Prolog Telulikuran DK Edisi #19 – Mei 2018 “Manipulasi Kebenaran”

Kebenaran adalah hal yang bersifat relatif. Merujuk pada konsep Mbah Nun, kebenaran memiliki tiga tingkatan kualitatif yang didasari parameter kuantitatif. Pertama adalah kebenaran personal (benere dhewe). Kedua adalah kebenaran bersama (benere wong akeh). Dan ketiga adalah kebenaran Tuhan (kebenaran yang sejati)–kebenaran yang paling tinggi kualitasnya.

Sebagai manusia dengan begitu banyak keterbatasan, kita tidak bisa mengaku atau menganggap diri kita yang paling benar mengenai sesuatu atau pun dalam banyak hal. Apalagi ketika berhimpun secara komunal di masyarakat, kita tidak bisa mengambil keputusan dengan memaksakan kebenaran kita sendiri. Apa yang seharusnya dicari dan terus diusahakan adalah kebenaran bersama, karena sudut, sisi, dan jarak pandang setiap orang pasti akan berbeda.

Namun dalam konstelasi politik di negara kita, kebenaran terkesan seperti lelucon. Setiap momen pemilihan umum tiba, atau tahun politik, kerap kita jumpai calon-calon wakil rakyat/pemimpin saling adu kebenaran, serta menebar janji. Para simpatisan dan pendukungnya saling hujat di media sosial, memanipulasi kebenaran agar sang calon pujaan nampak begitu sempurna tanpa kekurangan dan dipoles sedemikian rupa agar dapat meyakinkan rakyat untuk memilih. Seperti inikah demokrasi?

Maka, demokrasi memang sangat rentan untuk dimanipulasi kebenarannya, tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan banyak faktor untuk menyangga. Faktor-faktor itu sangat mungkin ada pada kebenaran sejati, kebenaran dari Tuhan. Lantas, bagaimana cara mengetahui kebenaran sejati? Bagaimana tutorialnya? Mari kita elaborasi bareng dalam diskusi tema “Manipulasi Kebenaran”. Atau barangkali sampeyans mempunyai interpretasi yang berbeda?

Yuk, kita sinau bareng dengan riang gembira di Majelis Ilmu Telulikuran edisi yang ke-19. Insya Allah akan diselenggarakan pada :

Selasa, 08 Mei 2018
Pukul 19.23 WIB
di Desa Suci, Jl. KH. Syafi’i 108 Suci, Manyar-Gresik