MERAWAT KESADARAN ILMU

https://images.app.goo.gl/73ozAA5hGd3Mtm7MA

MERAWAT

Mbah Nun di akhir 2019 lalu berpesan kurang lebih seperti ini, “kalau kita beriman kepada Allah itu adalah hal yang wajar, dan sudah semestinya. Tetapi, yang harus kita perjuangkan adalah bagaimana caranya agar kita menjadi manusia yang dipercaya oleh Allah.”

Berhari-hari aku mengingat-ingat kalimat itu. Bahkan sampai berganti bulan. Mbah Nun tidak hanya sekali berkata seperti itu saat maiyahan. Menurut ingatanku, sudah lama beliau menyampaikan soal itu. Namun kita saja yang tidak sadar serta mendalami apa yang dipesankan Mbah Nun, yang kemudian dimantapkan lagi oleh beliau di penghujung tahun 2019.

Tahun 2019 adalah tahun dimana aku memulai melaksanakan ibadah sunnah, yaitu menikah. Menikah adalah babak baru perjuangan dalam hidup. Lebih tepatnya bisa dikatakan “sempurnanya ibadah adalah ketika sudah menikah dan bersedia menjalani bekal yang didapat pra nikah“.

Seketika itu, di dalam pikiranku juga hatiku, terbersit kalimat “pengamalan” suatu ikhtiar yang harus diperjuangkan dalam hidup ini untuk menggapai ridho Allah ta’ala. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan aku selalu kepikiran tentang kalimat yang diutarakan oleh Mbah Nun. Hingga pada suatu saat aku merasa gelisah, karena belum menemukan makna dari kalimat itu.

Keseharianku dulu sebelum nikah, sering ngaji di Abah. Bisa dikatakan “setiap hari” kecuali hari minggu, bukan hanya karena aku ingin libur, tetapi aku juga ingin memberi waktu istirahat untuk Abah. Agar menjadi perjumpaan kerinduanku setelah adanya jarak (libur). Tetapi setelah menikah, malah jarang sekali aku menemui Abah. Bisa 3 kali atau 2 kali dalam seminggu. Karena sulitnya membagi waktu perhatianku dengan keluarga, masyarakat sekitar, dan waktu ngajiku.

Sampai saat ini aku ingin sekali ke Abah meskipun hanya salim cium tangannya. Aku merasa damai jika sudah bertemu Abah dan juga Mbah Nun dalam hidupku. Entah apa yang aku rasakan. Namun ini adalah rasa yang pernah ada dalam hidupku.

Di saat aku merasa buntu dan resah dalam menjalani hidupku, jika aku kangen, aku hanya mampu ber-tawassul kepada beliau berdua. Tak lupa juga lebih dulu aku ber-tawassul kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dan keajaiban terjadi setelah itu, kemudahan berangkat  ngaji serta bersosialisasi dengan teman-teman sefrekuensi denganku berjalan lancar. Meski hanya bersua dengan temanku di warung kopi.

Mengingat-ingat kalimat Mbah Nun kala itu, aku padukan dengan dhawuhe Abah yang sangat kuat menempel di ingatan. Abah ngendikan, “oleh ilmu sitik tapi dilakoni tenanan kanti ikhlas sampek akhir hayat iku luwih apik derajate ketimbang golek ilmu akeh tapi gak dilakoni.

Menimbang-nimbang dhawuhe Abah dan juga Mbah Nun kala itu aku lalu teringat dan telah menemukan sebuah petunjuk dari Allah lantaran beliau berdua. Yang mana jika aku sejajarkan maknanya sama. Yaitu lebih tepatnya aku simpulkan maknanya ialah istiqomah. Dalam bahasaku istiqomah adalah “merawat”. Ini menurut saya loh ya. Semoga saja teman-teman bisa memberi masukan jika aku salah.

Sejak saat itu, semakin aku berharap dan berdo’a kepada Allah untuk bisa melakukannya. Suatu misal, aku pernah ngaji bab thaharah (bersuci). Bagaimana cara menyucikan najis, mulai dari najis mutawasithah, mukhafafah, dan mugholadhoh. Di situ dijelaskan, syariat bersuci dengan cara menyiram air pada bekas najis yang sudah kita hilangkan bentuknya, sebut saja áiniyah-nya. Namun hukmiyah-nya belum dikatakan suci kalau belum disiram air. Begitu menurut penjelasan kitab Safunatussholah.

Dalam keseharian kita, sering kita temui tempat yang sering terkena najis. Misal di tempat ibadah, masjid atau mushala.  Karena ada burung yang bertengger di atas langit-langit masjid yang menyebabkan berceceran kotoran di lantai-lantai masjid. Bagi orang yang mempunyai ilmu thaharah, sudah menjadi sebuah tanggung jawabnya ketika melihat hal seperti itu. Dengan mengamalkan ilmunya agar lantai masjid kembali suci. Kalau di tempat umum, itu menjadi tanggung jawab umum.

Berbeda dengan di lingkungan kita pribadi, misal keluarga. Sering juga kan kita melihat najis di lantai rumah bahkan lebih-lebih di pakaian yang kita pakai, misal, saat terkena cipratan air kencing ketika di kamar mandi.

Dari situ aku “merawat” kesadaran ilmu, dalam artian berjuang “istiqomah” untuk tetap bertanggung jawab atas ilmu yang aku miliki.

Terimakasih kasih Ya Allah, telah Engkau pertemukan aku dengan beliau, karena beliau, aku telah tergugah untuk terus “merawat kesadaran ilmu” agar tetap seimbang dalam hidup bermasyarakat.

Namun semua tidak berhenti disitu. Seperti yang di firmankan Allah di surat Al insyirah. Yang berbunyi :

Allah SWT berfirman:

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

fa idzaa faroghta fanshob

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),”

(QS. Al-Insyirah 94: Ayat 7)

Tetap semangat, jangan menyerah.

Yowes ngunu iku rek, masio lunyu kudu terus menek,” pesan Mbah Nun

Yowes ngunu iku ndunyo, nek kepingin enak yo nango suwargo“, pesan Abah

Ojo mutung rek!!!” tukas Tedjoandreanto

Gudang, 30 Januari 2020

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.