Sakinahan di Ngasinan, Kepatihan

Dokumentasi : Damar Kedhaton

Kurang lebih 30 dulur Damar Kedhaton menghadiri undangan Sakinahan dari Cak Ubed. Sabtu, 28 Mei 2022, Cak Ubed mengawali sekaligus mengakhiri; mengawali kehidupan sesungguhnya dan mengakhiri masa remaja. Bertempat di kediaman rumah yang beralamat di Ngasinan, Kepatihan, Menganti acara diselenggarakan. Acara berlangsung penuh keseriusan, kekhusyukan, kegembiraan, dan tentunya adalah kemesraan; atmosfer yang sering dirasakan ketika dulur-dulur Maiyah bertemu. Entah itu bisa pertemuan rutin sinau bareng bulanan, perkopian, bahkan perbisnisan yang bernafaskan saling menguntungkan.

Melalui lorong gang yang agak sempit-seukuran mobil pun tidak dapat masuk-karpet merah tergelar. Foto kedua mempelai terpajang pada gapura, simbol ungkapan selamat datang kepada para tamu undangan; Cak Ubed dan Mbak Rinda. Dipajang penuh estetika dengan nuansa kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua mempelai.

Pukul 21.30 WIB, beberapa jamaah tampak duduk melingkar-lesehan-tepat di depan kursi singgasana pengantin baru.

Dimoderatori oleh Cak Fauzi, prosesi pelaksanaan Sakinahan dimulai. Dengan dilakukan secara berbarengan, seperti doa Rasulullah pada pernikahan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib yang berbunyi Barakallahu Lakuma Wa Baraka Alikuma Wa Jamaah Baina Kuma Fii Khair dilantunkan oleh jamaah sebanyak tiga kali. Kemudian, kelompok penerbang banjari mengumandangkan sholawat dengan diiringi nyanyian lagu berjudul “Pengantin Baru” karya H. Muhammad Zain. Teknisnya ialah setelah melantunkan teks berbahasa Arab diselingi dengan teks berbahaaa Indonesia.

Cak Arif memulai acara dengan membacakan Surat Ar-Rum ayat 20-25. Setelah tuntas dibaca, Kaji Fian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Sebagai moderator, Cak Fauzi mengelola berjalannya forum. Setelah Surat Ar-Rum sekaligus terjemahan tuntas dibaca, melalui mikrofon yang dipegang di tangannya, Cak Fauzi membaca Surat Al-Fath yang terdiri dari 29 ayat. Jamaah turut membaca juga melalui layar gawai dengan penuh kekhusyukan.

Kemudian Cak Syuaib menahkodai untuk melaksanakan sesi urutan acara Sakinahan selanjutnya. Wirid Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir dilantunkan sebanyak 450 kali; mempedomani teks yang dibuat oleh Mbah Nun. Kemudian disusul dengan melangitkan wirid “Ya Mannan” (wirid Padhang Mbulan) sebanyak tujuh kali, dan yang terakhir adalah wirid tetes kelembutan sebanyak tujuh kali juga.

Setelah sekian menit jamaah larut dalam kekhusyukan, sebagai Kamituwa, Cak Syuaib dipersilakan untuk memberikan nasihat pernikahan kepada kedua mempelai. Seperti yang lazim dijalani saat telulikuran, sejumlah jamaah-terkhusus yang sudah merasakan pahit manisnya kehidupan setelah pernikahan-bergiliran menyampaikan perspektif pandang juga; menceritakan pengalaman suka duka dalam mengarungi bahtera rumah tangga sesungguhnya. Sesekali terlontar guyonan, beberapa kali pembelajaran yang sarat akan makna disampaikan.

Terhitung baru dua kali ini acara Sakinahan dilaksanakan oleh dulur Damar Kedhaton.Tepat tiga Minggu sebelumnya, Cak Anam, salah satu dulur yang beralamat di Pacuh, Balongpanggang melangsungkan pernikahan-pertama kalinya acara Sakinahan diselenggarakan oleh dulur Damar Kedhaton. Kenapa bisa dibilang sebagai pertama kalinya diselenggarakan acara Sakinahan? Karena saat sebelum-sebelumnya, JMDK belum pernah melaksanakan acara tersebut. Biasanya JMDK mengadakan dengan konsep hampir serupa-menggembirai dan memesrai melalui bacaan wirid sholawat-setiap ada dulur Damar Kedhaton yang melaksanakan pernikahan, sebagai bentuk syukur serta ungkapan bahagia kepada kedua mempelai.

