Corona “Memayu Hayuning Bawana”

Corona “Memayu Hayuning Bawana”

Seandainya dilakukan polling ke warga dunia “Apakah setuju jika masa aktif pandemi Covid-19 diperpanjang sampai akhir tahun 2020?”, saya kurang yakin yang menjawab “setuju” akan sampai 1%. Bukan tanpa alasan, karena secara psikologis orang normal jelas tidak betah dihadapkan dengan ketidakpastian dan insecurity, padahal itulah yang ditebarkan corona―lewat ancaman infeksi (resiko sakit, kematian) dan kemandekan ekonomi. Saking khawatirnya melihat dampak ekonomi akibat Covid-19, menteri keuangan di salah satu negara bagian Jerman, Thomas Schaefer, bunuh diri akhir bulan lalu. Ini contoh ekstrem bahwa wabah corona juga membawa efek pada kejiwaan seseorang. Di Indonesia sendiri orang-orang di desa sudah banyak yang pakai masker kalau keluar rumah dan juga rajin cuci tangan, walaupun mungkin batinnya tidak begitu cemas dengan corona kecuali terkait urusan ‘dapur’ karena dampaknya sudah mulai terasa. Jika yang di desa saja sudah mulai agak khawatir dengan wabah ini, sampean bisa bayangkan bagaimana khawatirnya orang-orang di Jakarta sana dengan 1,443 kasus positif corona dan 141 orang meninggal (per 7 April 2020). Anjuran dan arahan memakai masker, cuci tangan, menjaga imun tubuh, sampai ajakan social distancing dan stay at home sudah menyebar luas; bahkan desa-desa, kecamatan dan kota-kota juga sudah ada beberapa yang mulai melakukan karantina lokal. Dari kecil sampai setua ini baru hari ini saya menyaksikan lembaga/otoritas dan ormas-ormas Islam di seantero dunia nyaris satu suara memfatwakan sholat jamaah dan sholat Jumat di masjid (boleh) ditiadakan. Semua perintah, anjuran, dan fatwa sudah dikerjakan sebisa mungkin, tapi.. rasanya kok masih ada yang kurang, sesuatu yang lebih mendasar daripada social distancing dan lockdown. Di tengah-tengah wabah dan krisis seperti sekarang, selain rasa aman (security), apa yang sesungguhnya kita butuhkan adalah “MAKNA”.

Membaca sejarah wabah-wabah besar di dunia yang berulang kira-kira setiap 50-100 tahun sekali dengan korban ratusan ribu sampai puluhan juta, pandemi Covid-19 sekarang terlihat ‘wajar’, rasa-rasane memang sudah semestinya terjadi, wes titi wancine. Satu hal yang pasti: semua mustahil terjadi tanpa izin Allah swt, tak terkecuali Covid-19. Apa ini lantas salahnya Allah? Ya silahkan saja menuduh atau memutuskan Allah sebagai terdakwanya, itu kalau sampean bisa membuktikannya. Masalahnya sekarang kan orang salah kaprah mengidentifikasi virus corona. Baru mendengar nama “virus” saja sudah pada ngeri duluan, bergidik, padahal kita jauh dari paham “apa dan siapa” virus (corona) itu sebenarnya. Hari ini dunia menyatakan perang melawan corona! Rawe-rawe rantas malang-malang tuntas! Corona sendiri sekalipun belum pernah ‘diadili’, tiba-tiba saja secara sepihak orang beramai-ramai menuduhnya sebagai dalang tunggal di balik pandemi Covid-19. Seandainya kita bisa paham bahasa corona, kira-kira dia mau komplain ke manusia “aja maneh dikongkon nyusun rencana pembantaian massal menungsa sak ndunya, lha wong gawe uripku dewe ae utang wong liya”. Sejauh yang manusia bisa pahami, virus itu gak bisa hidup mandiri seperti halnya tumbuhan, binatang, atau manusia; virus corona butuh pinjaman “mesin metabolisme” dari sel inangnya supaya bisa berkembang biak. Sel inang corona bisa apa saja: babi, anjing, kelelawar, trenggiling (pangolin), musang, kucing, sapi, termasuk juga manusia. Lha lek ngene yo repot mau pakai strategi yang seperti apa untuk mengamankan corona ke depannya, lha wong virus itu ada di mana-mana, diobong gak kobong disiram gak teles.

