Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #72-Januari 2023 “MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO”

Salah satu penyakit orang modern adalah menganggap orang-orang terdahulu itu bodoh. Demikianlah yang pernah disampaikan Mbah Nun pada suatu kesempatan sinau bareng. Sekalimat yang memuat fungsi kritik, pepeling, sekaligus bekal kuda-kuda bagi generasi masa kini dalam menatap dan memaknai generasi sebelumnya.

Penatapan dan pemaknaan atas apa-apa yang telah diwariskan, menjadi hal yang niscaya, ketika diletakkan pada kesadaran bahwa perjalanan hidup manusia terus silih berganti sedangkan masing-masing generasi terbatasi durasinya. Maka dalam konteks itulah, para leluhur kita membekali sebuah piweling ; Mikul Dhuwur Mendhem Jero.

Memikul tak cukup sekedar memikul, tapi harus sampai dhuwur. Menjunjung agar ia tinggi sehingga mudah terlihat dan bisa disaksikan. Mendhem tak cuma sekedar mengubur, tapi harus sampai jero. Memendam sampai kedalaman hingga sulit untuk diulik dan ditampakkan.

Piweling itu tentu saja relevan, mengingat pelaku kehidupan adalah sama-sama manusia, yang kepadanya oleh Allah diilhamkan fujuuroha wa taqwaaha, sehingga apa-apa yang diwariskan tentu saja ada baiknya, pun ada jeleknya. Maka terhadap yang baik-baik harus dipikul sampai dhuwur, yang jelek-jelek di-pendhem nganti jero.

Lantas bagaimanakah kita mengejawantahkan Mikul Dhuwur Mendhem Jero dalam konteks ikhtiar uri-uri budaya atau warisan tradisi di bumi Giri Gisik ini? Aneka wajah tradisi berupa ritual Rebo Wekasan, Bubur Gumeno, Sedekah Bumi, Tegal Desa, dan lain sebagainya, bisa menjadi pintu tadabburnya. Pun bila diperluas, pertunjukan wayang kulit, ludruk, jaranan, reog, pencak macan, tayuban, bisa kita jadikan ajang penerjemahan.

Tak melulu di medan warisan tradisi, piweling Mikul Dhuwur Mendhem Jero bisa diekskalasikan pada wilayah yang lebih privat misalnya relasi anak terhadap orang tua. Atau bahkan juga bisa diserap sebagai panduan pada skala kepemimpinan.

Dulur, seraya menandai ini adalah perjumpaan pertama di tahun 2023, mari melingkar kembali untuk mengikhtiari proses peluasan pengetahuan dan jiwa demi ngugemi makna Giri Gisik, pada majelis ilmu Telulikuran edisi 72 pada :

 

Ahad, 15 Januari 2023

Pukul 20.23 WIB

Di Cafe Cindelaras

Ds. Siwalan, Kec. Panceng, Gresik