#NderesTema “NANDUR KATRESNAN”

https://images.app.goo.gl/ghvAzvwzGDz7KT88

Bagian 1

Asap mengepul dari bibir yang sudah keriput dan pecah. Di tangannya menggapit sebatang keretek dengan dua jarinya yang sudah mulai beekeriput. Asap mengepul seakan ingin terbang bersama awan melayang bebas menuju kehampaan. Ikat kepala yang sudah mulai lusuh tetap setia menemani dan menahan isi kepala yang seakan-akan meronta dan protes ingin keluar dari tempatnya. Karena sudah merasa tak cukup menampung banyak pikiran dan hasrat yang terus tumbuh membesar tanpa bisa berhenti, terus dan terus, sehingga tengkorak kepala tak mampu menahannya. Teras yang sudah mulai reyot dimakan usia berdiri di depan langgar kecil. Di teras tersebut Azrun duduk menikmati kretek dan secangkir kopi siang tadi. Yang disajikan dalam mug yang sudah udzur.

Azrun teringat akan kekasihnya dahulu. Ia sungguh mencintainya. Ingat sewaktu dia mengejarnya. Untuk mendapatkan cinta dari pujaan hatinya, segala ia lakukan. Mulai hal-hal kecil sampai yang sangat fenomenal. Perlu sekian patah hati untuk akhirnya mendapatkan sang kekasihnya ini. Mulai ber-cangkruk berjam-jam di warung kopi hanya untuk sekedar memandang wajahnya dari kejauhan di saat ia berangkat atau pulang kerja. Menjual atau menggadaikan barang elekronik untuk beli bensin sehingga bisa mengajak “Sadinem” berjalan  tanpa arah dan makan di warung kaki lima. Sungguh sesuatu yang tak berguna kala itu dan seakan pekerjaan yang sia-sia saja.

Tapi kenapa sekarang setelah waktu berlalu semua terasa indah. Setelah menjadi kenangan dan sudah dilalui. Hal itu sangatlah mempesona dan membekas di hati. Seakan hal itu sangatlah luar biasa, dan berkata dalam hati ;

Kok bisa aku melakukan kegiatan seperti itu setelah semua berlalu. Akankah cinta itu indah setelah kita bisa melewatinya, ataukah cinta hanya sekedar cerita. Pada saat itu juga merasa bodoh dan dungu melakukan kesi- sian saja tanpa bisa tahu hasil yang kudapatkan.

Setelah kusunting Sadinem menjadi istriku, aku bahagia dan menjadi raja. Namun  kini kemesraan dan cintaku kemana. Apakah sudah tidak cinta ataukah sudah bosan. Apakah cinta itu hanya sekedar perasaan suka yang terpengaruh fisik semata. Pada paras cantik, kulit mulus, hidung mancung, payudara besar, bodi yang semok aduhai. Tapi kini kita sudah sama sama udzur. Tapi rasa cinta itu sepertinya tak pernah padam. Apakah aku kini sedang berada pada titik kejenuhan ataukah kepasrahan, atau sudah berada pada puncak tertinggi pencapai cinta???

Wajah yang cantik telah sirna, hidung yang mancung juga telah keriput, kulit yang mulus juga sudah kusam dan keriput, payudara yang kencang juga sudah melorot, bodi yang semok pun juga sudah berubah jadi gembrot tak lagi sedap dipandang mata. Aku masih bingung memikirkan bagaimana aku masih bisa terus dan tetap mencintainya. Seakan-akan dia masih sangat mempesona di mata ku…….. Apakah ini CINTA.

Aku merenung jika cinta ukurannya bukanlah fisik atau yang dilihat oleh mata, tapi yang dilihat oleh hati dan jiwa. Seakan semua tak peduli hal yang demikian. Namun cinta juga membawa derita dan kesengsaraan, bagi yang melihat dengan mata.Tapi bagi pelaku adalah penghambaan kenikmatan yang tak terlupakan dan tak berbanding apa pun. Semua indah dan tak satupun yang merasa menjadi beban dalam hidupnya.

