Reportase Telulikuran DK Edisi #18 – April 2018 “Ngreksa Wasita Sinandhi”

Juz 18 dideres secara bergantian oleh anggota remas Dusun Purworejo. Angka 18 sekaligus sebagai penanda bahwa Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton kali ini tiba pada putaran ke delapan belas. Sejak mula memang diniati demikian, satu juz dikhatamkan setiap mengawali Telulikuran. Jika meminjam istilah gerakan yang kekinian, maka bolehlah disebut OMOJ, One Month One Juz. Suasana musholla MI Hidayatul Ulum Dusun Purworejo Desa Metatu Kec. Benjeng pada minggu malam 8 April 2018 kian diliputi atmosfer khusyu’, ketika jamaah duduk melingkar melantunkan wirid-wirid maiyah dan sholawat nabi. Dipandu Cak Dedy dan Cak Huda, nyaris satu jam jamaah menghanyutkan diri dalam telaga katresnan pada Allah SWT dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana tradisi Telulikuran, beberapa “wajah baru” kemudian dipersilakan memperkenalkan diri. JMDK tentu bersyukur mendapati beberapa dulur dari luar kota Gresik menyempatkan mampir berbagi kegembiraan. Ada Cak Anang dari Gambang Syafaat (Semarang), Cak Qohar dari Serdadu Cinta (Bojonegoro), dan beberapa dulur dari Surabaya. Usai perkenalan, Cak Hanief (Ketua Remas) memberikan sambutan mewakili Kepala Dusun. Ia menyampaikan rasa bahagia atas terselenggaranya rutinan Damar Kedhaton bulan April ini di kampungnya. Ia berharap kelak DK diperjalankan mampir lagi di Purworejo.

Wirid dan Sholawat dalam Rutinan telulikuran edisi ke-18

Cak Teguh (moderator) kemudian mempersilakan Cak Gogon untuk mengantarkan jamaah memasuki sesi diskusi. Prolog dibabar singkat untuk memantik benak jamaah menghampiri tema “Ngreksa Wasita Sinandhi”. Cak Gogon membidik gejala generasi muda yang kian lupa pada asal usul historisnya, asing dengan wacana kearifan lokal, dan mudah terseret arus informasi yang remeh-temeh nan penuh hasut. Nasihat-nasihat leluhur yang harusnya dijadikan bekal melakoni hidup, semakin dijauhi. Kemalasan dalam melakukan pencarian, mental yang gamoh, dan kedangkalan bekal ilmu, membawa pada kesimpulan-kesimpulan prematur atas warisan para pendahulu semisal : suwuk dianggap syirik. Cak Gogon menegaskan di penghujung pemaparannya, “Ngreksa Wasita Sinandhi ini garis besarnya adalah di wilayah informasi. Bagaimana kita memverifikasi informasi itu menjadi yang benar-benar benar”.

Gayung bersambut. Respon pertama diberikan oleh Cak Ogah (warga Dusun Purworejo). Ia menuturkan kisah anak bayinya yang tiap malam menangis tanpa diketahui sebab musababnya. Si bayi menangis sambil memejamkan mata. Ia berinisiatif membawanya ke “orang pintar”, minta disuwuk, dan manjur. Anaknya tak lagi menangis. “Ngunu kok diarani syirik? Di sebelah mana syiriknya ya?,” tanya Cak Ogah.

Berikutnya Cak Ali Murtadho turut merespon tema. Menurutnya, “Ngreksa Wasita Sinandhi” secara harfiah bisa diartikan sebagai menjaga nasihat yang tersamarkan. Terhadap tema ini, ia teringat pada pesan Mbah Nun agar JM rajin mempelajari sejarah desa masing-masing. Untuk itu, bersama rekan-rekannya ia membangun komunitas peminat sejarah di Kecamatan Benjeng dan sekitarnya. Menurutnya, nama suatu wilayah mengandung penanda yang penting. Sebagai contoh, nama Dusun Purworejo bisa diartikan sebagai alas yang rame, pelopor. Memang terkenal bahwa warga Dusun Purworejo aktif mencipta hal-hal baru, yang kemudian diikuti oleh warga desa yang lainnya. “Namun, sebagai otokritik, upaya kreatif membangun hal yang baru ini tidak dibarengi dengan komitmen kuat dalam merawat dan melestarikan”, ungkapnya memungkasi.

