Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedathon Edisi #42–Agustus 2020 “Wahan wa Qorun”

Setelah berpuasa tuk bersua, telah tiba waktu untuk saling berbagi ilmu. Di dalam masing-masing gua pertapaan yang sunyi, kiranya banyak hal yang sudah kita peroleh selama masa Pandemi; semakin dekat kepada diri dan hubungan bersama keluarga bertambah erat. Setelah sekian waktu raga kita terikat tanpa temu, kerinduan atas dasar Paseduluran al-mutahabbina Fillah yang selalu kita usahakan bersama, telah sampai pada puncaknya.

Dunia dengan segala pernak-perniknya yang telah tercipta, baik sejak dulu kala, masa kini, hingga kelak nanti yang belum dan akan kita hampiri, selalu saja memikat hati. Terpatri di Al Qur’an bahwa memang telah dijadikan tampak indah di mata pandang manusia: wanita, anak, harta, emas  dan kendaraan. Tak sedikit juga yang terjebak masuk ke dalam lubang kehinaan diri. Bahwa, yang sejati bukanlah materi yang memanjakan itu, melainkan bagaimana menjadikan materi itu sebagai kendaraan menuju Sang Rabbi. Tentunya, harus menempuh perjuangan ekstra tanpa henti serta lika-liku terjal cobaan yang datang silih berganti. Maka dari itu, dibutuhkan kesabaran untuk menata hati dan menjernihkan pikiran agar tak mudah terjerumus dalam keteledoran diri.

Perlu kiranya menjadi bekal bagi kita bersama, untuk mencoba menilik sejarah di masa lampau. Salah satunya adalah kisah si Qorun. Ia adalah seseorang yang pernah dikisahkan di dalam Al-Qur’an. Di Surat Al-Qashash ayat 76-83, Qorun yang hidup semasa dengan Nabi Musa diulas secara tegas dan jelas.

Pada awal masa hidupnya, Qorun adalah seseorang yang sangat miskin. Bahkan, ia tak mampu menghidupi kebutuhan keluarga beserta anak-anaknya yang terbilang cukup banyak. Hingga pada suatu ketika, ia dilimpahi harta kekayaan berkat doa Nabi Musa. Setelah menjadi kaya, Qorun pun lupa akan kondisi di saat papa. Hingga ia pun terlena dan menjadikan hartanya sebagai simbol kekuasaan, kekuatan, dan kegagahan yang berujung pada riya’.

Dari penggalan kisah tersebut, ada korelasi yang terikat. Sifat perwatakan yang ada pada diri Qorun dengan kecintaan yang berlebih pada dunia, hingga membuatnya semakin terlena. Allah sendiri telah memberikan rumus atau panduan dasar kepada manusia dalam menjalani hidupnya di tahap dunia: “Wabtaghi fiimaa ataakallaahud-daarol aakhirah, walaa tansa nashaibaka minad-dunya”. (“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”).

Tanpa mengurangi rasa cinta di antara kita semua, dengan berpijak pada paseduluran Al-Mutahabbina Fillah, mari kita satukan frekuensi hati, saling berkenduri untuk setia belajar tanpa henti, demi mencari apa yang paling sejati di dunia dan kehidupan ini, dalam Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi yang ke-42.

Di tengah pandemi Virus Covid-19 terkini, wajib bagi kita semua untuk tetap waspada. Ikhtiar lahir harus kita penuhi, protokol kesehatan mari kita jalani, ikhtiar batin tetap mengiringi. Bersama kita cipta ruang untuk menumbuhkan kegembiraan dan kemesraan yang diridhoi oleh Allah Swt. pada :

Hari : Rabu, 12 Agustus 2020

Pukul : 19.23 WIB

Tempat : Kompleks Makam Mbah Joyo, Dusun Pacuh, Desa Pacuh, Kecamatan Balongpanggang Gresik