=====
Di tengah keasyikannya Azrun bercinta dengan imajinasinya, suara tanpa wujud menyapa

“Hai….adzrun apa yang kau pikir itu telah membuat kau terlena dan tertipu”

Sontak saja Adzrun kaget buka kepalang .

Sosok itu datang disertai lolongan panjang serigala hutan…

=======

Bagian 2

Siapa kamu bersuara tapi tak berwujud.

“Aku adalah Khorim. Ha…… Ha…… Ha….. Jangan sombong dan congkak, kau menipu diriku. Tidaklah mungkin makhluk seperti dirimu menemuiku. Aku yang tak punya kredibilitas untuk dan pantas di temui”. Khorim membisu dengan raut muka yang begitu datar dan santuy. Azrun berkata “ya sudah. Duduk sini, mari kita ngobrol. Ini kalau kamu mau, ada kopi sisa tadi siang dan rokok hasil ngutang”. Sambil menyeruput kopi dan menyalakan rokok, khorim memulai obrolan. “Apa yang kamu tau tentang cinta?”.

“Cinta adalah hal yang indah dan didapatkan serta dimiliki oleh semua makhluk. Dan itu adalah hak semua makhluk di alam ini. Jika demikian hal nya, bolehkah manusia mencintai apa yang dia suka?”. khorim mulai bertanya.

“Tentu saja boleh”. Sergah Azrun. Khorim mulai mengernyitkan dahinya. “Haruskah cinta berlebihan??”.

“Harus”. kata Azrun. “Jika tidak berlebihan dan totalitas itu bukan cinta, hanya cinta tai ayam. Cinta harus menyeluruh dan masuk secara utuh, tidak merasakan lagi keberadaan diri”. Sambung Azrun.

“Bagaimana jika itu tidak bermanfaat untuk dirimu?”. Sahut Khorim. “Tak masalah”. sahut Azrun dengan PD nya. “Bagiku, apa yang kulakukan adalah hal yang kusenangi dan untuk yang ku cintai, apa pun hasilnya nanti pastilah aku akan senang.Tak peduli apa yang terjadi pada diriku. Yang pasti aku berusaha membuat dia tersenyum, itu saja”. Azrun tak kalah membela.

“Taukah kamu, ia tak mencintai seperti yang kamu kira, jangan-jangan itu hanya permainan saja”. Khorim mulai meningkatkan ardenalin.

“………….Aku senang akan permainan, bukankah hidup ini juga permainan? Bisa dibilang adalah ajang judi. Hai Azrun, apa yang kamu bilang. Kamu diciptakan bukan main-main dan juga bukan permainan. Sungguh picik sekali pikiranmu”. “Haaaaa……… Haaaaa….. Haaaa.. Kenapa engkau kaget, aku sudah menduga kau akan seperti itu. Dengarkan dulu apa yang kukatakan. Dengarkan baik-baik dan perhatikan. Ingat, jangan main-main dan awas, jangan sampai kamu salah dan tidak paham”. Azrun tak kalah berargumen.

“Hidup punya peluang, punya kemungkinan, dan kemungkinan itu ada di tanganmu. Bila dadu yang kau lemparkan ke arena merupakan langkah mu. Walupun jumlah angka yang muncul bukan kuasamu, tapi tanganmu yang melemparkan dadu itu. Sedikit banyak, tanganmu juga menentukan seberapa jauh langkahmu. Keyakinan dan keseriusan pasti akan berpengaruh juga pada jumlah angka pada dadu. Sengkuni senang akan permainan dadu. Karena dalam hal ini semua kemungkinan bisa terjadi. Hati manusia, perasaan manusia, pikiran, bahkan juga akal, sering tak terkontrol, mudah sekali membolak-balikkan mereka. Tak disadari, sang Bandarlah yang paling diuntungkan dan paling mengerti permainan itu”. Khorim mulai termangu. Satu sruputan dari sebatang rokok mulai ia nyalakan.