Remaja Masjid DUsun Purowdadi Desa Metatu ikut dalam diskusi telulikuran edisi ke-18

Merespon apa yang disampaikan Cak Ogah, Cak Fauzi teringat pada dhawuh Mbah Nun bahwa syirik itu tidak terletak pada benda, tetapi terletak pada konsepsi atau cara pandang terhadap benda tersebut. “Awak dhewe pas sirah ngelu ngombe bodrex, dengan kesadaran bahwa bodrexlah yang memberikan kesembuhan, syirik juga namanya. Tawaran cara pandang dari Mbah Nun tersebut bisa membekali kita ketika melihat fenomena air ponari misalnya. Agar kita tidak kepreset mengambil kesimpulan”, ungkapnya. Perihal suwuk, ia teringat pada penjelasan Mbah Nun menjelang pagelaran teater “Mantra” yakni tiga gelombang doa-wirid-hizib. Cak Gogon kemudian menggarisbawahi, “di dunia modern ini, sesuatu yang tidak bisa dinalar secara logika, dianggap tak ada. Wasita yang sinandhi ini juga demikian nasibnya, kadang nalar logika kita belum menjangkaunya. Ayo terus digoleki”. Cak Fauzi kemudian mencoba membabar definisi Wasita Sinandhi dari literatur bahasa dan sastra jawa. Disebutkan banyak nasihat tersembunyi yang secara turun temurun dialirkan oleh masyarakat jawa, semisal : aja mangan ngarep lawang, yen ana wong nglamar mundhak mbalik ; aja lungguh bantal, mundhak udunen. Secara logika, tidak ada korelasi antara duduk di atas bantal dengan bisul. “Entah mengapa leluhur kita memilih cara yang demikian. Menyelipkan nasihat yang memang baik namun memilih alur yang tidak logis?’ tanyanya.

Suasana diskusi makin hangat. Sambil santai menikmati camilan dan nyruput kopi, jamaah saling menimpali mengelaborasi tema, tak terkecuali Cak Syuaib. Pelan namun menukik, ia menggugah kesadaran baru di benak jamaah, “tak perlu jauh-jauh, dalam keseharian sebetulnya kita ini ya sedang dilingkupi Wasita Sinandhi”. Cak Syuaib menuturkan bahwa sejatinya rukun islam yang kita percayai pun statusnya masih tersamar, sinandhi. Syahadat itu apa? Sholat itu apa? Dirimu, diriku ini apa dan siapa? Berasal dari mana hendak ke mana? Semua kan masih tersamar dan sedang proses kita cari. “Setiap waktu kita terus belajar, terus mencari dan menyibak yang tersamar itu semua,” pugkasnya.

Cak Anang (Semarang) turut urun rembug telulikuran edisi ke-18

Cak Anang (Semarang) dipersilakan untuk turut urun rembug. Ia mengawali dengan mengulas pesan tersirat dari wasita sinandhi yang tadi sempat terungkap di forum. Esensi dari tidak duduk di atas bantal adalah kesopanan atau adab. Bantal adalah tempat kepala, bukan pantat. Sementara larangan untuk makan di depan pintu rumah adalah agar tidak menghalangi orang lewat. “Kita perlu rajin mememperbanyak membaca literatur sejarah bangsa kita sendiri, agar tidak kehilangan kearifan yang diwariskan para nenek moyang kita. Jangan katut untuk cenderung mengadopsi budaya barat hingga melupakan akar budaya sendiri,” pesannya mengakhiri.

 

 

 

Pak Krisaji membagi sudut pandang bab tema dalam telulikuran edisi ke-18

Cak Teguh lalu mempersilakan Pak Kris Aji (pegiat budaya dan sejarah Gresik) untuk berbagi perspektif terhadap dinamika yang berlangsung dalam diskusi. Pak Kris mengingatkan jamaah perihal makna “Jawa”. Dijelaskan bahwa “Jawa” bukan semata geografis, namun juga mencakup perilaku, sikap, atau akhlaq. Orang yang melakukan tindakan yang melanggar paugeran, lazim disebut “ancen wong gak pati jawa”. Tradisi Jawa memang kental dengan simbol-simbol. Bentuk penutup kepala yang beragam di berbagai wilayah di pulau Jawa, semisal udheng, blangkon mbendhol mburi, blangkon trepes, semua mengandung sinandhi. Hingga dalam hal menyampaikan nasihat pun, perlu dikemas sedemikian lembutnya. Hal itu merupakan salah satu wujud keluhuran budaya jawa. “Maka, untuk bisa memahami berbagai wasita yang sinandhi itu, kita harus kembali menjadi orang Jawa”, pesan Pak Kris. Sambil menyitir buku “Desa Purwa” (karya Agus Wibowo, pegiat Maiyah Gugur Gunung-Ungaran), Pak Kris mengulas betapa mulia konsepsi yang dibangun oleh orang dulu dalam membangun sebuah wilayah (desa). Hakikat dalam membangun sebuah desa adalah menyama-selaraskan diri sebagaimana halnya kondisi di surga (para desa -> paradise). Pak Kris juga menambahkan bahwa berangkat dari pemahaman yang komprehensif atas tradisi jawa inilah, para walisanga berhasil mendakwahkan islam di Jawa.

