Tinggalkan Gadgetmu. Ayo Bermain, Baca Buku, dan Melukis

Tinggalkan Gadgetmu. Ayo Bermain, Baca Buku, dan Melukis
(catatan acara Belajar Melukis Bersama, Gresik 11 Maret 2018)

Minggu siang 11 Maret 2018, cuaca Desa Siwalan Kecamatan Panceng Gresik, tak begitu terik. Mendung pun tak terlalu banyak menggantung di langit. Angin bertiup agak ramai namun tak kencang, membuat suasana Cindelaras Cafe ‘n art Gallery kian nyaman. Di tempat inilah Damar Kedhaton, simpul Maiyah Gresik, kembali menyelenggarakan workshop Belajar Melukis Bersama.

Belajar Melukis Bersama adalah salah satu perwujudan resonansi nilai-nilai Maiyah oleh Damar Kedhaton ke masyarakat. Pesertanya adalah anak-anak, namun demikian, nilai-nilai yang ditanamkan diharapkan juga dapat diambil buahnya oleh para orang tua.

Keceriaan peserta bersama Komunitas Anak Gresik dalam sesi dolanan

Workshop ini sudah kali keempat diselenggarakan oleh Damar Kedhaton, di tiga tempat berbeda. Cindelaras Cafe ‘n art Gallery mendapat berkah dijadikan tempat penyelenggaraan workshop ini untuk kedua kalinya. Yang membedakan dengan ketiga penyelenggaraan sebelumnya adalah partisipasi Komunitas Anak Gresik (KAG). Komunitas Anak Gresik adalah siswa-siswi lintas agama dari SMA sekabupaten Gresik yang bergabung untuk melestarikan budaya dolanan supaya tidak tergerus oleh perubahan zaman. KAG sendiri berdiri di bawah binaan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Gresik. Bukanlah sebuah kebetulan jika mantan Ketua KAG ini juga salah satu JM Damar Kedhaton.

Yang lainnya masih sama. Semangat berbaginya masih sama. Kemandirian penyelenggaraan juga masih sama. Keinginan untuk nandur sebanyak-banyaknya juga masih terjaga.

Format acara ini juga masih sama, tanpa undangan. Siapapun yang mau bisa ikut mengikuti Belajar Melukis Bersama, tanpa dipungut biaya. Mereka tinggal datang membawa peralatan melukis dan menggambar, dan pulang membawa benih-benih kebaikan.

Woro-woro perihal acara ini dilakukan sejak H-10 penyelenggaraan melalui web dan media sosial Damar Kedhaton. Total peserta yang hadir sekitar limapuluhan anak seusia playgroup hingga SD.

Keceriaan anak anak bersama Ibu Aliyah Hanim sebelum masuk sesi melukis

Dalam sesi awal yaitu dolanan, anak-anak ini dibagi ke dalam lingkaran-lingkaran kecil masing-masing beranggotakan lima hingga enam anak. Didampingi anak yang lebih besar seumuran anak SMA berseragam KAG, mereka tampak asik bermain dolanan tradisional. Ada yang asik bermain kelereng, ada yang bermain dakon. Kelompok yang beranggotakan anak-anak perempuan bermain bola bekel, sementara kelompok sebelah sana bermain gasing.

Kak Irul membersamai peserta saat sesi melukis

Seluruhnya menampakkan wajah gembira. Beberapa kali terdengar gelak tawa. Senyuman, teriakan, dan beragam luapan emosi terekspresikan. Interaksi yang “wajar dan manusiawi” benar-benar terbangun dan terasa. Para orang tua duduk sekitar turut mengamati. Mereka memang sengaja diajak “bekerjasama”. Sejak mula mereka memang sudah diwanti-wanti agar sementara waktu tidak memberikan gadget sepanjang anak-anaknya mengikuti acara. Gadget? Ya.

