titen terhadap situasi dan kondisi alam tempat mereka melangsungkan hidup, sehingga lahirlah berbagai macam pengetahuan dan ketrampilan yang sayangnya dianggap sekedar klenik, hanya karena ilmu modern belum mampu menembus misterinya.

Sepenggal susunan kalimat di atas adalah pengingat betapa besar dan hebatnya peradaban leluhur Nusantara dalam berikhtiar, mencari, dan berusaha. Bukankah dalam diri kita ini mengalir darah mereka—para leluhur Nusantara? Lantas, apakah yang sudah kita perbuat, minimal untuk diri kita sendiri? Maka dari itu, marilah berhimpun, bertukar pendapat, bercerita, dan mencoba mentaddaburi Daur I-249 tersebut dengan riang gembira. Berpayung istiqomah dengan ngugemi “wa laa tansa nashiibaka minad-dunya”, kita melingkar bersama di Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi ke-17, pada :

Balai Dusun Randu Songo, Ds. Kesamben Kulon, Kec. Wringinanom, Gresik
Sabtu, 10 Maret 2018
Pukul 20:23 WIB