Silaturahmi Abal-Abal

https://images.app.goo.gl/QbAZHd8MTtT7qRyZ6

Biasanya pada momen bulan ramadhan atau setelahnya, bagi kebanyakan orang akan mengadakan acara ‘perayaan’ semacam silaturahmi. Sebab sudah menjadi keniscayaan tersendiri bahkan tak ayal bisa kita katakan sebagai tradisi turun-temurun terutama di Indonesia. Acara tersebut tentunya sangat baik dan sangat indah sekali jika diniati untuk menjaga ikatan persaudaraan kita.

Bahkan Tuhan sendiri yang menganjurkan kepada kita untuk saling bersilaturahmi, sebagaimana dalam firmanNya:

فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ اِنۡ تَوَلَّيۡتُمۡ اَنۡ تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ وَتُقَطِّعُوۡۤا اَرۡحَامَكُمۡ #اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ

فَاَصَمَّهُمۡ  وَاَعۡمٰٓى اَبۡصَارَهُمۡ

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?. Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; lalu dibuat tuli (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya.”

Namun yang sangat memprihatinkan–perlu kita waspadai–kebanyakan niatnya melenceng dari makna silaturahmi itu tersendiri. Yang mana lebih memprioritaskan  padatan-padatan materi katimbang nilai-nilai rohaninya. Misalnya dalam hal menu makanan, hiburan, dan pakaian–sehingga tak jarang memerlukan pembentukan panitia untuk mengakomodasi proses dari itu semua. Bahkan juga membutuhkan dana yang tidak sedikit nominalnya.

Proses silaturahmi yang sederhana lambat laun berubah menjadi kemewahan; ajang pamer materi dan makanan. Hal yang semestinya sederhana justru dirumitkan sendiri oleh manusia dengan berbagai macam gincu untuk memoles sedemikian rupa agar tampak memesona.

Andai saja tidak ada makanan yang  berlebihan, apakah orang-orang akan tetap menghadiri untuk melaksanakan acara silahturahmi tersebut?

Andai saja suguhannya berupa wedang kopi, wedang teh, gorengan, dan pala pendem, apakah orang-orang akan berkenan tetap menghadiri untuk melaksanakan acara silaturahmi tersebut?

Agaknya mustahil bagi manusia-manusia modern untuk melakukan hal yang sederhana tersebut. Kiranya sikap sok-sokan, gengsi, dan sombong, kebanyakan terdapat pada manusia-manusia modern. Semua harus serba mewah meriah sebagai salah satu bentuk legitimasi–pengakuan–agar bisa dianggap sebagai orang yang sukses. Demikian adanya cara pandang manusia modern yang selalu menomorsatukan materi.

Tuhan dinomorsekiankan, berdoa pun menomorsatukan materi. Saling bersaing untuk menjadi yang tersukses. Menghalalkan segala cara untuk mewujudkan adalah hal yang sudah biasa terjadi. Saling sikut dan tikam-menikam sana-sini kepada yang dianggap sebagai pesaing adalah hal yang sudah biasa terjadi juga. Maka tidak heran, neraka ada di mana-mana. Hanya jiwa-jiwa yang disucikanNya yang tetap setia kepada Tuhan. Yang senantiasa berbuat baik kepada makhlukNya.

 

Jemi Lio Dianta

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.