Corona tunduk patuh pada (hukum) Allah, sami’na wa atho’na, sedangkan manusia sami’na wala nuti’: mendengar tapi tidak patuh. Barangkali karena perbedaan sifat dasar inilah yang menjadikan corona bisa sangat survive sambil istiqomah bermutasi dan berevolusi menjalankan perannya di bumi, sementara manusia, meskipun zalim dan bodoh, tapi atas kebijaksanaan Allah tetap dijadikan sebagai khalifah di bumi disebabkan kesanggupannya memikul “amanat kehendak bebas dan tanggung jawab” (Al-Ahzab: 72)―jika berbuat baik akan dibalas kebaikan, jika berbuat keburukan akan dibalas siksa. Sebuah prinsip hukum yang sangat simple tapi pada praktiknya gampang-gampang susah. Gampang karena kesederhanaan logika hukumnya, susah karena ternyata dalam diri manusia sendiri inherent sifat-sifat yang, jika tidak dikelola dengan benar dan hati-hati, akan menjerumuskannya pada wabah kezaliman dan kebodohan. Keserakahan menjadi watak utama peradaban modern dalam seratus tahun terakhir. Perang dan permusuhan, kesenjangan sosial dan kemiskinan, ketidakadilan dan marjinalisasi negara-negara dunia ketiga, pandemi dan perubahan iklim, semuanya menunjuk pada kondisi patogenesis akibat infeksi virus ‘qorun’ yang menyerang trakea dan paru-paru peradaban global. Dalam sebuah riwayat, digambarkan Nabi Muhammad tidak tampak begitu khawatir kalau sepeninggalnya nanti umatnya akan jadi musyrik; tapi beliau khawatir kalau mereka berlomba-lomba berebut dunia. Kekhawatiran itu bisa jadi muncul dari penglihatan mata batin beliau (vision) atas peradaban abad 20 dan 21 yang nggragas naudzubillah dan overdosis hubbud dunya, yang dari dalamnya lahir syirik-syirik baru yang lebih berbahaya ketimbang masyarakat musyrik primitif penyembah patung. Sesembahan syirik baru ini adalah “egosentrisme” dan “keserakahan”, dasar aqidahnya: “menghasilkan uang hanya demi menghasilkan uang”, kiblat sholatnya menghadap ke “materialisme” dan “hedonisme”. Syirik jenis ini yang lebih ditakuti Nabi daripada syirik primitif kaum Quraisy. Lalu apa hubungannya dengan wabah corona?

Kira-kira dua miliar tahun sebelum Adam alaihissalam tinggal di bumi, virus dan bakteri sudah ngekos duluan di sini. Di masa-masa itu ketika bumi masih ‘kanak-kanak’, virus dan bakteri-bakteri primitif terus menerus berevolusi, bebrayan dan saling silaturrahim (coexistence) dengan sesamanya dan makhluk lainnya tanpa pernah terputus demi menyiapkan sandang, pangan, dan papan sang khalifah utusan Tuhan yang kelak akan menghuni bumi. Perputaran energi dan pertukaran materi penyusun kehidupan telah berlangsung selama empat miliar tahun dan masih akan terus berlangsung menyusuri rantai-rantai makanan serta jaringan ekosistem bumi (biosfer) tanpa pernah berhenti sedetikpun. Fabiayyi ‘Aala’i Rabbikuma tukadziban: ungkapan sayang penuh kelembutan dari Tuhan untuk mengingatkan hamba-Nya bahwa nikmat penciptaan seringkali tersembunyi dari pandangan mata. Tapi sayang seribu sayang, diwehi ati ngerogoh rempela. Amanat kehendak bebas dari Tuhan diselewengkan manusia menjadi sekedar alat untuk mengeksploitasi bumi, bahkan menumpahkan darah saudaranya, sambil mereka pura-pura bodoh dan lupa kalau janji Allah itu pasti―”siapa yang berbuat keburukan akan dibalas siksa”; “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka” (Ar Rum: 41). Manusia tidak saja zalim tapi juga bodoh, dan kebodohan yang paling merusak kehidupan adalah menganggap bahwa yang tak kelihatan mata itu tidak ada, tidak bernilai, dan tidak signifikan.

