BERIMAN KEPADA TAKDIR BURUK

Ilustrasi : https://1freewallpapers.com/spring-flood-trees/id

Tabiat manusia menyenangi yang baik-baik. Gembira dengan yang indah – indah. Merasa nyaman dengan kemudahan-kemudahan. Sebaliknya manusia sangat mudah sekali berkeluh kesah apabila ditimpa kesusahan. Mudah sekali berputus asa ketika dihadang ujian. Padahal kalau kita mau jujur, adanya kesedihan membuat kebahagian lebih bermakna. Adanya ujian, membuat kualitas syukur kita meningkat apabila diberi anugerah.

Ketika musibah atau ujian datang, pernah nggak kita mengucapkan (mengeluh) seperti ini,  “Ya Allah, kenapa Engkau kasih cobaan seperti ini?!” Atau kemudian berkata, “Semua ini gara-gara kamu! “ Atau pernyataan-pernyataan yang sejenis?

Dalam kacamata tauhid, ketika seseorang menghadapi musibah atau bencana, manusia terbagi menjadi dua macam. Sementara orang menerimanya sebagai bagian dari takdir Allah. Di lain pihak, ada yang menisbatkan musibah karena selainNya.

Dua kutub tersebut sama-sama direkam dalam Al Qur’an. Orang orang yang beriman akan menyadari bahwasanya segala ujian, musibah, pun datang dari Allah. Tidak semata anugerah saja. Meski segala ujian kesusahan hakikatnya dikarenakan ulah manusia sendiri. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa:79).

Kesadaran manusia beriman menyandarkan setiap musibah berasal dari takdir (ketentuan) Allah. “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al Baqoroh : 156). Tentu saja mengimani takdir di sini tidak lantas pasif loh ya. Karena bagian takdir adalah adanya hubungan kausalitas, maka mereka akan mencari hikmah di setiap musibah yang hadir. Sehingga setiap ujian atau musibah yang ada semakin meningkatkan kualitas manusia yang beriman.

“Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.” (QS. Al A’raf:131). Demikian Al Qur’an merekam perilaku Bani Israil. Dan ternyata kaum musyrik Makkah pun melakukan hal yang sama kepada Nabi Muhammad. “Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. (QS. An-Nisa :78)

Apa kemudian yang tampak di sini? Blaming others. Menyalahkan orang lain. Tidak melakukan introspeksi maupun restrospeksi. Kesalahan-kesalahan yang sama berulang. Sehingga sangat memungkinkan kejadian (musibah) pun berulang-ulang. Misal, banjir yang terjadi setiap musim hujan tiba tanpa ada kemudian perbaikan prinsipil baik menyangkut kualitas manusianya maupun lingkungannya.

Akhirnya, coba kita telisik ke dalam diri kita masing-masing. Jangan-jangan kita – meskipun mudah mengucapkan syukur alhamdulillah ketika dikarunia anugerah oleh Allah – ternyata masih amat sangat susah menerima ujian sebagai bagian dari skenario takdir Allah yang telah dituliskan di lauh mahfudz. Seolah-olah kita hanya mengimani takdir Allah yang baik-baik saja kemudian mengesampingkan takdir Allah yang buruk. Bukankah rukun iman kita mensyaratkan mengimani keduanya?

Nah, sebagai umat Al Amin, Muhammad saw, ke manakah pendulum hati-pikiran kita menyikapi adanya musibah atau ujian Allah?

Jamaluddin Rosyidi
Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik