Cilik Tapi Nggaplek’i

https://images.app.goo.gl/KKuukfvghq23MH2Y9

Seusai turun dari motor, tanganku langsung merogoh saku celana. Meraba-raba, masih adakah uang yang tersisa di dalamnya. Sambil menguras ke seluruh sudut-sudutnya, sensor indera perasa pada telapak dan jemari tangan menginformasikan kepadaku bahwa, tak ada tanda-tanda keberadaan uang yang berhasil kuraba. “Lho, duwikku kok ilang limang ewu? Tak deleh nang endi ya mau?”

Sambil terus berpikir dan mengingat-ingat kembali atas keberadaan dari selembar uang lima ribu rupiah, aku masuk ke dalam warung kopi. Kusapa si pemilik warung kopi sambil sesekali melontarkan basa-basi, kupesan secangkir kopi. Setelah pesan kopi, tidak perlu menunggu waktu yang cukup lama akhirnya datang di hadapanku; sebagai bentuk pelayanan atas diriku yang ingin membeli dan menikmati kopi. Segera kupersiapkan pendamping wajib, yaitu rokok–sejak jauh hari, bagi sebagian orang, rokok dan kopi adalah pasangan yang serasi. Bahagiaku memang cukup sederhana, yaitu menyulut api pada sebatang rokok. Setelah berhasil menyala, kuhisap sebatang rokok dalam-dalam di sela mengaduk secangkir kopi.

“Bismillahirrahmanirrahim” sambil membaca doa wajib sebelum mengaduk kopi—sebagai wujud kesadaran diri, bahwa Allah tak pernah cuti kepada hambaNya pada tiap denyut urat nadi. Lalu bibirku mulai menyeruput kopi itu. Kopi terasa di lidah, lalu mengalir menuju kerongkongan, dan tertelan untuk memenuhi proses sunnatullah selanjutnya. Satu sruputan kopi berhasil kutelan. Kemudian giliran sebatang rokok yang terhisap melalui bibirku yang agak sedikit tampak menghitam—bekas dari seringnya menghisap rokok. Satu hisapan rokok, berkemelut asap yang keluar dari hidung dan mulut, baik bergantian ataupun bersamaan.

Pikiranku masih melayang-layang. Berusaha menemukan di mana keberadaan selembar uang lima ribu yang sudah hilang sedari tadi. “Lho, mau kan tak tukokna bensin 20 ewu susuk 80 ewu, kok saiki cuma 75 ewu, suaraku dengan nada sedikit kesal dan terdengar lirih. “Terus sing limang ewune nandi?” sembari merogoh saku demi saku, tapi tidak kunjung ketemu juga.

Tanganku terus meraba, mengacak-acak seluruh isi dari saku yang ada. Tampak wajahku yang gelisah. Terlukis dari sorot mata yang melirik dengan jeli ke semua arah sudut yang ada. Masa’ ya tlebok nang embong.

Tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari hati. “Lahya, duwek limang ewu ae koen golek’i sampek njlimet. Masiya mok urut mulai saka pabrik sampek omah, sampek teka warung kan ya sik ana duwik pitungpuluh ewu.

“Husss … Lambemu, limang ewu iku ya duwik, blok!. Wis kenek gawe mbayar kopi sak rokok surya eceran siji, sahut nafsu begitu cepat.

“Sik ta. Lek duwik ilang iku kan ya duduk kekarepanmu. Ya dudu usahamu arepe ngilangna duwik iku. Berarti Allah nyuguhne rencana lain. Masa’ awakmu gak yakin?” sahut suara dari hati dengan keyakinan penuh.

“Iya yakin, tapi duwik limang ewu iku duwikku hasil lekku kerja, bantah kepala dengan argumen yang cukup logis. “Kok ilang e iki piye? Lek entek ana jluntrunge sing jelas ya gakpapa. Aku gak mikir, tambahan dari nafsu.

Dengan penuh pembelaan diri beserta segenap alasan yang mendukung, suara hati kembali menjawab, “Sik ngengkel ae … Sik ta, padha-padha entek’e. Padha-padha ilang e. Masiya ta mok tukokne kopi karo rokok, akhire ya padha entek’e kan?” Tidak lama berselang nafsu ikut merespon, “Tapi kan aku isa ngrasakne kopi karo rokok. Lha, lek ilang ngene iki gak oleh apa-apa

Obrolan masih berlanjut, pembahasan kini semakin tajam. Suara hati menyahuti, “Iki suguhane Allah. Awakmu aja ngresula. Lek Allah nyuguhi iki ya uwis ditata sembarangane. Awakmu kari muni kula tampi suguhane saking Panjenengan niki, Gusti. Panjenengan ingkang Maha Kuasa. Ya Qoyyum” Lanjut suara hati, “Justru ngene iki awakmu dirangkul ambek direngkuh karo Allah. Awakmu kari manut ambek sabar, wis ngunu thok”

Nafsu masih tidak terima dan terus membantah, “Iku duwikku, blok kemudian kembali lagi dibantah oleh hati dengan cukup keras, “Duwike Allah, ndheng!

Tidak terasa satu batang rokok Surya sudah habis. Obrolan sedari tadi cukup menguras tenaga, hati, dan pikiran hingga membuat terlena. Aku pun lupa akan waktu. Terasa begitu cepat sudah berlalu.

“Cak, pinten kopi karo rokok e iki? tanya diriku kepada penjaga warung ketika kopi telah habis tanpa sisa, dan rokok sudah tuntas kuhisap.

“Sampun, Cak. Sampun wonten tiyang sing bayari, jawab singkat penjaga warung kepadaku sambil diikuti senyum bibir yang mengembang.

Merespon jawaban dari si penjaga warung tadi, aku dengan tanpa sadar mengangkat kedua bibir. Sambil tersenyum-senyum sendiri dan bergumam dalam hati, “Lho, iya, kan? Awakmu dikandani gak percaya. Allah iku apik’an.

Setelah beres pembayaran, aku pun bergegas kembali ke parkiran untuk bersiap melanjutkan perjalanan. Sebelum memanasi sepeda motor, sempat terlintas suara nafsu yang kembali bisik-bisik kepadaku. Saumpama duwik limang ewu mau ketemu, aku lak ya enak. Isa ngopi gratis. Terus duwike sik pancet”

Kemudian diriku membantah dengan keras. “Oooo …. Ancene asu. Asu koen iki, su-nafsu”

 

 

Kedanyang, 27 April 2021

Cak Nanang (Timoer)

Jamaah Maiyah Damar Kedhaton (JMDK)