#Nderes Tema – Ngreksa Wasita Sinandhi

https://www.google.com/search?tbs=sbi:…#imgrc=CSSXURNniugG-M:

Pada edisi ke-16, Damar Kedhaton mengusung tema Ngreksa Wasita Sinandhi. Dahulu, tatkala pembahasan tema itu bergulir. Nampak saya rasakan atmosfer kesungguhan interaksi antar jamaah berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang apa saja yang berkaitan dengan Ngreksa “menjaga”, Wasita “pitutur/nasihat”, Sinandhi “tersamar/tersembunyi”. Dapat saya simpulkan tema ini telah membuka kembali pintu-pintu ilmu dari leluhur. Mengurai dogma ala modern yang kerap mencap tidak relevannya pitutur leluhur untuk diingat, dijaga dan digunakan pada masa kini. Mulanya, kesadaran merubah stigma semacam itu mandheg dan tersumbat. Namun, dari tema ini akhirnya menjadikan dinamika interpersonal lancar serta mengalir deras. Mengingat melimpahnya petunjuk dari Allah Swt dan nasihat luluhur yang dinyata-pesankan pada kita. Perlu bagi saya, menginterpretasikan apa saja yang berkaitan dengan tema ini kepada dulur-dulur. Bisa dibilang, mungkin ini merupakan wujud musim seminya sebuah tema yang telah disinaoni bersama pada edisi majelis ilmu telulikuran yang telah berlalu.

Manusia sebagai mahluk yang faqir, seharusnya senantiasa sebisa mungkin untuk menjaga dan merawat kepekaan terhadap perolehan nikmat yang sudah Allah Swt berikan. Dan kesadaran itu yang sampai saat ini masih saya gapai semampu-mampunya. Meski terkadang, adakalanya jasad dan jiwa ini terperosok kembali lupa dan terlunta-lunta karena lalai bersyukur atas rahmat serta nikmatNya. Dulu, saya juga pernah memiliki latar belakang pola pikir kekinian dan melegitimasinya, bahwa kerangka pikir futuristik yang layak dijadikan rujukan. Terbesit ingatan dan sesekali ditegur oleh orang-orang tua bahwa tidak semua metode manusia modern akan memahami suatu hal itu senantiasa akseptabel. Nyatanya, riuh rendah kerangka pikir manusia kekinian acapkali menafikan konsep teologi ke dalam segala keputusannya. Akibatnya, sebuah petunjuk tuhan berupa tanda yang dimanifestasikan lewat alam dan nasihat leluhur yang disisipkan pada kehidupan, hanya dijadikan objek mitos belaka.

Pasti dari kita, mungkin di antara yang membaca tulisan ini. Ada yang pernah merasakan hadirnya petunjuk atau jawaban atas ruwetnya ujian, masalah atau kegelisahan yang sedang kita alami. Semacam jetlag pada ke-GR-an kita sendiri; nah ini, kok pas bener, kok sinkron ya, bener kata Mbahku dulu ternyata, dll. Seolah kita sedang dihadapkan dengan petunjuk yang tak bisa untuk mengelaknya. Bentuk petunjuk itu hadirnya beragam; bisa karena memandang alam, benda, hewan serta tumbuhan. Dan mampu juga hadir dengan terbesit sekian detik, teringat nasihat atau pitutur dari sesepuh-leluhur kita dahulu. Meski, kedua bentuk petunjuk ini terkadang bersifat tersamar atau tersembunyi. Selaras dengan perintah Allah Swt dalam alquran, bahwa manusia diwajibkan menggunakan akalnya untuk berpikir meresapi kebesaran-kebesaran Allah Swt.

Ngreksa Wasita Sinadhi, mampu kita ugemi setiap saat. Darinya pasti kita dapatkan kepekaan-kepekaan dalam merasakan hadirnya segala bentuk petunjuk. Sebab petunjuk bisa datang dari Allah Swt dan disematkan pada mahlukNya. Semoga saya dan dulur-dulur senantiasa dijaga Allah Swt. Diberikan hidayah tanpa jeda.

Aamiin…

 

Rezki Angger Kurniawan

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik