Ilusi Identitas dan Ujaran Kebencian : Nalar berukhuwah kita (?)

Ilusi identitas dan ujaran kebencian:

Nalar berukhuwah kita (?)

Sumber gambar https://www.askideas.com/media/07/Cute-Babies-Group.jpg

Cara manusia memandang dirinya sendiri dan manusia lainnya merupakan elemen dasar yang membentuk tata nilai dan struktur sosial suatu masyarakat. Cara pandang ini sekaligus menjadi ruang lingkup bagi gerak “nalar” yang memungkinkan manusia memperoleh pemahaman atas realita di sekitarnya. Salah satu fungsi dasar nalar adalah melakukan identifikasi dan klasifikasi. Seekor singa mengidentifikasi mangsanya dan mempelajari cara berburu melalui insting dan memori, tidak dengan nalar—cara singa berburu rusa dari jaman buyutnya Fir’aun sampai sekarang tidak banyak berubah: mengendap-endap, membuka mata lebar-lebar sambil mengatur arah gerak kaki dan posisi tubuhnya; belum pernah ada dalam catatan sejarah dimana singa berburu rusa menggunakan tombak atau panah, kecuali Si-singa-mangaraja dari tanah Toba. Manusia, meskipun dari sudut pandang taksonomi masih berkerabat dekat dengan monyet, hanya sedikit mengandalkan insting dalam melakukan identifikasi dan klasifikasi sosial. Setelah melalui evolusi ratusan ribu tahun, manusia modern (Homo sapiens) berhasil mengembangkan suatu metode identifikasi sosial yang jauh lebih kompleks, bahkan cenderung ruwet, dibanding anggota mamalia lainnya. Saat ini kita melakukan identifikasi dan klasifikasi kepada diri kita sendiri dan orang lain melalui bermacam-macam cara: nama, agama, etnis dan warna kulit, kewarganegaraan, gender dan orientasi seksual, kelas sosial, profesi, ideologi dan pilihan politik, selera seni dan kuliner, hobi, dll. Si “A” orang Indonesia, bapaknya Jawa ibunya keturunan Cina, Islam, teknisi IT di sebuah bank swasta, penggemar karya-karya Dan Brown, penikmat J.S Bach dan gending Jawa, alumni Gontor, pendukung capres incumbent, hobi melukis, dll. Anggaplah si “A” ini teman atau tetangga sebelah rumah si “B”. Kemudian si “B” berkunjung ke rumah si “A”: di rak bukunya terlihat buku tebal Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali dan sebuah buku Yasiin dan Tahlil kecil, sementara di salah satu dinding ruang tamu terpasang foto K.H Hasyim Asy’ari. Si “B” lantas membatin ”Oo.. orang NU toh.. Islam Nusantara”—si “B” telah melakukan identifikasi kepada si “A”. Di lain kesempatan, si “B” melihat postingan si “A” di sosmed yang isinya mendukung capres incumbent untuk maju pilpres tahun depan. Si “B” pun membatin lagi ”Oo.. cebongers juga toh”—si “B” kembali melakukan identifikasi. Beberapa hari kemudian, secara tidak sengaja si “B” melihat si “A” sedang mengikuti kajian keagamaan di masjid yang saat itu pembicaranya adalah seorang ustad dengan jenggot lebat dan dahi agak kehitaman. Kali ini si “B” membatin agak bingung ”Ngapain orang NU dengar ceramah ustad Wahabi?! lagian dia kan cebongers!”—lagi-lagi si “B” melakukan identifikasi. Sampai di sini mulai terlihat ada masalah, yakni adanya asosiasi negatif antara NU dengan Wahabi dan cebongers dengan Wahabi, dimana masing-masing identitas diposisikan berseberangan secara kaku dan linier: kalau NU pasti bukan Wahabi, begitu juga sebaliknya, maka tidak seharusnya orang NU mendengarkan kajian ustad Wahabi; cebongers itu anti Wahabi, jadi tidak semestinya mereka mengikuti kajian ustad Wahabi. Selain itu, ada pengklasifikasian, yaitu siapapun yang berjenggot lebat dan berdahi agak kehitaman adalah penganut Wahabisme—dan Wahabi itu “pasti” buruk, dari dulu sampai sekarang, kapanpun dan dimanapun!. Dari cerita si “A” dan si “B” itu, pertanyaan yang perlu dijawab adalah “dengan identitas yang mana si “B” semestinya melihat si “A” dan dengan identitas yang mana pula si “A” semestinya melihat dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya, termasuk si “B”?”, “Apakah akan memberikan hasil yang berbeda ketika si “B” cenderung melihat si “A” lebih sebagai teknisi IT dan pelukis amatir ketimbang si “A” sebagai pendukung capres incumbent dan penganut Islam Nusantara?” Jawabannya bisa iya atau tidak, tergantung bagaimana si A melihat dan bersikap kepada si “B”, juga tergantung kapan dan dimana si “B” dan si “A” berinteraksi—ruwet?