Virus corona dan makhluk-makhluk kecil lainnya tak pernah benar-benar digatekna menungsa, gak dianggep blas babar pisan, padahal riwayat-riwayat ilmiah mengabarkan kalau virus ini sudah lama muter-muter dan pindah-pindah sarang di dalam populasi hewan-hewan liar. Entah sudah berapa ribu kali mereka bermutasi dan bermetamorfosis menjadi strain virus baru yang siap berpindah kapan saja ke inang baru. “Kenapa harus kelelawar, pangolin, atau binatang liar lainnya yang menjadi “reservoir” ideal buat aneka rupa virus, termasuk corona?” Pertanyaan itu kadang munyer-munyer di kepala saya. Dalam konteks pernyataan Allah “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka Bumi” (Al Baqarah: 30), maka virus dan semua mikroba tak kasat mata, pasti, tidak mungkin tidak, berkait erat dengan fungsi kekhalifahan masyarakat manusia. Allah tahu persis bahwa khalifah utusannya bakal ngobongi alas, ngeracuni segara lan sak piturute, tapi Dia tidak membiarkan itu terjadi begitu saja tanpa tujuan dan perhitungan. Ruang dan mekanisme untuk mengakomodasi kezaliman manusia sudah disediakan Allah melalui “Evolusi”―salah satu “Magnum Opus”Nya―yang tujuan utamanya adalah memastikan terlaksananya pembagian kekuasaan (power sharing) di seluruh tingkatan piramida ekosistem agar jangan sampai muncul otoritarianisme, oligarki, atau monopoli kekuasaan di antara pelaku-pelaku kehidupan. Evolusi membentangkan jaring-jaring biologis kehidupan yang melingkupi keseluruhan struktur dan proses kehidupan itu sendiri, memungkinkan pertukaran energi dan materi tiada akhir serta silaturrahim abadi lintas spesies. Setiap getaran dan gangguan yang terjadi di atas jaring-jaring kehidupan―di koordinat ruang-waktu manapun―akan berpengaruh pada keseluruhan jaring-jaring itu, semacam butterfly effect. Jika ditempatkan dalam konteks Al Baqarah: 30, evolusi adalah dasar bagi penyelenggaraan fungsi kekhalifahan manusia di Bumi: menebarkan rahmat dan keselamatan bagi seluruh kehidupan, “memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara”.

Faktanya, manusia duduk di puncak piramida ekosistem sambil kakinya ongkang-ongkang; ia ditipu oleh prasangkanya sendiri bahwa dirinya tak punya musuh; mereka makan apa saja semau-maunya dan mengeruk sebanyak-banyaknya dari dalam hutan dan laut sambil terus menyesaki bumi tanpa sedikitpun merasa sungkan kepada makhluk lainnya. Kalau Allah sendiri “sih woles” saja kita mau ngerubuhna gunung, mbabati alas, atau nguras segara, tapi ya itu, sunnatullah tak bisa ditawar dengan gampang: tak boleh ada monopoli kekuasaan, yang berbuat kerusakan pasti (akan) dibalas, dan fungsi kekhalifahan harus terus disebarluaskan. Kun Fayakun! Wabah Covid-19 dari Wuhan merembet ke seluruh penjuru dunia dalam waktu kurang dari tiga bulan, menginfeksi 1.4 juta lebih manusia dan mewafatkan 82,000 manusia (per 8 April 2020). Dari mana datangnya virus corona? Peneliti di Cina dan luar Cina mensahihkan riwayat-riwayat ilmiah yang menunjukkan bahwa kelelawar dan pangolin adalah “reservoir” (rumah penampungan) bagi virus dari jenis corona yang secara genetik sangat mirip dengan virus Covid-19.

“Hasil analisis genom virus corona yang diisolasi dari kelelawar liar di provinsi Yunnan, Cina, memperlihatkan 96% kemiripan dengan material genetik virus Covid-19; sementara itu virus corona dari trenggiling (pangolin) yang meskipun kemiripan genomnya dengan virus Covid-19 lebih rendah (91%), tetapi 5 asam amino kunci di protein “spike”nya mempunyai kemiripan sangat konsisten dengan yang ada di virus Covid-19, sedangkan asam amino protein “spike” pada virus kelelawar tidak begitu identik dengan yang ada pada virus Covid-192. Protein “spike” ini bisa diibaratkan seperti jangkar yang dipakai virus Covid-19 untuk menempelkan dirinya pada permukaan sel manusia (sel paru-paru, arteri, usus), sementara asam amino yang ada di ‘jangkar’ berfungsi seperti kunci/kode yang dipakai untuk membuka ACE2 (angiotensin converting enzyme 2)―semacam “akses masuk” ke dalam sel manusia”.

