Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi#49 “RESIK-RESIK”

Sabtu, 6 Maret 2021, berpayung tema Resik-Resik, gelaran rutin tiap bulan sinau bareng kembali mempertemukan dulur-dulur JMDK untuk menghangatkan hati dan pikiran. Benar memang, udara pada malam itu cukup dingin—tidak seperti pada malam sebelumnya. Sepeda motor tampak berjejer—terparkir—rapi di halaman langgar Baiturrahman Al-Mubarok, Sumengko Krajan, Wringinanom, Gresik. Putaran sendok logam beradu dengan gelas kaca terdengar berdenting-denting lirih dari samping langgar, menyatupadukan bubuk kopi, butiran gula pasir, dan air mendidih menjadi minuman warna pekat pengusir kantuk. Kopi, dan segenap uba rampe lain, dipersiapkan untuk menyempurnakan harmoni pada malam itu oleh beberapa dulur Gresik Kidul secara sesemutan—bahu-membahu tanpa pamrih. Bertempat di sudut perkampungan, Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-49 oleh JMDK pun dilaksanakan.

Pada jam dan tempat yang sama, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema. Melalui pengeras suara, Cak Ahmad, Cak Rio, dan Cak Kurniawan mengkhatamkan Juz 19. Angin malam masih berembus; dengan mengiringi lantunan ayat suci, benda mati—pengeras suara—sekalipun juga bisa menjadi saksi di akhirat nanti. Sebuah bukti bahwa benda apa pun yang ada di dunia bisa dan wajib kita ruhanikan.

Nderez Qur’an Juz 19

Ayat demi ayat perlahan mulai didaras. Antusiasme terpancar dari wajah dulur-dulur Gresik Kidul, baik yang sedang membaca Al-Quran, sibuk berkecimpung di balik layar, duduk melingkar di dalam langgar, atau yang berdiri di teras depan untuk menyambut kedatangan dulur lainnya. Usai pendarasan Juz 19, acara bersambung ke pembacaan wirid sholawat. Terciptalah suasana yang begitu khidmat; mata memejam, hati menengadah, pikiran mulai terbuka untuk melepas riuh rendah dunia yang kian menjerat.

Malam mulai menua. Ada rindu yang terasa asing mulai menyelinap ke dalam relung sanubari. Serupa setitik cahaya yang menuntun langkah kaki untuk keluar dari kegelaapan rimba, rindu itu menuntun perjalanan manusia menuju kepada Sang Maha. Jika memang benar rindu adalah kepingan dari cahaya, maka dengan saling menyatukannya secara utuh akan tercipta cahaya yang terang benderang. Begitu juga dengan dulur Damar Kedhaton, segenap cinta yang mulai berderai kemudian menggenang terabai; temu menjadi obat yang ampuh. Dengan saling rangkul, JMDK memunguti ulang ceceran cinta yang amburadul agar paseduluran al-mutahabbina fillah tetap tersimpul.

Lokasi acara yang cukup jauh dari pusat keramaian kota, bahkan berjarak dekat dengan kota tetangga, Sidoarjo, tidak melunturkan sedikit pun semangat dulur-dulur untuk saling melingkar, merapat, dan mendekatkan raga beserta hati pada forum diskusi edisi Maret kali ini. Di halaman depan, beberapa dulur masih terus berdatangan, baik perseorangan maupun dalam satu rombongan. Tegur sapa dan lemparan senyum berbalas jabat tangan yang erat dan hangat. Beberapa dulur datang terlambat, tetapi tidak mengurangi kehangatan sambutan dulur-dulur penerima tamu dan yang ada di belakang layar. Dengan segenap cinta di dalam dada, tangan dan langkah kaki mereka tetap aktif dan responsif untuk menghampiri siapa saja yang tiba di lokasi acara. Gelas-gelas kopi panas tetap disuguhkan kepada semua dulur tanpa kecuali dan tanpa berat hati.

Sesi Perkenalan Beberapa Jamaah Baru

Sebelum masuk ke sesi diskusi, jamaah dimohon untuk saling memperkenalkan diri agar lebih akrab dan tidak canggung bila papasan di jalan. Dengan harapan, keakraban di Telulikuran dapat berlanjut dan terajut di luar forum. Setelah perkenalan, Cak Amin memantik diskusi dengan membacakan prolog tema Resik-Resik. Kemudian, Cak Teguh moderator acara, mengawal jalannya diskusi agar jamaah tetap eling pada batasan dalam kemerdekaan mereka berpendapat, sehingga diskusi bisa berjalan baik.

Resik-resik merupakan kata yang berasal dari Bahasa Jawa. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, diterjemahkan sebagai “bersih-bersih.” Kita semua tentu tidak asing bila mendengar istilah tersebut. Namun tak dapat dipungkiri bahwa mungkin terdapat beberapa perbedaan pemahaman masing-masing dari kita terhadap sebuah kata, termasuk “bersih-bersih”. Perbedaan-perbedaan tersebut tentu didasarkan pada pengalaman, pendidikan, lingkungan, budaya, dan segenap aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, dengan kesadaran untuk setia pada proses pencarian akan sebuah jawaban atas permasalahan, JM Damar Kedhaton tidak hentinya mencoba untuk belajar dan belajar sepanjang waktu—sebagai rakaat panjang untuk menambah bekal ketika pada saatnya dipanggil olehNya.