Ditengah keheningan, dua jasad yang sedang terdiam dan menikmati aroma kretek mereka. Suara yang parau menyapa “lagi ngopi kang”. Ucap Markabul.

“Enggeh, monggo pinarak kang”. Azrun mempersilahkan Markabul. “Dari mana kang?”. tanya Azrun. “Cari angin ini”. jawab Markabul. “Kelihatannya lagi kacau, apa memang begitu raut wajah mu kang?”. Azrun kembali bertanya.

Sambil menyulut kereteknya, Markabul mulai bicara. “Sungguh apa yang kulakukan ini sia sia atau apa ya…”

“Laaaaa… ini”. Tiba-tiba Khorim menyeletuk. “Tidak kang, apa yang sampean lakukan bukan sia-sia dan bukanlah tiada guna. Hanya saja belum mengerti kegunaan nya dan itu wajar terjadi”. Sambung Khorim. Hubungan manusia dengan Tuhannya hanyalah rahmat semata, tidak lah mungkin Tuhan mengadzab kita walupun Tuhan memungkinkan dan berkuasa atas hal itu. Karena Allah berkata bahwa rahmat ku akan menghapus adzabku, cuma masalahnya manusia belum mengerti dan memahami rahmat dari Allah. Terlalu cepat berprasangka buruk, apa yang di pandang tidaklah meng-enak-kan dan membuat dia menderita dalam penglihatan kasat mata. Dengan mudahnya berpendapat bahwa ini adzab Allah. Khorim mulai menimpali.

“Ia kang bener juga. Jika saja aku berpikir seperti itu, tentu hidupku akan selalu terasa indah. Waktu istriku ngomel dan marah dan ujung-ujungnya minta pulang ke rumah orang tuanya, karena aku kurang memberi uang belanja. Maka, seharusnya aku berfikir, istriku itu pintar, dari pada hidup bersamaku kekurangan, kasihan juga. Terlebih kepada anak-anak ku jadi tak terurus. Lebih baik pulang ke rumah orang tuanya. Dengan demikian, ia justru ingin membantu meringankan bebanku. Sekarang Markabul bisa tertawa lepas “kkkkkk……kkkkkk…..kkkk..”. “Semua yang menjadi sunatullah itu adalah hal yang baik lo kang ? Dan itu juga tidak asal asalan”. Azrun berkomentar. “Walaupun hal yang buruk kang”, Markabul mulai mengejar.

Ia betul. Contoh sudah menjadi sunatullah, bahwasanya ketika berada dalam keadaan kaya, banyak uang, dan mapan, dengan mudah mencari teman dan seakan kita selalu dibutuhkan.Tapi, ketika kita jatuh, hanya sedikit yang masih memperhatikan dan akrab. Hal itu baik.

“Loo kok”. Markabul mulai tak mengerti.

“Gini lo kang”, Azrun mulai bicara. “Coba bayangkan ketika dalam keadaan jatuh pailit, misalnya. Terus saya harus cari kerja yang sangat jauh keadaannya dari yang kemarin. Misalnya, saya jadi kuli bangunan, pada waktu dimarahi tukang karena kurang semen, terus sampean menemui saya. Padahal sampean mengenal saya sebagai seorang yang kaya dan berduit, tapi yang sampean temui kini seorang kuli pas dimarahi lagi. Apakah saya tidak malu dan membuat martabat saya jatuh? kan mending tidak tau keadaan saya, dengan begitu martabat saya terselamatkan”.

“Ia pas kang, masuk akal juga. Jika semua punya pikiran seperti itu alangkah indah nya hidup ini”

“Sebentar kang ya, mau beli kopi dulu di warung sebelah pos kamling”. Khorim minta izin.

Monggo kang  sahut mereka berdua……….

 

Nanang Timur

JM Damar Kedhaton tinggal di Kedanyang, Gresik.