Ijtihad ilmiah di atas patut kita tafakkuri: virus corona pada kelelawar mempunyai banyak kemiripan genetik dengan virus Covid-19 tapi ‘jangkar dan kuncinya’ tidak mirip, sedangkan virus corona yang di pangolin agak mirip dengan virus Covid-19 tapi ‘jangkar dan kuncinya’ sangat identik. Bukan mustahil kalau virus Covid-19 adalah hasil rekombinasi dua virus yang ada di kelelawar dan pangolin lewat wasilah seleksi alam, kemudian berpindah ke manusia, bisa secara langsung atau lewat hewan perantara lain. Ndlalah orang-orang Cina sudah ratusan tahun doyan nggado pangolin―yang ternyata Indonesia adalah eksportir utama pangolin Sunda sejak sebelum era kemerdekaan. Apa tidak mungkin kalau mulut dan hidung para pecinta daging pangolin di Cina sana menjadi pintu keluar-masuknya serta jalur pertukaran virus Covid-19 dengan manusia? Sepanjang 2019, imigrasi Cina berhasil menyita 23 metric ton kulit pangolin yang didapat dari sekitar 50,000 ekor pangolin. Sudah turun-temurun ratusan tahun masyarakat Cina percaya kalau kulit pangolin bisa mengobati aneka macam penyakit, mulai dari yang sifatnya medis sampai non-medis. Daging dan darahnya juga dimakan―opo jenenge lek gak nggragas bin kemaruk?! Malah bukan cuma pangolin dan kelelawar, orang-orang di Cina sana juga gemar makan ular, buaya, landak, rakun, musang, tikus, anjing, kucing.. kabeh dipangan! Terus, apa ada yang bisa menjamin kalau hewan-hewan ini bersih dari virus-virus lain yang mematikan? Saya cukup yakin mental nggragas dan kebiasaan tidak lazim makan hewan liar adalah satu dari sekian unit lingkaran-lingkaran sebab-akibat yang ikut berkontribusi memicu outbreaks Covid-19 di Wuhan dan juga pandemi-pandemi flu sebelumnya―SARS (2003), Hong Kong Flu (1968), dan Asian Flu (1957). Ini peringatan buat siapa saja; gak usah kabeh-kabeh kewan dipangan! Corona outbreak di Wuhan akhir 2019 lalu bukan tidak mungkin berasal dari kedalaman gua dan hutan belantara yang dibawa keluar ke penjuru dunia oleh kelelawar dan trenggiling. Wallahua’lam.

Manusia lupa bagaimana semestinya menghormati yang tua; virus, bakteri, serangga, binatang-binatang liar, mereka sudah duluan berkelana menyusuri timeline evolusi selama jutaan tahun. Mereka adalah leluhur manusia; Mbah Nun menyebutnya “saudara tua”. Wajar jika kemudian Allah melestarikan “rasa kasih sayang dan naluri penjagaan” dari seorang leluhur kepada anak turunnya, meskipun itu diwujudkan lewat cara-cara yang teramat halus dan sangat samar. Allah swt sengaja menempatkan binatang liar (yang telah dibekali aneka rupa virus di tubuhnya) di hutan-hutan belantara jelas bukan tanpa maksud, selain sebab kesesuaian habitat. Karena pada akhirnya terbukti bahwa manusia memang zalim dan bodoh; hutan dibabat habis dan dirampok isinya, binatang-binatang liar diburu habis-habisan untuk diperjualbelikan. Corona sekedar mengingatkan kepada anak-cucu Adam alaihassalam agar amanat “kehendak bebas” jangan sampai mengkhianati mandat “kekhalifahan” yang dipercayakan Allah kepada manusia.

 

Mohammad Shofie

Jamaah Maiyah Damar Kedhaton (JMDK), Tinggal Di Cerme, Gresik.