Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi#48- Februari 2021 “AMONG DULUR”

Di tengah wabah Covid-19 yang masih belum bisa dipastikan kapan berakhirnya, dulur-dulur Damar Kedhaton ‘nekat’ melaksanakan diskusi rutin tiap bulan walau sudah pasti dibayang-bayangi oleh petugas yang berwenang sehingga selalu terbuka kemungkinan acara dibubarkan sewaktu-waktu. Pada Jumat, 05 Februari 2021, Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-48 pun diselenggarakan.

Dibersamai oleh dulur Punjul Bawono yng menyemarakkan telulikuran kali ini

“AMONG DULUR” adalah tema yang diusung pada sinau bareng kali ini. Tema tersebut diangkat untuk merespon keadaan, yaitu banyaknya pembatasan sosial yang menyebabkan berkurangnya intensitas pertemuan antara kita semua. Hal tersebut tentu menjadi wajar jika dihadapkan pada konteks pandemi Covid-19. Semua sektor, dari perekonomian, pendidikan, industri, pariwisata, keagamaan, hingga terutama kesehatan, dibuat tak berdaya. Sungguh, segala kecanggihan, kegagahan, kesombongan, dan kebesaran pengetahuan yang ada pada peradaban modern saat ini dinyinyirin serta diisin-isini oleh makhluk yang ukurannya bahkan jauh lebih kecil dibandingkan partikel debu.

Cak Faiz bersama dengan beberapa anggota Karang Taruna Desa Mojoasem mengawalinya dengan nderes Al-Qur’an Juz 18

Kuatnya kesamaan tekad untuk tidak tinggal diam atas situasi tersebut menjadi magnet berkumpulnya JMDK malam itu. Bertempat di Balai Desa Mojoasem, Sidayu, Gresik, sinau bareng berjalan dengan khidmat sekaligus asyik. Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang didaras bergantian oleh Faiz dan beberapa anggota Karang Taruna Desa Mojoasem mengawali Telulikuran. Dalam waktu sekitar satu jam, mereka mengkhatamkan Juz 18.

Memasuki acara inti, alhamdulillah, dulur-dulur Maiyah Damar Kedhaton ditemani oleh Ki Lurah Tunggal Karep. Bagi beliau pribadi, tema “Angon Dulur” menjadi momentum untuk menapaktilasi pengalaman-pengalamannya; bagaimana beliau menanam, merawat, memupuk, menyiram, dan menyinari tanaman bernama ‘persaudaraan’ hingga detik ini. Selebihnya, kata Ki Lurah Tunggal Karep, biarkan paseduluran tersebut ditumbuhkan oleh Allah dengan sendirinya. Tak hanya menerima kesejukan nasihat, JMDK juga menerima berkah cuilan-cuilan kisah hidup beliau sehingga hal-hal yang beliau sampaikan malam itu menjadi mudah dipahami dan berkesan di benak orang-orang yang menyimaknya.

Ki Lurah Tunggal Karep Menemani dulur-dulur Maiyah Damar Kedhaton

“Jika bisa memetik nilai dari paseduluran, walaupun sedikit, maka berkahnya sungguh luar biasa sekali,pesan beliau.

Apa yang disampaikan Ki Lurah Tunggal Karep sejalan dengan konsep yang sudah ditanamkan oleh Mbah Nun, bahwa tidak ada yang bisa mempersatukan, mengaitkan, dan mempersambungkan persaudaraan tanpa tinakdir oleh-Nya. Konsep tersebut bernama Paseduluran Al-Mutahabbina Fillah, yang melaluinya, diharapkan, Allah berkenan membersamai kita sepanjang waktu. Minimal, Allah tidak marah kepada kita dan sudi menganggap keberadaan kita di dunia.

Dulur Maiyah Jamparing Asih Bandung begitu menikmati atmosfer Telulikuran

Diskusi malam itu berlangsung kalem. Di sudut belakang, tampak dua dulur Maiyah Jamparing Asih Bandung tengah mengisap rokok dan menikmati suguhan camilan. Sepertinya, mereka begitu menikmati atmosfer Telulikuran. Sementara itu, beberapa orang JMDK mengajukan pertanyaan dan kemudian dibahas bersama secara singkat. Selebihnya, diskusi dialirkan oleh wejangan-wejangan Ki Lurah Tunggal Karep yang begitu luas tak terkira. Kenikmatan nuansa lerem tersebut digenapi oleh alunan gamelan grup musik Punjul Bawana Tuban yang menggema ke seluruh ruangan. Sedangkan beberapa nomor riang berikutnya ditujukan untuk menyegarkan kembali semangat melekan JMDK.

Susana Khas Maiyahan, Serius namun Mesra, Wajah-wajah Jamaah Maiyah

Nuansa sinau bareng memang bisa saja berubah-ubah dari waktu ke waktu, tergantung kondisi. Namun, ada suatu kekhasan yang selalu melekat pada Telulikuran apa pun nuansanya—dan demikian pula pada forum-forum Maiyahan lain, yakni kemesraan dan kegembiraan. Kekhasaan tersebut tercermin jelas pada gestur, raut, serta sorot mata jamaah. Umumnya, ekspresi tersebut tidak muncul ketika mereka mengikuti format-format diskusi lain.

Mendekati akhir acara, Ki Lurah Tunggal Karep menyampaikan pesan, bahwa tujuan yang paling esensial dalam paseduluran adalah bagaimana masing-masing dari kita berusaha untuk sebisa mungkin saling bergandengan baik secara fisik maupun rohani. Tetap saling menyapa, saling menjaga harta, harga diri, dan juga martabat sesama. Saling mengamankan antara satu dengan yang lainnya. Dan jangan sampai terlewat juga, bersholawat kepada Kanjeng Nabi setiap saat agar memperoleh keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

Seluruh jama’ah yang hadir sangat berdaulat

Kemudian, Telulikuran ditutup dengan lantunan dzikir, wirid, serta sholawat yang secara langsung dipimpin oleh Ki Lurah Tunggal Karep. Segenap cinta, kisah, dan kasih yang menggenapi paseduluran pada malam itu merupakan benih-benih yang wajib dijaga. Di tengah badai gelisah yang berinai dusta dengan petir egoisme, payung paseduluran al-mutahabbina fillah merupakan hal langka dan sangat mahal harganya. Beruntunglah kita semua yang dipertemukan, diperjalankan, dipersatukan, dipersaudarakan, dan dimampukan untuk tumbuh bersama tanpa kepentingan riuh benere dhewe sehingga terciptalah sebuah harmoni; berbeda untuk saling melengkapi.

Usai berdoa bersama, jamaah berputar untuk saling bersalaman diiringi lantunan sholawat. Satu per satu jamaah tampak sumringah karena ketiban berkah, berkesempatan mencium punggung tangan Ki Lurah Tunggal Karep yang berbalas dekap dan kecupan pada pipi kanan-kiri.

Tumbuhlah subur paseduluran; bertambahlah sabar untuk kita semua agar dimampukan bertahan hingga kembali ke rumah keabadian.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme, Gresik