Nyatanya, kita sering melakukan identifikasi dan klasifikasi (seperti kasus si “A” dan si “B” di atas) tidak hanya saat berkenalan dengan orang baru saja, kita juga melakukannya kepada orang-orang yang sudah kita kenal lama, bahkan sebagian dari kita melakukannya secara streaming hampir setiap hari di sosmed—seandainya dibuat buku, mungkin setiap orang akan punya buku babon taksonomi setara “Systema Naturae”-nya Carolus Linnaeus: “Sistem Klasifikasi Manusia, Versiku Dewe!”. Lalu, mengapa manusia melakukan identifikasi? Bisa dijawab dengan banyak cara, tetapi secara psikologis kita perlu tahu identitas seseorang minimal untuk dua alasan: 1. Menghindari kebingungan (mendapatkan kepastian) dan 2. Klasifikasi (digunakan sebagai dasar dalam menentukan sikap). Alasan pertama sangat penting karena mencegah terjadinya kekacauan. Bisa dibayangkan apa jadinya jika dalam satu kelas semua muridnya tidak punya nama (tidak mau menyebutkan namanya) atau semua namanya sama? Sido gurune mulih gak katokan!. Alasan kedua sama pentingnya, tapi yang ini rawan mengalami distorsi maupun penyempitan makna serta disalah gunakan. Di masa seperti sekarang ketika banyak manusia tenggelam dalam realita virtual (dunia maya) yang sangat intens, serba abu-abu, dan penuh “muslihat” (deception), maka “nalar identifikasi dan klasifikasi” harus bisa memenuhi dua fungsinya tersebut secara benar dan konsisten, sehingga memungkinkan kita untuk bisa memahami situasi-situasi sosial di sekitar kita secara lebih terang dan proporsional.

