CLIMATE CHANGE: MEDAN JIHAD BARU?

.

Apa yang tak dapat dilihat bukan berarti tidak ada, juga belum tentu tidak penting. Penting tidaknya sesuatu tidak hanya terletak pada wujud fisiknya yang kasat mata, tetapi juga nilai manfaat yang bisa diberikan, meski wujudnya tak kasat mata―udara yang bersih, gelombang radio pada Wifi―atau bisa juga sebaliknya: sesuatu menjadi penting karena ia berpotensi menyebabkan mudharat (kerugian, bahaya) yang besar, sekalipun ia tak berwujud, misalnya pemanasan global dan perubahan iklim. Khusus mengenai yang disebutkan terakhir, sulit melihat gambaran utuh dari perubahan iklim; hanya sebatas gejala-gejalanya saja yang dapat diamati, meskipun sebenarnya ini sudah cukup menjadi “peringatan” bagi manusia, khalifatullah. Di sisi lain, kesadaran kolektif masyarakat kita tampaknya masih dominan menunjukkan watak pragmatis ketika dihadapkan pada isu perubahan iklim: mengurusi perubahan iklim tidak akan memberikan keuntungan apa-apa; juga tidak menyebabkan kerugian apa-apa jika tidak mengurusinya. Kesimpulan berpikir semacam ini, biasanya selain karena keterbatasan informasi, juga akibat dari cara berpikir yang linier, parsial, serta berorientasi jangka pendek. Seorang pasien diabetes mungkin menyadari bahwa kadar gula darahnya tidak normal dan harus berhati-hati dengan apa yang ia makan, tetapi karena ia merasa ‘baik-baik’ saja lalu menyimpulkan bahwa ia bisa makan apapun semaunya. Seperti itulah kira-kira gambaran polemik global perubahan iklim saat ini: iklim dunia masih tampak ‘baik-baik’ saja, sehingga tidak beralasan untuk membatasi pembangunan PLTU batu bara atau pembukaan hutan tropis di Sumatera dan Kalimantan untuk lahan sawit.

 Apa yang menantang dari isu perubahan iklim adalah jangkauannya yang sangat luas tapi gejala dan dampaknya tampak samar dan perlahan―setidaknya di mata orang awam. Tetapi, bisa jadi aspek dari perubahan iklim yang justru paling menantang dan mendasar adalah tingkat kompleksitasnya yang sudah seperti benang ruwet kecemplung oli. Penyebab keruwetan ini terkait dengan persepsi global yang dalam melihat, misalnya, mencairnya gunung es di kutub, cuaca ekstrim, musim yang tidak menentu, atau pemutihan terumbu karang, semata-mata sebagai fenomena alam biasa yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan aktivitas kita sehari-hari dan ga ngefek blas buat kita dan keluarga kita. Yaa.. tak ada yang bisa disalahkan karena memang begitulah kesadaran kolektif kita saat ini, tapi sekaligus di situlah letak keruwetannya. Bagaimana masyarakat dunia saat ini melihat isu perubahan iklim adalah seperti ketika kita meminta seorang anak kecil memasukkan ujung jari telunjuknya ke dalam kuali besar berisi air dingin, tanpa tahu kalau dibawah kuali tsb ada tumpukan bara api yang menyala. Jika kita menanyakan ke si anak apa yang dia rasakan, si anak akan menjawab “dingin”. Perlu waktu agak lama bagi si anak untuk sampai pada keyakinan bahwa air di kuali tersebut kini terasa sedikit hangat.

Keruwetan lainnya, yang menurut saya “the hardest problem”, dari isu perubahan iklim ini adalah bagaimana menerjemahkan diskursus perubahan iklim―dimana muatannya tidak hanya kompleks, tetapi juga cenderung abstrak―ke dalam suatu wacana praktis dan sederhana (tanpa mengaburkan esensinya), lalu kemudian melanjutkannya dengan suatu transformasi kontinyu atas sistem ekonomi, politik, dan sosial kita yang kesemuanya itu ditujukan untuk menggeser paradigma antroposentris, dimana manusia dicitrakan sebagai pusat dunia dan alam semesta, ke paradigma ekosentrisme: manusia sebagai satu-kesatuan dari keseluruhan sistem organis Bumi dan alam semesta. Menggeser antroposentris ke ekosentris mirip seperti merubah cara berpikir anak SD ke orang dewasa. Sangat tidak mudah, butuh usaha yang sungguhsungguh, telaten, dan terus menerus. Untuk skala global, paling tidak butuh waktu tak kurang dari satu abad, sangat mungkin lebih. Dalam praktiknya, paradigma ekosentrisme mensyaratkan suatu pengorbanan kolektif yang mesti dilakukan oleh masyarakat dunia saat ini untuk dipersembahkan kepada generasi masyarakat yang akan datang―suatu ikhtiar yang lebih bersifat etis dan spiritual ketimbang rasional. Untuk memahami betapa beratnya pengorbanan semacam itu, kita bisa membayangkan rumah senilai satu miliar yang kita beli dengan mengangsur selama 20 tahun ternyata harus berubah kepemilikannya ke orang lain di akhir masa angsuran. Jelas ‘tidak masuk akal’ dan hampir pasti kebanyakan orang tak mau melakukannya; bagaimana bisa rumah yang kita beli dengan uang pribadi selama 20 tahun harus menjadi milik orang lain. Kurang lebih begitulah pandangan serta sikap kebanyakan pemerintah negara-negara dunia, pelaku-pelaku industri dan korporasi raksasa, para konglomerat, serta mayoritas dari kita terhadap isu perubahan iklim. Mengurusi permasalahan seputar pemanasan global dan perubahan iklim sama saja buang-buang energi, waktu, dan biaya―untuk suatu tujuan yang tidak memberikan keuntungan langsung serta hasil yang belum tentu bisa dinikmati sampai dua atau tiga generasi yang akan datang. Maka, isu perubahan iklim ini penulis lihat lebih bersifat ‘ghaib’ ketimbang dhahir. Ghaib di sini artinya suatu keadaan sangat kompleks yang melibatkan berbagai dimensi (biologis, kognitif, sosial, etis, spiritual, dll.) dimana jangkauan sebab-akibatnya tidak mungkin bisa diamati dan dianalisis secara menyeluruh. Konsekuensinya, kita tidak (akan pernah) bisa memotret wujud perubahan iklim secara jelas, lengkap, dan meyakinkan. Dengan kata lain, masyarakat cenderung tidak khawatir dan tidak peduli ketika siaran di televisi dan surat kabar memberitakan bahwa kosentrasi karbon dioksida diperkirakan akan mencapai 500 ppm dan suhu bumi meningkat 2 derajat Celcius dalam kurun waktu lima tahun dari sekarang, atau gunung es di kutub akan mencair sebanyak 30% dari volume saat ini. Selama kondisinya seperti ini, dimana isu perubahan iklim ini sesungguhnya adalah bersifat ‘ghaib’, maka solusi atas permasalahan ini tidak bisa tidak melainkan harus melibatkan pendekatan yang bersifat ghaib pula. Agama.

Mary Evelyn Tucker & John A. Grim dalam buku “Agama, Filsafat, dan Lingkungan” menuliskan pandangan para pemikir dan sarjana agama dari berbagai tradisi keagamaan (Yahudi, Kristen, Islam, Jainisme, Buddha, Hindu, Taoisme, dll.) yang membahas secara khusus mengenai pandangan masingmasing tradisi keagamaan terhadap kaitan antara eksistensi manusia dengan alam dan lingkungan, dan secara umum membahas tentang nilai serta prinsipprinsip dalam tradisi keagamaan yang terkait dengan pandangan hidup ekologis. Salah satu gagasan penting dari buku tsb adalah semua rentetan krisis lingkungan yang terjadi dalam beberapa dasawarsa terakhir merupakan manifestasi dari krisis yang jauh lebih mendalam dan terjadi jauh sebelumnya, yakni krisis eksistensial-spiritual yang melanda manusia modern. Krisis inilah yang membuat manusia modern semakin terisolasi dari dimensi ‘ghaib’ di atas, sehingga menjadi seperti orang asing di rumahnya sendiri—Bumi. Jika kita setuju dengan gagasan ini, maka wajib bagi tokoh-tokoh dan pemuka agama, khususnya ulama-ulama Islam yang mumpuni, sebagai perwakilan mayoritas masyarakat di negeri ini, memberikan perhatian khusus dan sumbangan pemikiran yang penuh dan menyeluruh terhadap masalah-masalah lingkungan di Indonesia. Misalnya: menggali sumber-sumber ajaran hukum Islam untuk menilai derajat urgensi pembangunan PLTU batu bara. Halal, sunnah, mubah, makruh, atau haram? Atau, menyusun kaidah-kaidah fiqih sebagai bahan pertimbangan alternatif bagi pemerintah terkait pemberian izin Hak Guna Usaha bagi perusahaan kelapa sawit yang akan membuka lahan baru di kawasan konservasi dan hutan. Kebakaran hutan tahunan di Sumatera dan Kalimantan harus menjadi momentum berkumpulnya para kyai-kyai/ ulama / cendekiawan Islam se-Sumatera dan Kalimantan untuk mengkaji sekaligus memberikan pandangannya terhadap eksistensi dan ‘kekeramatan’ hutan Sumatera dan Kalimantan. Akan sangat indah jika nantinya terbit sebuah kitab “Fiqih Pengelolaan Hutan Sumatera dan Kalimantan” yang secara khusus disusun oleh para kyai/ulama yang bermukim di Sumatera dan Kalimantan.

Akhir kata, perubahan iklim hanyalah puncak dari gunung es. Di dasar gunung itu adalah tumpukan-tumpukan bangkai keserakahan zaman. Jalan keluar atas perubahan iklim tidak bisa tidak membutuhkan ikhtiar spiritual dari para kyai/ulama guna menyelam ke dalam relung-relung jiwa dan kesadaran kolektif umat, menuntunnya keluar dari gelapnya belantara materialisme serta pekatnya konsumerisme. Inilah medan jihad (baru) zaman ini.

Mohammad Shofie

Jamaah Maiyah Damar Kedhaton (JMDK), Tinggal Di Cerme, Gresik.