#NderesTema “Tafakkur”

https://files.nccih.nih.gov/s3fs-public/meditation_ThinkstockPhotos 505023182_square.jpg?

Ku memulai menulis dengan mata setengah terbuka,

sudut pandang mulai menyempit pada satu kata “tafakkur”.

 

Lantas salju turun tiba-tiba di lantai imajinasi,

Mendinginkan udara panas,

Menahan detik jam demi jam,

Gunung pun seakan merenung,

Lautpun membeku dalam gelombang waktu itu.

 

Kuambil pensil,

Kutancapkan tepat di titik kesadaran,

Ketika jantung masih berdegup kuat.

 

Dan darah mengalir kencang dari telapak kaki,

Yang lengket di bumi menuju ke langit tertinggi,

Bikinan Alloh.

 

Langit ingatan internal,

Memori purba ini sontak saja, mendikteku.

 

Untuk,

Mengerakkan segumpal ruang,

Yang utuh dalam cangkang pemikiran,

Baru.

 

Bahwa kemarin dan besok pagi adalah hari ini,

Bahwa akar-akarlah yg menghasilkan daun juga buah.

 

Bencana dan keberuntungan mulai sama rasa,

Terbang terasa menyelam,

Waktu seakan menghilang,

Tanganku gemetar.

 

Pensil lalu kuletakkan,

Tepat di atas kertas yang masih baru.

 

Dan kini,

Aku mulai takut,

Takut akan usia yang mulai karatan,

Takut akan hitamnya dunia malam,

Takut akan dangkalnya kolam kesadaran,

Takut kulit terluar badanku yang tak kenyal lagi,

Takut akan catatan kematian,

Yang mulai diproses cetak ,

Takut akan debu, magma dan uranium,

Takut akan otomatisasi, depopulasi dan vaksinasi,

Takut akan suara peluru, tangis bayi dan anjing menggonggong,

Takut akan amnesia, phobia serta trauma,


Keterusan makin menjadi jerih,

Melulu menghantui diri ini,

Seakan sudah mengendap,

Di palung indera bawah,

Bahkan hingga akhir kalimat ini tak juga lengkap kamus “tafakkur” ini.

 

Dan malahan,

Terseret oleh daya kekuatan ombak logika kembali.

 

Kak Irul

JM Damar Kedhaton tinggal di Sememi, Surabaya.