Kembali ke si “A” dan si “B”. Bagaimana semestinya si “B” (anggap saja si “B” mewakili diri kita) mengidentifikasi si “A”? —apakah si “A” sebagai teknisi IT, Muslim keturunan Jawa-Cina, penikmat Bach, pelukis amatiran, pendukung capres incumbent yang lebih memilih golput, ataukah si “A” penganut Islam garis keras, garis lurus, melengkung, mentiung, njerungup? Faktanya, semua identitas tersebut melekat pada diri si “A”, dan ini penting untuk diingat! Tetapi, yang harus dipahami di sini adalah bahwa identitas-identitas tersebut bersifat kontekstual: satu identitas tertentu bisa muncul dan menjadi lebih dominan dibanding identitas-identitas lainnya pada satu waktu dan tempat tertentu, tetapi di lain waktu bisa jadi identitas tersebut menjadi pre-dominan terhadap identitas yang lain atau bahkan tidak terlihat sama sekali. Misalnya, pada saat pilkada semua tetangga dan teman si “A” ikut mencoblos, sementara si “A” tidak ikut, dia hanya leyeh-leyeh di teras depan rumahnya sambil menikmati gendhing Jawa. Kemudian ada pesan masuk dari si “B” ke Whatsapp-nya “Cuk golput maneh! pegel!”. Di mata si “B”, bisa jadi identitas si “A” yang terlihat lebih dominan pada saat itu adalah “Golputers” ketimbang sebagai teknisi IT atau pelukis amatir. Lain cerita waktu si “A” umroh ke Mekkah. Ketika si “A” makan bersama dengan sesama jamaah Indonesia yang berasal dari wilayah Indonesia Timur di pelataran Masjidil Haram, bisa jadi identitasnya sebagai orang Jawa pada saat itu lebih (terasa) dominan dibanding identitasnya sebagai teknisi IT; atau bisa juga identitas Jawanya menjadi pre-dominan terhadap identitas WNI-nya, atau bahkan identitas Jawanya hilang sama sekali sementara identitasnya sebagai WNI yang menjadi dominan, karena pada saat itu si “A” berada di suatu tempat baru yang dipenuhi oleh ribuan orang asing dari negara lain. Beberapa saat kemudian, ketika si “A” sedang thowaf mengelilingi Ka’bah berdesak-desakan dengan ribuan jamaah lain dan semuanya mengenakan warna kain yang sama—putih—sambil membaca doa dan puji-pujian kepada Allah swt, si “A” kemudian melihat dirinya dan semua orang-orang di sekelilingnya dengan identitas yang sama (Muslim), sedangkan identitasnya sebagai orang Jawa, WNI, alumni Gontor, dll. menjadi kurang atau bahkan tidak signifikan lagi, pada saat itu.

Demikian seterusnya identitas-identitas sosial yang melekat pada diri kita muncul dan tenggelam mengikuti ruang-waktunya masing-masing. Hanya saja, memang ada identitas-identitas primordial yang melekat lebih kuat dalam diri kita dibanding identitas lainnya—ras dan etnisitas, agama, gender dan orientasi seksual, kewarganegaraan—karena melibatkan ciri biologis serta sejarah garis keturunan dan nilai-nilai sosial-budaya yang kita warisi selama berabad-abad dari nenek-moyang kita. Maka, terkait identitas-identitas sosial yang menempel pada diri kita dan semua orang, meminjam istilah Rhoma Irama “dari pengamen sampai presiden, dari penjual koran sampai penjual kehormatan”, sesungguhnya bukanlah sesuatu yang berlaku secara absolut, melainkan relatif, tergantung kapan dan dimana subjeknya berada. Di pagi hari si “A” lebih dikenal para pengguna jalan sebagai penjual koran, tapi di malam hari dia dikenal tetangga-tetangganya sebagai guru privat piano. Karena sifat dasar dari identitas sosial adalah relatif, maka ketika kita memperlakukan identitas tertentu—pada diri seseorang atau kelompok masyarakat—secara mutlak, akibatnya adalah proses identifikasi sosial yang secara alamiah bersifat kontekstual dan berlangsung dinamis akan berubah menjadi tekstual dan statis (mandeg). Apa akibatnya? kebingungan, kecurigaan, tuduhan dan hoax, ujaran kebencian, yang semuanya berujung pada konflik. Setelah kejadian 11 September 2001, masyarakat dunia, khususnya orang Barat, wa bil khusus media Barat, cenderung mengidentifikasi (agama) “Islam” sebagai suatu entitas sosial yang lekat dengan radikalisme dan terorisme. Lebih dari itu, berkembang semacam kesan umum bahwa apapun yang dikaitkan dengan “Islam”, apakah itu orang, kelompok masyarakat, ormas, dll., menjadi (agak) tidak mengenakkan atau menakutkan untuk didekati. Mengapa bisa sampai muncul kesan umum seperti ini hingga level global dan bertahan dalam waktu cukup lama?! Sangat sulit mencari jawaban tunggal atas isu kompleks tur lintas ruang-waktu semacam ini, tetapi efek samping dari peristiwa 11 September tersebut cukup jelas: distorsi makna dan absolutisme Islam sebagai identitas. Tragedi holocaust, konflik berdarah PKI v.s NU 1965, genosida Muslim Bosnia 1995, dan pembantaian Muslim Rohingya baru-baru ini adalah contoh ekstrem akibat dari cara pandang ‘ortodoks’ yang memutlakkan satu identitas tertentu, dalam hal ini agama.