Perhatian jamaah agak tergelitik ketika Cak Dul melontarkan otokritik. “Salah satu wujud ora njawa sering kita alami sendiri. Ketika berforum, di depan ada yang sedang berbicara, sebagian dari kita asyik menthelengi HP. Iku jenenge gak njawa blas!”, tukas Cak Dul disambut gelak tawa jamaah yang hadir.

Jarum jam sudah menunjuk tepat pada angka 12. Proses elaborasi tema sedang hangat-hangatnya. Namun, sesuai arahan Kepala Dusun, jamaah diminta untuk mengambil jeda sejenak sambil menikmati makan (tengah) malam yang telah disiapkan rekan-rekan remas. Sebagai pemanis suasana, Cak Aya (Wonokromo) memetik gitar dan melantunkan tembang “140485” (Iwan Fals), disusul kemudian oleh Cak Gogon membawakan lagu “Peluk Jiwaku” (Boomerang). Tak cukup dua lagu, Cak Nanang pun turut serta mengisi sesi jeda dengan membawakan lagu “Kita” (Sheila on 7), dilanjut dengan Cak Haqiqi mengajak jamaah bersama menyanyikan lagu “Lembah Baliem” (Slank).

Usai rehat sejenak, Cak Teguh mengajak jamaah melingkar kembali, menyerasikan frekuensi untuk lanjut diskusi tema “Ngreksa Wasita Sinandhi”. Cak Madrim mengawali dengan mendefinisikan kata “ngreksa”. Menurutnya, “ngreksa” adalah menjaga. Ibaratnya kita sedang menjadi satpam kebudayaan. Jika tidak dijaga, pasti akan hilang dengan sendirinya. “Namun, seolah-olah, menjaga itu kesannya pasif, diam. Bagaimana dulur-dulur merespon ini?”, pertanyaan ia ajukan ke forum. Langsung mendapat respon dari Cak Syuaib, “penjaga gawang itu tugasnya ya menjaga. Tapi ya bergerak, tidak diam, sesuai jangkauan areanya. Pilihlah medanmu dalam menjaga, sesuai dengan tingkat presisi terhadap kapasitas diri”.

sesi perkenalan jamaah yang baru mengikuti rutinan telulikuran damar kedhaton

Selanjutnya, Cak Aya mengungkapkan kesannya atas tema. Ia menuturkan bahwa tema ini mengingatkannya pada suatu momentum yang pernah ia alami, yakni ketika ia dihadapkan pada pertanyaan tentang “siapa sejatinya diri ini?”. Ia mengilustrasikan, “Aya itu bukanlah kamu, tapi itu namamu. Itu tangan bukanlah kamu, tapi tanganmu. Jasad? Itu jasadmu, bukan kamu. Ruh? Itu ruhmu, bukan kamu. Lantas siapakah kamu?”. Betapa berlapis kesamaran yang meliputi rahasia diri ini. Dalam pencariannya, ia menyimpulkan bahwa kendala kita dalam mengenali diri sendiri adalah kurang sabar menerima diri. Dengan memakai referensi pewayangan, Cak Aya menyampaikan adanya dilema dalam benaknya dalam menentukan sosok yang ideal antara Arjuna ataukah Karna.

Pak Kris lantas memberikan tawaran kepada Cak Aya. Antara Karna dan Arjuna, konteksnya adalah identifikasi keberpihakan jiwa ksatria. Dalam konteks pencarian jatidiri, disarankan mengambil hikmah dari kisah Dewa Ruci. Pak Kris juga menambahkan bahwa setelah tahap mengenali diri sendiri tuntas tertunaikan, perjalanan akan mengarahkan kita untuk memberikan manfaat kepada sebanyak-banyaknya umat. Kita harus berlatih untuk terus menyatukan fikiran dan hati, sehingga dapat sinkron dan terkontrol. Sepanjang Werkudara masih memikirkan dirinya sendiri, ia tak kan bisa mendarmabaktikan diri pada negaranya.

