Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedathon Edisi #49- Maret -2021 “RESIK-RESIK”

Rumah yang indah dipandang tentunya menjadi kepuasan mata bagi penghuninya, terlebih kepada tetangga di sekitarnya. Ada perasaan batin dan juga ikatan emosi yang menyertai. Hidup telah ditakdirkan berpasang-pasangan, ada baik ada pula buruk. Ada bersih, ada pula kotor. Dan seterusnya. Bila dikaitkan dengan kesucian manusia sejak dari diciptakan oleh-Nya, maka perlu kiranya bagi kita semua hendaknya menoleh ke belakang sebentar, manusia pada mulanya merupakan mahkluk yang suci alias fitrah. Sebab, pada komponen penyusun struktur tubuh manusia terdapat nur dari Allah. Pada tiap diri manusia terdapat naluri untuk menginginkan kebersihan, hal tersebut karena pada dasarnya manusia diciptakan sebagai mahkluk yang fitrah alias suci. Berawal dari suci, dan akan kembali kepada Yang Maha Suci. Berbekal dua alat super canggih berupa akal dan hati, manusia bisa menjalani kehidupan bumi tidak sebagaimana seperti hewan, tumbuhan, malaikat, iblis, atau benda mati. Bagi manusia, selalu terbesit dalam benaknya untuk mencari dan menemukan hakikat diri.

Mbah Nun telah jauh hari membangun landasan berpikir mengenai kebersihan yang cukup luas jangkauannya, beliau menuturkan bahwa kebersihan ruang dan kampung hanyalah satu hal, hal lain adalah kebersihan manusia itu sendiri, kebersihan pergaulan antar manusia baik pergaulan sosial, pergaulan ekonomi, maupun pergaulan politik dan hukum.

Jika output dari resik-resik adalah menghilangkan kotoran, sampah, dan kuman yang ada di sekitar kita, lalu dampaknya berbuah sebagai kesehatan, maka apa bisa dikatakan sehat secara hati bila membiarkan kotoran berserakan? Di mana pada saat itu kita membiarkannya saja, justru orang lainlah dengan sadar untuk membersihkannya.

Bahkan, lebih ekstrim lagi manusia merupakan jelmaan “Tuhan” yang ditugaskan di bumi. Sedangkan dalam referensi lainnya, Allah menciptakan manusia tidak lain adalah sebagai Khalifah di muka bumi. Tugas sebagai Khalifah sendiri bertujuan untuk memakmurkan bumi. Sedangkan kepada manusia sendiri, Allah memberikan ‘kebebasan’, baik untuk memperindah atau merusak isi bumi. Oleh karena itu akal diciptakan.

Dulur, dengan semangat kebersamaan yang masih sedang kita upayakan, mari kita jaga dalam Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton pada edisi ke-49. Bersama untuk membedah beragam persoalan hidup dalam satu payung dengan tema “RESIK-RESIK”, bersabar dalam sinau bareng, bersubur kebersamaan dalam menghikmahi ilmu pada:

 

Hari     : Sabtu, 6 Maret 2021

Pukul   : 20.23 WIB

Lokasi : Musholah Baituturrahman Al Mubarok

Desa Sumengko Kerajan, Wringinanom, Gresik