Prolog Telulikuran DK Edisi #18 – April 2018 “Ngreksa Wasita Sinandhi”

Dalam hidup ini, informasi adalah sesuatu yang sangat penting. Dari informasi, kita yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu tentang sesuatu. Pernahkah Sampeyans merasa atau bertanya-tanya dari mana asal diri ini? Kenapa harus ada “diriku”, dan untuk apa “diriku” diciptakan? Sebagai manusia, mayoritas dari kita hampir pasti mempunyai pertanyaan seperti itu. Karena, pada skala lingkaran terkecil, dari titik inilah kita memulai proses untuk menjadi manusia yang berdaulat. Dari titik “diriku”, kita memulai pencarian dan menemukan berbagai jalan hidup yang nyaman dan sesuai dengan karakter kita masing-masing. Melalui berbagai jalan hidup itu pula, kita bergerak mencari tahu asal-usul “diriku” yang sesungguhnya.

Lingkaran yang lebih besar dari “diriku”, seperti lingkup rumah, kampung, desa, kota, negara sampai dunia, adalah wilayah eksternal. Lingkaran sekitar kita ini pasti juga mempunyai asal-usul. Misalnya, kenapa dan bagaimana suatu desa itu terbentuk, siapakah para pencetusnya, dan apa kearifan budayanya. Tetapi dalam beberapa dasawarsa ini, informasi yang bersifat asal-usul, informasi peninggalan nenek moyang kita, semakin tergerus dan tertutupi oleh kehadiran media-media era digital, semacam media sosial dan sejenisnya. Sehingga kita semakin sulit melacak asal-usul diri dalam skala internal maupun eksternal. Informasi yang berseliweran di dunia maya semakin hari hanya berisi pembodohan publik, adu domba antarpihak, dan berjuta hal lain yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Sebagai positioning untuk menyikapi kahanan tersebut, Ngreksa Wasita Sinandhi mungkin dapat digunakan. Dari segi arti, “Ngreksa” adalah ‘menjaga’, “Wasita” adalah ‘pitutur‘ atau ‘nasihat‘, dan ‘Sinandhi‘ adalah ‘tersamarkan’. Kalau kita peka, Wasita Sinandhi sebenarnya pernah kita alami. Dalam kehidupan, Tuhan sering mengingatkan kita dan memberi petunjuk melalui peristiwa atau pertanda, walaupun terkadang tidak logis. Wasita Sinandhi sering juga terkandung dalam bimbingan seorang mursyid kepada para santrinya dengan metode yang berbeda-beda.

Maka, bagaimana Sampeyans menyikapi kahanan sekarang ini? Juga bagaimana perspektif Sampeyans tentang, Ngreksa Wasita Sinandhi?

Tetap berpayung istiqomah dan teguh pada wa-ilaa rabbika farghab, Mari hadir, berhimpun, dan bergembira di Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-18 yang, Insya Allah akan diselenggarakan pada :

MI Hidayatul Ulum, Dsn. Purworejo, Ds. Metatu, Benjeng, Gresik
Minggu, 08 April 2018
Pukul 19.23 WIB