“Bed, Bed. Wedak e bojomu duliten. Terus dulitno maneh nang sopo ngono,” ungkap Cak Syuaib kepada Cak Ubed mengawali pembicaraan yang mengundang gelak tawa sedulur Damar Kedhaton. Gusti Allah menciptakan segala hal di dunia ini berpasang-pasangan. Dari-Nya, Dipertemukan oleh-Nya, disatukan oleh-Nya, dan kembali ke sisi-Nya.

Lanjut Cak Syuaib, “Pernikahan adalah awal perjuangan menuju Sakinah. Ketentraman dan kedamaian. Perjuangan menuju Sakinah yang dimaksud bisa dalam konteks apa saja. Memperoleh kenalan baru, memperjuangkan Sakinah dalam konteks kekancan. Dari peristiwa itu, akan bertambah wawasan anyar, ilmu anyar.” Dalam kehidupan ini, bukan tentang saling menggungguli atau menjerumuskan, melainkan untuk saling menyadari dan saling menghargai. Cak Syuaib memaknai Sakinah dengan menganalogikan melalui berbagai konteks yang ada dalam kehidupan.

Sakinah adalah ketenangan. Perasaan aman, damai, dan tentram. Sakinah bukan hal yang sudah tersedia di depan mata, lantas kita tinggal melahapnya. Sakinah harus diperjuangkan, terus-menerus, tidak ada kata untuk berhenti.

Mulai dari Cak Syuaib, Cak Soleh, Pak Dul, Cak Madrim, Cak Fitro, Kaji Bombom, Cak Djalil, Cak Irul, dan Cak Fauzi-sebagai kemanten tua, memiliki momongan, dengan usia pernikahan yang tidak lagi muda- membeberkan beberapa pengalaman dalam berkeluarga.  Ada pahit manisnya. Ada percekcokan, bahwa ketika ada percekcokan, harus ada kesepakatan sebelumnya. Misalnya, tidak melakukannya di hadapan anak, di hadapan orang tua, di hadapan mertua, apalagi diketahui tetangga. Cukup dilakukan berdua saja. Kemudian, selepas cekcok, tidur harus tetap satu ranjang. Ada kebahagiaan. Ada perencanaan yang matang. Ada komunikasi. Musyawarah.

Bukan untuk Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah, melainkan dengan bekal dari-Nya yang berupa Mawaddah dan Rahmah untuk melanjutkan perjalanan panjang menuju Sakinah. “Mawaddah bisa diungkapkan melalui kebutuhan penghidupan dan finansial. Sedangkan Rahmah saya maknai sebagai kasih sayang, bentuknya saling menyayangi, saling menghargai, saling melengkapi,” ujar Cak Soleh atau Kang Joyo.

 Dulur-dulur yang masih jomlo pun melongo. Mendengar dengan antusias nasihat-nasihat pernikahan. Terkadang diselingi tawa nyaring melengking. Saling nggojlog-menggojloki.

Persembahan puisi juga turut mewarnai kemesraan pada malam itu. Puisi karya W.S Rendra berjudul “Sajak Cinta”, dibawakan oleh Cak Irul. Dengan penuh penghayatan. Meledak-ledak. Mengalir-lembut.

 Cintaku kepadamu telah mewaktu

Syair ini juga akan mewaktu

Yang jelas usianya akan lebih panjang

dari usiaku dan usiamu

Di penutup sesi sambat dan curhat, Cak Fauzi menyampaikan kunci dari pernikahan. Merujuk dari Mbah Nun, pernikahan adalah hal yang sangat sakral. “Aja maen seruduk. Misal wudhu dhisik, ngaji dhisik, utawa shalat hajat jamaah. Ketika sebelum melakukan hubungan badaniah. Melakukan regenerasi. Tidak boleh main-main.”

Kemudian setelah puas guyonan, bermesraan, berbagi cerita, berbagi nasihat, berbagi sambat dilanjutkan ke sesi pelantunan Sholawat Indal Qiyam. Segenap jamaah, tim banjari, kedua mempelai, dan kerabat keluarga ikut berdiri; hormat dan begitu khidmat. Seakan-akan merasakan kedatangan Kanjeng Nabi Muhammad di tengah-tengah lingkaran malam itu.

Sebelum acara Sakinahan dipungkasi, Cak Ubed menghaturkan ungkapan syukur bahagia bercampur terima kasih atas doa dan nasihat yang diberikan oleh sedulur Damar Kedhaton.

Pukul 00.00 tepat, doa penutup yang dipandu oleh Cak Soleh atau Kang Joyo mengakhiri rangkaian acara Sakinahan malam itu.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton tinggal di Guranganyar, Cerme