Krisis Lingkungan & Relativisme Dosa

Krisis Lingkungan & Relativisme Dosa

(Refleksi Hari Bumi)

Selama berabad-abad manusia melihat “dosa” seperti barang jadi yang bentuk dan spesifikasinya sudah final dan pasti. Kita cenderung beranggapan bahwa yang masuk klasifikasi perbuatan dosa itu hanya yang tertulis secara ‘resmi’ di kitab suci, yang populer di buku-buku fiqih atau yang jamak dibahas oleh para ustadz dan kyai; kalau sudah di luar itu maka (konsep) dosa menjadi kabur, kurang pasti, dan kadar/nilai dosanya turun. Membunuh seseorang (tanpa alasan yang dibenarkan) adalah dosa besar, tetapi membuang jutaan ton limbah beracun ke sungai tidak kita anggap sebagai dosa besar, padahal itu bisa saja membunuh siapapun yang menggantungkan hidupnya dari sungai. Kita mungkin melihat bahwa mencuri uang 10ribu rupiah dari kotak amal masjid lebih berdosa dan lebih jelas hukumnya daripada ‘mencuri’ hak hidup sehat dari masa depan anak-cucu kita sendiri maupun anak-cucu orang lain: membabat habis hutan, membuang ribuan kubik sampah ke laut, dan membakar jutaan ton batu bara 24 jam non-stop sepanjang tahun. Dan sekarang masalahnya sudah menjadi sangat rumit karena kita semua punya andil dalam “dosa kolektif” ini!!

Gambar : manipulasi dari http://kids.pplware.sapo.pt/imagens/15-imagens-que-dizem-muito-do-estado-de-saude-do-planeta-terra/

Sesungguhnya,manusia tak pernah bisa lari dan bersembunyi dari perbuatannya. Jasadnya boleh mati jadi tanah, tetapi perbuatannya tetap ada, tidak kemana-mana. Manusia meninggalkan ‘jejak’ dalam setiap perbuatannya. Seandainya Baginda Rasul Muhammad SAW masih hidup saat ini, mungkin beliau akan bertutur tentang “dosa jariyah” sekaligus peringatan kepada umat manusia karena telah lalai dan abai hingga tanpa sadar terjerumurus ke dalam pusaran dosa kolektif yang menyeretnya menuju kebinasaannya sendiri.

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zholim dan amat bodoh.” (QS. al-Ahzab [33]: 72).

Mohammad Shofie
Jamaah Maiyah Damar Kedhaton, tinggal di Cerme, Gresik.