
Siang ini penulis melihat story WhatsApp yang berisikan kata mutiara dari SMDP, “Pembisik paling berbahaya adalah dirimu sendiri yang sibuk menjadi orang lain. Sehingga lupa menjadi diri sendiri”. Merenungi pesan itu, penulis tak kuasa menahan dorongan untuk segera menuangkan kegelisahan.
Mungkin kata itu terkesan biasa saja, namun tidak bagi penulis. Penulis merasa kata itu adalah sebuah imbauan, atau teguran. Di mana penulis sendiri masih sibuk menjadi orang lain, dan masih belum mengerti akan dirinya sendiri, belum paham akan makna lelaku – perjalanan hidupnya.
Setiap hari, jam, menit, detiknya, pembisik itu menghinggapi pikiran. Iya, dirimu versus dirimu yang lain, berperang dengan sengitnya mungkin lebih dahsyat daripada Perang Badar. Ketika itu Kanjeng Nabi Muhammad dengan ±300 pasukan melawan kaum Qurais ±1000 pasukan.
Ataupun Perang Baratayudha antara Pandawa yang hanya mengandalkan Arjuna dengan keahliannya melesakkan busur panah dan Werkudara yang memiliki semangat tinggi. Pandawa melawan Kurawa yang dipenuhi dengan orang hebat ; Guru Drona yang tidak lain adalah guru dari Pandawa sekaligus Kurawa, Bisma yang hanya bisa meninggal sesuai kemauan sendiri, Adipati Karna yang adalah kakak dari Pandawa dan memiliki keahlian memanah dan diberkati baju pelindung yang tidak mempan oleh senjata apapun, Aswatama, anak dari Guru Drona, serta masih banyak kesatria lainnya.
Seperti kita tahu, peperangan dasyat itu dimenangkan Kanjeng Nabi, dan dimenangkan pula oleh Pandawa. Lantas bagaimana mengatasi beribu, bahkan jutaan pengetahuan di akal pikiran yang diperoleh selama hidup ini, dengan keterbukaan informasi yang semakin mudah diakses melalui internet?
Disadari atau tidak, pembisik itu akan selalu mengejarmu meskipun ngumpet di dalam lemari, di semak belukar ataupun dalam keadaan tertidur. Perang Badar hanya peperangan antara baik dan buruk, antara kubu Kanjeng Nabi dan kubu Abu Jahal. Perang Baratayudha juga jelas, antara Pihak Pandawa (kebaikan) vs Kurawa (kejahatan). Namun peperangan dalam dirimu lebih kompleks lagi ; peperangan antara halal, haram, sunah, mubah, makruh.
Selamat menikmati peperangan antara dirimu dengan dirimu sendiri. Sebelum itu mari kita lantunkan sholawat badar;
Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah
Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah
Tawassalnaa Bibismillaah Wabil Haadi Rasuulillaah
Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah
Jangan lupa, selalu jaga hormon dopamin.
Gresik, 25 Januari 2025
Fauzi “Madrim” Effendy
JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota