Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #37 – Oktober 2019 “ Tafakkur ”

Tak dapat dielak lagi, salah satu anak kandung dari industrialisasi dan kemajuan teknologi adalah kian menggejalanya budaya instan. Segala hal hendak digapai dengan cara yang serba cepat. Sayangnya, ke-serbacepat-an ini kemudian mengalirkan limbah yang mengotori jiwa manusia, yakni sikap ketergesa-gesaan. Gupuh. Momentum yang seharusnya diambil sejenak untuk memberi jeda, agar pikiran punya waktu untuk menimbang, membaca utuh, men-thowafi persoalan, semakin sering dilewatkan. Padahal, apa lagi yang akan dituai ketika keputusan diambil dalam kondisi tergesa-gesa, selain besarnya resiko kelasahpahaman dan kehancuran?

Tergesa-gesa sepertinya tidak persis sama dengan cepat. Kanjeng Nabi digambarkan sebagai sosok yang cepat kalau berjalan. Sedangkan tergesa-gesa adalah perbuatan setan. Cepat itu terukur, tergesa-gesa itu tanpa ukuran cenderung ngawur. Jika derap agenda hidup kita sekadar impulsif diburu oleh rasa tergesa-gesa, lalu di mana lagi kita letakkan anjuran Qur’an untuk bertafakkur?

Tetesan hikmah pernah diwedhar oleh marja’ maiyah, Cak Fuad, sebagai berikut :
=====
Allah Swt memuji orang-orang yang melakukan tafakkur dalam surat Ali ‘Imran 191. Mereka yang selalu mengingat Allah dan mentafakkuri fenomena alam, akan sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia. Dengan kata lain, tafakkur meneguhkan iman.

Tafakkur melihat sesuatu secara saksama dengan mendayagunakan akal pikiran untuk memperoleh pengetahuan yang benar dan detail tentang hal tersebut. Adapun tadabbur adalah memahami sesuatu secara saksama untuk mengetahui lebih jauh makna di balik kata-kata atau peristiwa, hal-hal yang harus ditindaklanjuti, dan konsekuensi-konsekuensi yang diakibatkannya.

Di dalam Al-Qur`an, objek tadabbur adalah Al-Qur`an, sedangkan objek tafakkur adalah alam semesta (tadabbur Qur`an dan tafakkur alam)
=====

“Berfikir sesaat lebih baik dari pada qiyamullail”, pesan Ibnu Abbas. “Cogito Ergo Sum”, aku berpikir maka aku ada, sergah filsuf Descartes menyoal eksistensi kemanusiaan. Daftar perihal urgensi berfikir di atas, dapat kita perpanjang hingga berlembar-lembar. Tapi, di mana nikmatnya jika itu tidak kita elaborasi bebarengan melalui perjumpaan rutin kita di Telulikuran?

Dulur, telah tiba waktu bagi kita untuk melingkar kembali. Dengan spirit wa laa tansa nashiibaka minad dunya, mari saling setor kegembiraan dalam mencari yang otentik, mendayagunakan karunia akal budi untuk menguak yang sejati, men-tafakkuri sekujur diri dan semua ciptaan Ilahi, di Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton pada ;

Senin, 21 Oktober 2019
Pukul 19:23 WIB
Di Alun-Alun Wong Bodho, Ds. Sidowungu (Mboro), Kec. Menganti, Gresik