Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #34 – Juli 2019 “JATI DIRI”

Kiranya jamaah maiyah telah faham betul, bahwa wajah sesungguhnya peradaban manusia hari ini kian menjauh dari keindahan. Di sebalik gemerlap kemewahan dan kilau solek keelokan, sejatinya terkandung borok kehinaan. Alam berpikirnya dipenuhsesaki oleh target-target hidup yang semu, visi misi yang maya, orientasi yang remeh temeh. Pencapaian seseorang ditakar melulu hanya dengan ukuran-ukuran yang wadag nan seragam. Bahwa orang hidup harus berjuang mati-matian agar sukses. Dan definisi sukses adalah menjadi kaya, terkenal, dan digdaya punya kuasa.

Demikianlah ajaran utama yang sedang berlaku di semesta ini. Arus dan frekuensi Iblis, Dajjal serta Ya’juj Ma’juj makin mengejawantah. Menyelinap halus lewat selang-selang kurikulum pendidikan. Menyusup lembut melalui channel-channel tayangan nan receh dan tausiah dangkal, sempit dan semata permukaan. Menghujanderasi atmosfer interaksi sosial dengan festival-festival pengumbar syahwat, audisi-audisi kepalsuan, dan pesta pora kebodohan. Arah peradaban manusia makin dikangkangi materialisme, yang menyeretnya kian menjauhi dari tujuan asal ia diciptakan.

Materialisme adalah kutub paling jauh dari Dzat Allah SWT, paling seberang dari Sifat Allah SWT, serta paling rendah dari ketinggian Hakikat Allah SWT.

Maka ikhtiar untuk terus mengembarai belantara pencarian yang sejati, haruslah menjadi niscaya. Upaya demi meng-ayak mana yang emas di antara pepasir, haruslah mengemuka. Langkah kecil dalam menyibak-singkirkan semak kepalsuan untuk menemukenali benih yang otentik, perlu diderapkan. Ketangguhan menguliti setiap gejala dengan ketajaman daya analisis, sedianya ditegakkan. Kesetiaan menthowafi segala kejadian dengan keluasan dan kedalaman pandang, semakin dibutuhkan.

Tiap-tiap diri sedang menempuh thariqatnya masing-masing. Mencari titik akurasi nan presisi di mana kehendaknya selaras dengan kehendak Tuhan. Melacak kembali jejak yang tertinggal, sembari bertanya pada diri, apakah langkah yang telah terayun selama ini makin mendekatkannya pada yang sejati. Seiring dengan itu, fadhilah yang Tuhan titipkan padanya, harus dikenali. Dan lalu mengartikulasikannya lewat karya kebermanfaatan pada sesama sebagai wujud kebersyukuran dan penghambaan padaNya.

Kuu anfusakum wa ahlikum naaro. Tadabbur atas “ahlikum”  membuka rentang skala jangkauan bagi tiap diri. Apakah keluarga adalah sebatas yang sepertalian darah. Bagaimana jika skalanya satu desa, satu negara. Bukankah juga tak salah jika disebut bahwa seluruh umat manusia ini pun satu keluarga, Bani Adam.

Maka, lingkup “diri” pun bisa merentang, menginterval. Kesejatian yang hendak terus kita cari, hinggap di beragam skala yang tak tunggal. Mari meluasi khazanah pencarian jati diri sebagai seorang individu. Jati Diri Desa. Jati Diri Negeri. Dan seterusnya.

Dulur, telah tiba waktu bagi kita untuk melingkar kembali. Dengan spirit wa laa tansa nashiibaka minad dunya, mari saling setor kegembiraan dalam mencari yang otentik, menguak yang sejati, di Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton pada ;

Kamis, 25 Juli 2019

Pukul 19:23 WIB

Di Balai Desa Pacuh, Kec. Balongpanggang, Kab. Gresik.