Terhadap kegundahan Cak Aya perihal jati diri, Cak Syuaib mengusulkan bab keikhlasan, “sing paling penting sampeyan ikhlas nerima apa wae sing disuguhna Gusti Allah. Saat sampeyan ikhlas, ya ikulah sejatining sampeyan.” Mengenai jati diri ini pula, Bu Noer Kris Aji turut urun perspektif. Disampaikan bahwa secara general sebagai manusia, kita dilahirkan tanpa personality. Kita dibekali Tuhan identitas saja. Ia tidak tetap, tapi dinamis. Bagaimana mengembangkan identitas dari Tuhan ini? Iqra’, membaca, literasi, yakni kemampuan menyerap informasi untuk melakukan perbaikan kualitas kehidupan. Jika basis literasi ini sudah kokoh, kita tidak akan mudah terhanyutkan oleh gerusan informasi yang membanjiri gadget kita tiap waktu. Bu Kris juga menegaskan pentingnya pembangunan kualitas diri dalam kerangka menguak sinandhi dari Tuhan. “Ketika kualitas diri sudah terbentuk, maka atribut tidak lagi penting”, pungkasnya.

Pak Nanang Qosim (Kepala Dusun) yang sedari awal asyik menyimak, akhirnya turut ngguyubi diskusi. Bukan dengan memaparkan narasi, Pak Nanang memilih cara dengan berpuisi. Singkat dan spontan, puisi berisi empat baris kalimat berjudul “Aku Bukanlah Aku” ia sajikan untuk memperkaya khazanah pencarian wasita sinandhi dalam diri. Disambut kemudian oleh Cak Djalil dengan menyampaikan tadabburnya terhadap wasita sinandhi bab bantal. Menurutnya, nasihat agar tidak duduk di atas bantal itu berlangsung melalui dialog antara orangtua dengan anak. Tergambar proses transfer informasi dari orang yang sudah tahu kepada yang belum tahu. Kenapa lalu tersamar? Ia menduga, disengaja demikian agar terjadi proses pencarian. Anak dilatih untuk merasakan kenikmatan mencari. Begitu halnya yang terjadi pada kisah Bima Suci, di mana seluruh perintah yang diberikan Pandhita Durna kepada Bima dikemas dalam sinandhi : susuhing angin, banyu prawitasari, dan sebagainya. Cak Djalil menambahkan tadabbur atas hikmah “Barangsiapa mengenali dirinya, akan mengenal Tuhannya” yakni bahwa dari pencarian diri adalah setelah engkau mengenali Tuhanmu, maka akan mengenali kebodohanmu. Kata kunci dari semua ini adalah menikmati proses, karena memang demikian contoh metodologi yang dipakai Tuhan dalam mengajari hambaNya.

suasana telulikuran edisi ke-18 di MI Hidayatul Ulum, Dsn. Purworejo, Ds. Metatu, Benjeng, Gresik

Malam menuju bagian sepertiga terakhir, namun dulur-dulur JMDK masih bersemangat melanjutkan diskusi. Cak Musthofa menambahkan poin soal keistimewaan bahasa jawa yang mengenal tingkatan ngoko-madya-krama. Ini menunjukkan betapa leluhur jawa jeli dalam menempatkan adab penghormatan kepada yang sepuh. Terkait sinandhi bantal, ia menangkap adanya hikmah perihal sikap adil. Anjuran untuk tidak duduk di atas bantal adalah media pembelajaran agar tidak dholim, sebagai antonim dari adil. Sementara menurut Cak Nanang, ada pesan tersirat bahwa kita jangan terlalu ngasorake wong liya. Nglungguhi sirah itu pengibaratan dari menghina martabat manusia lain. Sedangkan Cak Alfian turut menambahkan ketersambungan yang ia tangkap dari wasita sinandhi : aja mangan karo ngadek, ora ilok dengan ajaran islam. Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan demikian, agar umatnya makan dalam posisi duduk, tidak berdiri. Dari sudut pandang ilmu kesehatan, posisi duduk saat makan dinilai lebih menyehatkan katimbang berdiri.

Nyaris pukul tiga dini hari, majelis ilmu Telulikuran diakhiri dengan saling bersalaman seluruh jamaah yang hadir. Mereka pun pulang dengan sangu masing-masing untuk terus melakukan pencarian, menguak hikmah yang tersamar dari setiap peristiwa.

(aif/ddk)