Kecenderungan absolutisme identitas ini tidak melulu tentang agama atau ras, tetapi bisa dipersempit ke wilayah identitas yang bersifat superfisial sehari-hari. Mungkin sebagian dari kita melakukan identifikasi dan klasifikasi kepada teman, tetangga, atau ustad yang berjenggot panjang dengan dahi kehitaman atau berjilbab lebar dan bercadar ke dalam kelompok Islam garis keras (fundamentalis), dan mungkin begitu juga sebaliknya, yang tidak memelihara jenggot, bersarung, tidak berjilbab atau berpakaian agak ketat sebagai Islam abangan atau Islam KTP; pendukung presiden incumbent (sudah pasti) adalah pro-asing dan anti Islam, sementara yang menolak (sudah pasti) adalah anti Pancasila dan pro-Islam; mereka yang bergelar doktor atau professor (sudah pasti) kredibel dan mumpuni, sedangkan yang tidak mempunyai gelar (sudah pasti) tidak kredibel; sarjana lulusan luar negeri (sudah pasti) lebih baik dari sarjana dalam negeri; dll. Pertentangan-pertentangan akibat nalar klasifikasi sosial semacam itu, jika dibiarkan begitu saja tanpa disertai koreksi, dapat menyebabkan terjadinya penggolongan-penggolongan sosial secara kacau. Kondisi ini mirip seperti “bug” atau “virus” pada sebuah sistem komputer yang dapat menyebabkan gangguan terhadap sistem operasinya. Meskipun penggolongan sosial sudah ada sejak dulu, tetapi di jaman virtual inilah—melalui jejaring sosial ala facebook, twitter, dan instagram—“bug” dan “virus” menemukan atmosfir dan iklimnya yang paling baik untuk berkembang biak dan menyusup secara cepat ke dalam pikiran para pengguna sosmed tersebut. Ciri paling menonjol dari korban “bug” dan “virus” ini adalah mereka menjadi sangat bersemangat (kalap) dalam membenarkan dan membela kelompok sosialnya sekaligus antipati terhadap kelompok lain yang berseberangan dengan mereka, baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Lalu, bagaimana kita menghadapi “bug” dan “virus” ini ?
(1) Si A = koruptor, Si B = koruptor, si C = koruptor; A,B,C = Islam, maka semua koruptor beragama Islam
(2) Si A = Islam, Si B = Islam, si C = Islam, si D = non-Muslim, maka si D bukan koruptor
(3) JKW = pro-asing; Si A = pendukung JKW, si B = pendukung JKW, si C = pendukung JKW, maka A,B,C pro-asing
(4) Si A = pendukung JKW, si B = pendukung JKW, si C = pendukung JKW, si D = bukan pendukung JKW, maka si D anti asing.

