Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedathon Edisi #42 –Maret 2020 “Wahan wa Qorun”

Dunia dengan segala pernak-perniknya yang telah tercipta, baik sejak dulu kala, masa kini, hingga kelak nanti yang belum dan akan kita hampiri, selalu saja memikat hati. Terpatri di Al Qur’an bahwa memang telah dijadikan tampak indah di mata pandang manusia: wanita, anak, harta, emas  dan kendaraan. Tak sedikit juga yang terjebak masuk ke dalam lubang kehinaan diri. Bahwa, yang sejati bukanlah materi yang memanjakan itu, melainkan bagaimana menjadikan materi itu sebagai kendaraan menuju Sang Rabbi. Tentunya, harus menempuh perjuangan ekstra tanpa henti serta lika-liku terjal cobaan yang datang silih berganti. Maka dari itu, dibutuhkan kesabaran untuk menata hati dan menjernihkan pikiran agar tak mudah terjerumus dalam keteledoran diri.

Perlu kiranya menjadi bekal bagi kita bersama, untuk mencoba menilik sejarah di masa lampau. Salah satunya adalah kisah si Qorun. Ia adalah seseorang yang pernah dikisahkan di dalam Al-Qur’an. Di Surat Al-Qashash ayat 76-83, Qorun yang hidup semasa dengan Nabi Musa diulas secara tegas dan jelas.

Pada awal masa hidupnya, Qorun adalah seseorang yang sangat miskin. Bahkan, ia tak mampu menghidupi kebutuhan keluarga beserta anak-anaknya yang terbilang cukup banyak. Hingga pada suatu ketika, ia dilimpahi harta kekayaan berkat doa Nabi Musa. Setelah menjadi kaya, Qorun pun lupa akan kondisi di saat papa. Hingga ia pun terlena dan menjadikan hartanya sebagai simbol kekuasaan, kekuatan, dan kegagahan yang berujung pada riya’.

Dari penggalan kisah tersebut, ada korelasi yang terikat. Sifat perwatakan yang ada pada diri Qorun dengan kecintaan yang berlebih pada dunia, hingga membuatnya semakin terlena. Allah sendiri telah memberikan rumus atau panduan dasar kepada manusia dalam menjalani hidupnya di tahap dunia: “Wabtaghi fiimaa ataakallaahud-daarol aakhirah, walaa tansa nashaibaka minad-dunya”. (“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”).

Tanpa mengurangi rasa cinta di antara kita semua, dengan berpijak pada paseduluran Al-Mutahabbina Fillah, mari kita satukan frekuensi hati, saling berkenduri untuk setia belajar tanpa henti, demi mencari apa yang paling sejati di dunia dan kehidupan ini, dalam Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi yang ke-42. Bersama kita cipta ruang untuk menumbuhkan kegembiraan dan kemesraan yang diridhoi oleh Allah Swt. pada :

 

Hari : Selasa, 17 Maret 2020

Pukul : 19.23 WIB

Tempat : Aula Islaachul Ummah, Ponpes At Tauhid

Dusun Ngebret, Desa Morowudi Kecamatan Cerme.