 

 

Jamak diakui, betapa kekurangtepatan dosis dalam menggunakan gawai telah merampas kewajaran pola relasi antar manusia, bahkan sejak anak-anak. Pemandangan anak-anak yang secara jasad berkumpul namun masing-masing asik dengan dunianya, makin menggejala. Jika fenomena ini dibiarkan, maka akan lahir generasi yang teralienasi dari lingkungannya. Kurang lebih demikian yang disampaikan oleh Thania, Ketua KAG saat mengawali acara. KAG memang telah rutin mengadakan event bermain bersama anak-anak dengan mengusung tema “Ayo Bermain, Tinggalkan Gadget-mu!”. Maka, ketika Damar Kedhaton mengajak berkolaborasi dalam acara Belajar Melukis Bersama, KAG menyambut positif. Tak tanggung-tanggung, lima belas relawan KAG dari berbagai wilayah di Gresik diterjunkan.

Serius namun santai, para peserta mengikuti sesi melukis

Ketika sesi bermain diakhiri dan berpindah ke sesi membaca buku, keceriaan di wajah anak-anak belia itu tak memudar, bahkan kian terpancar. Saat puluhan buku koleksi Rumba Nusantara (rumah baca yang dikelola Fauzi, pegiat DK) digelar di lantai kafe, seketika mereka serbu. Ada yang membaca sendiri, ada yang minta dibacakan orangtuanya, ada juga yang dibacakan oleh relawan KAG. Sungguh membahagiakan saat tampak relasi intim antara anak dengan buku.

Tibalah kemudian pada sesi utama, yakni melukis. Pada kesempatan ini, Kak Irul mengajak anak-anak

Para orang tua ikut mendampingi buah hati dalam belajar melukis

menggambar bunga matahari yang ditanam di pot. Dengan suasana yang fokus namun santai, tak terasa nyaris satu setengah jam dihabiskan anak-anak untuk menorehkan pensil dan crayon¬-nya di kertas gambar. Mayoritas dari mereka terlihat enjoy mengikuti

panduan Kak Irul. Sebagian kecil tampak wajah agak murung melihat karyanya, dan sesekali mengajukan permohonan bantuan pada orang tuanya.

Giovanni Hariri, salah satu peserta berusia 10 tahun, menuturkan kesannya, “Kak Irul orangnya lucu. Saya jadi senang saat menggambar tadi”. Ketika ditanya apakah ia mengalami kesulitan, ia menjawab, “Mudah kok. Agak susah sih tadi pas menghilangkan ketombe-nya”.

 

Proses Seleksi hasil melukis para peserta oleh Kak Irul

Ketombe? Bagaimana bisa ada ketombe di kertas gambar? Rupanya ketombe yang dimaksud adalah titik-titik putih yang terlihat saat warna krayon tidak merata. Kak Irul mendefinisikan hal ini dengan istilah yang menyenangkan bagi anak-anak.

Bukan hanya anak-anak saja yang merasakan kegembiraan. Iis Rosyidah yang hadir mengantarkan keponakannya turut memberikan komentar positif, “Saya mengamati keponakan saya tadi hampir putus asa, maunya ngajak pulang aja melihat gambarnya tak sebagus teman-temannya. Maklum, dia memang mudah minder. Tapi gak papa, ini kesempatan bagus buat dia belajar, hehe..”.

 

 

Para Juara dalam Workshop Belajar Melukis Bersama ke-2

Perihal pilihan obyek gambar, Kak Irul memiliki pertimbangan tersendiri. “Secara teknik, ini agak lebih rumit dibanding sesi pertama pada bulan September yang lalu yaitu menggambar buah-buahan, tapi saya yakin masih bisa terjangkau oleh anak-anak”, jelasnya saat ditemui usai acara, “selain itu, saya juga berharap anak-anak terdorong untuk mencintai tanaman, dan mau menanam. Sebagaimana dhawuh Mbah Nun, nandur !”, ia menambahkan.

 

 

 

Apakah benih tanaman yang disebarkan ini kelak akan berbuah? Tidak ada yang tahu, kewajiban kita sebagai manusia adalah berusaha sebaik mungkin, memberikan sebaik mungkin. Tapi dari apa yang dituturkan Panji Aulia, salah satu peserta, bisa memberi semangat bagi dulur-dulur di Damar Kedhaton untuk terus menanam, “Saya puas, gambar saya bagus. Tadi games-nya juga seru. Saya pengen ada acara ini lagi”.

Segala sesuatu yang menggembirakan dan membahagiakan memang selalu dirindukan kehadirannya.

(redaksi Damar Kedhaton)
*) pernah dimuat di BMJ Edisi April 2018