Kerja “bug” dan “virus” terutama adalah menyebarkan gagasan seperti logika di atas: “kalau ini pasti benar, kalau tidak ini pasti salah”, “pengikut golongan ini pasti orang-orang baik, pengikut golongan lain yang menentang kubu ini pasti orang-orang bermasalah”. Setidaknya ada dua sifat berbahaya dari logika di atas, yaitu “absolutisme identitas” dan “generalisasi identitas” yang mana kedua-duanya berpeluang sangat besar memberikan hasil (kesimpulan) yang salah. Katakanlah saya seorang Muslim asli Indonesia dengan jenggot lebat dan dahi agak kehitaman, lalu di Suriah sana ada banyak orang dengan penampilan mirip saya yang menjadi anggota ISIS dan melakukan teror, kemudian beritanya ditayangkan di tivi nasional dan dimuat di koran-koran nasional. Apakah sah menyimpulkan bahwa saya pasti akan berperilaku sama dengan anggota ISIS tersebut semata-mata dengan menggunakan dasar berpikir “jenggot lebat dan dahi hitam”? Jika kita mengatakan iya, berarti nalar kita telah terinfeksi oleh “bug”. Contoh lain, saya bekerja sebagai staff HRD di suatu perusahaan dan tugas saya adalah melakukan perekrutan calon karyawan. Sepanjang karir saya, ada kecenderungan yang saya tangkap bahwa karyawan lulusan dalam negeri kurang produktif dibanding lulusan luar negeri. Lalu, apakah berarti ini bisa menjadi satu-satunya pembenaran bagi saya untuk membatasi atau tidak merekrut calon karyawan lulusan dalam negeri? Sekedar dugaan tidak masalah, tetapi ketika kita memberlakukan secara mutlak bahwa sarjana dalam negeri tidak produktif, maka kita sama seperti membuang berkarung-karung beras begitu saja, tanpa melihat isinya, hanya karena karung pertama dan kedua berisi pasir. Nalar identifikasi yang terinfeksi oleh “bug” dan “virus” adalah nalar “2 = 1 + 1”, yang selain “1 + 1” pasti (hasilnya) bukan “2” (“2 + 0”, “1.5 + 0.5”, “3 – 1”, “8 : 4”, atau “.. + .. + .. – ..” semuanya bukan “2” karena tidak 1 + 1). Apakah kita mengidentifikasi si “A” sebagai bukan Islam yang baik, bukan Islam Ahlusunnah, hanya karena ekspresi berislamnya tidak “1 + 1”? Bahkan sekalipun tanpa ada penjelasan panjang lebar mengenai ilusi identitas di atas, saya yakin bahwa pada level paling dasar kita semua mempunyai kesamaan dalam banyak hal, sehingga tidak sulit untuk menyelenggarakan hidup bersama-sama secara harmonis. Selama masalah ilusi identitas ini tidak secara sengaja direkayasa dan dikembangkan untuk tujuan-tujuan politis kotor, kita tidak perlu khawatir karena nalar identifikasi dan klasifikasi ala “bug” dan “virus” ini sebenarnya tidak mempunyai banyak ruang gerak dalam diri kita.

Lima tahun yang lalu kita mengidentifikasi si “A” sebagai pemabuk, Islam abangan, dan identitas-identitas negatif lainnya, tapi saat ini kita menemuinya sebagai Hafidz Quran dengan jenggot yang lebat dan dahi kehitaman, lalu kita mengidentifikasinya sebagai penganut Islam garis keras. Di lain kesempatan ia datang ke rumah sakit untuk menjenguk anak kita yang sedang opname dan mendo’akan kesembuhan untuk anak kita, lalu kita mulai membatin “Ternyata, selama ini mataku yang salah lihat”. Artinya apa? Artinya adalah bahwa bukan hanya identitas sosial yang bersifat tidak mutlak, tetapi subjeknya sendiri (kita) tidak pernah mutlak: dari bayi, tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa, hingga menua, kita mengalami perubahan-perubahan dan transformasi—fisik, mental, spiritual—secara terus menerus. Maka dari itu, nalar identifikasi sosial yang berciri “absolutisme” dan “generalisasi” dengan sendirinya akan termentahkan oleh kenyataan bahwa sasaran mereka (objek sekaligus subjek—kita) tak pernah bersifat mutlak, meskipun untuk sampai pada tahap ini seringkali membutuhkan waktu dan kadang-kadang disertai dengan konflik dan korban jiwa. Dengan kata lain, sebuah identitas sosial tidak akan pernah sanggup mewakili, apalagi menampung luasnya dimensi sosial manusia. Akhirnya, sikap paling masuk akal dalam menghadapi keragaman sekaligus relativitas dari identitas sosial yang ada di sekitar kita adalah dengan mengedepankan semangat “saling mengenal” dan bersikap “adil”: jangan sampai kebencian kita kepada seseorang atau kelompok tertentu menjadikan kita tidak berlaku adil kepadanya.

Mohammad Shofie
Jamaah Maiyah Damar Kedhaton, tinggal di Cerme, Gresik.