Kembali ke tema Resik-Resik, secara umum, kita memahaminya sebagai upaya untuk menghilangkan kotoran. Jika diperlebar lagi maknanya, maka resik-resik bisa dilakukan secara materi dan ruhani. Resik-resik materi sudah jamak kita ketahui, misalnya menyapu halaman rumah untuk membersihkan sampah plastik dan guguran dedaunan kering agar halaman tampak indah dipandang oleh mata. Sedangkan resik-resik secara ruhani ialah membersihkan kotoran-kotoran yang nyempil di dalam hati. Untuk membersihkan kotoran yang berada di dalam hati, caranya tentu berbeda dengan menyapu halaman rumah. Bahkan masing-masing dari kita juga memiliki caranya masing-masing. Contoh sederhananya ialah dengan dzikir dan doa untuk selalu  ingat kepada Allah.

Suasana gayeng nan cair, begini : khas atmosfer maiyahan

Seperti halaman rumah yang tampak bersih atau kotor, tentu masing-masing dari kita bisa melihat dan merasakannya; antara risih, nyaman, atau lega. Namun, ketika menganalogikan halaman rumah sebagai tolok ukur kebersihan kiranya kurang tepat. Sebab bagi sebagian saudara kita yang indera penglihatannya tidak berfungsi sebagaimana umumnya, analogi tersebut tidak cocok digunakan. Bisa jadi, penglihatan hati mereka lebih jujur, jernih, dan bening untuk menyikapi berbagai peristiwa. Bahkan, bisa saja mereka ‘diselamatkan’ oleh Allah dari hal-hal yang tidak patut untuk dilihat menurutNya, sebagai kemudahan tiket bagi mereka untuk memasuki rumahNya.

Sepertinya, masing-masing dari kita masih sering mudah terpeleset untuk gampang memberikan penilaian terhadap lingkungan sekitar, dan mengabaikan penilaian terhadap diri sendiri; membersihkan kotoran hati, nafsu, hasud, dengki, benci, dan segala ambisi yang bersifat duniawi.

Hidup di dunia ini tentu berkaitan dengan sebab dan akibat—terlepas dari adanya takdir, begitu juga dalam hal kebersihan. Membersihkan sampah yang berserakan agar tampak nyaman bila dipandang, membersihkan badan agar kembali terasa segar dan tidak gatal-gatal, membersihkan pikiran dari keburukan agar tidak gampang su’udzon, membersihkan hati agar dapat menjalani hari-hari dengan perasaan yang damai, membersihkan pakaian agar debu, kuman, atau virus yang menempel tidak sampai masuk ke dalam tubuh melalui pori-pori kulit, membersihkan ‘tikus-tikus kantor’ agar tidak merajalela memakan hak-hak makhluk lain, dan tentunya masih banyak aspek dalam kehidupan yang perlu menerapkan metode pembersihan, baik secara fisik, mental, atau sosial.

Cak Syueb, Pak Kris dan Beberapa Jama’ah Mengulas Tema Majlis Telulikuran Secara Mendalam serta mempertajam sudut pandang jamaah terutama yang berhubungan dengan tema

Cak Syueb merespon tema Resik-resik bukan kepada kata resik-resik itu sendiri, melainkan bagaimana cara dan sikap kita untuk mampu mengembalikan sesuatu ke asalnya. “Jangan terpaku dengan resik-resik, melainkan intinya adalah menapaktilasi atau mengembalikan ke seperti semula” Bahwa, asal mula dunia ini terutama kita para manusia berawal dari kesucian. Tanggapan Cak Syueb mengingatkan kita pada pembahasan tema “Peteng” pada Telulikuran edisi ke-45, bahwasannya salah satu fungsi dari resik-resik ialah mengembalikan kesucian yang telah terkotori, entah karena maksiat atau hal-hal yang tidak sesuai pada tempatnya. Bersuci, membersihkan diri dan hati untuk berpulang kembali–Wa Inna Ilaihi Raji’un.

Pak Kris, menyambung, “Salah satu dampak dari resik-resik adalah perasaan lega di dalam dada. Ada kelegaan dalam hati atau dalam khasanah Jawa disebut sebagai legowo. Hal itu bisa dikaitkan dengan ikhlas.”

Adanya perintah untuk menjaga kebersihan kiranya menjadi tidak perlu bilamana kita mampu mengaktifkan hati nurani untuk peka membaca dan memahami lembar-lembar peristiwa kehidupan ini. Meskipun toh sudah tertulis jelas dalam firmanNya di Surat Ar-Ra’d ayat 28 yang berbunyi, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Sejalan dengan dawuh dari Mbah Nun, membaca ayat-ayat yang tidak tertulis lebih menantang untuk dilakukan karena membutuhkan kepekaan batin untuk mampu menjangkaunya.

Susana Khas Maiyahan, Serius namun Mesra, Wajah-wajah Jamaah Maiyah

Kiranya dapat kita ambil intisari hasil dari sinau bareng kali ini, yaitu pentingnya membaca lingkungan sekitar, terutama ke dalam diri sendiri, agar mampu bertemu dengan Allah secara tuma’ninah. Agar proses membaca berlangsung jernih, kita harus mau resik-resik “alat membaca”, yaitu diri kita. Membersihkan segala kotoran yang berada dalam hati, yang seringkali menjerumuskan diri pada hal-hal yang tidak semestinya dilakukan (bermaksiat). Kotornya hati akan memburamkan pembacaan kita terhadap peristiwa-peristiwa kehidupan. Hikmah-hikmah yang tersirat di dalamnya akan sulit disingkap, menyulitkan diri kita untuk menjangkau hidayah dari Allah, sehingga semakin sulit pula bagi kita untuk mendekat kepadaNya. Semoga ikhtiar kita—para JM Damar Kedhaton, baik secara fisik maupun rohani, kelak mampu mengantarkan kita untuk kembali menuju kefitrahan.

Sebelum Telulikuran berakhir, Cak Basri memandu jamaah untuk melantunkan beberapa wirid. Kemudian dipungkasi dengan doa oleh Cak Syueb.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, tinggal di Cerme