Resah sebagai Ilmu, Laku sebagai Jalan

Resah sebagai Ilmu, Laku sebagai Jalan

(Merawat Damar Kedhaton Sepanjang Ikhtiar Khalidina fiha abada 4)

Apa dampakku di lingkar terkecil: diriku sendiri?

Lalu di lingkar pengaruh: terhadap Damar Kedhaton?

Setelah itu, bisakah kita membawa napas Maiyah ke lingkungan yang lebih luas?

Tiga pemantik pertanyaan fundamental yang termuat dalam prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik edisi ke-109, Januari 2026 lalu. Poin utamanya adalah resah dan laku. Saya mencoba memaknai secara mendalam dua kata tersebut. Cukup asyik bagi saya pribadi untuk dijadikan sebagai bahan sinau.

Jujur saja, semakin saya menyelami, makin bertambah keresahan yang bertumpuk-tumpuk. Kegelisahan datang menyergap. Dada penuh. Kepala rasanya ingin meledak. Saya dibuat penasaran sekaligus bertanya-tanya. Seberapa pentingnya sih Mengolah Keresahan Meneguhkan Laku?

Secara manusiawi, saya sadar: keresahan itu bisa membuat saya depresi dan tertekan. Kegelisahan membuat perasaan tak aman dan tak nyaman. Namun, saya tidak boleh berkecil hati. Lha wong Tuhan telah memberikan petunjuk sekaligus tuntutan yang dapat dijadikan sebagai pegangan.

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Al-Ra’d Ayat 28).

Tulisan ini melanjutkan tulisan saya sebelumnya berjudul: Epistemologi Keresahan dalam Gerakan Sebelum Terlambat. Ada tiga premis dalam tulisan ini. Pertama, Menjadikan Resah Sebagai ‘Ilmu. Melalui tulisan tersebut, intinya, Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh menyebut bahwa keresahan adalah modal awal yang sejak puluhan tahun silam dijadikan pijakan oleh Mbah Nun dalam spirit value gerakan Maiyah selama ini.

Kedua, melanjutkan apa yang disampaikan Redaktur Maiyah (RedMa) Mas Helmi Mustofa lewat Discord kamar #damar-kedhaton. Bahwa, kita bisa belajar kepada Mbah Nun, bagaimana beliau memiliki kepekaan untuk resah—jauh sebelum orang-orang pada merasa resah. “Coba teman-teman bisa mencari contoh-contohnya dari apa-apa yang dilakukan Simbah,” tulis Mas Helmi.

Salah satu contohnya disampaikan Mas Helmi melalui pertanyaan lanjutan. “Misal, apakah sinau bareng yang beliau galakkan merupakan suatu follow (respons) atas keresahan yang beliau rasakan? Apa kira-kira keresahan beliau?” Bahkan, lanjut Mas Helmi, almarhum Pak Kuntowijoyo juga menyebut Mbah Nun sebagai pemuda yang punya sensibilitas tinggi.

Ketiga, tulisan ini—khususnya meneruskan bahan-bahan kawruh dari Mbah Nun melalui RedMa untuk dielaborasikan dalam Telulikuran Januari 2026—belakangan coba saya maknai, dan saya pikirkan secara mendalam. Ia bisa menjadi jawaban, bagi saya secara personal, dalam serial tulisan Kaffah Berguru kepada Mbah Nun.

Dari ketiga premis tersebut, saya menemukan bahwa keresahan tidak berhenti sebagai reaksi emosional semata, tetapi mengarah pada proses tadabbur yang lebih medalam. Yang kemudian mengantarkan kesadaran saya—dalam proses pemaknaan hidup—bahwa titik simpul utama resonansinya adalah tadabbur Al-Qur’an.

Sebagaimana yang disampaikan Mas Helmi dalam Discord, “Kalau ayat-ayat Al-Qur’an cukup banyak, bisa cari yang ujung-ujungnya afala ta’qilun, afala tadzakkarun,..” Menurut Mas Helmi, semua itu merupakan panggilan atau seruan kepada kita untuk mengamati sekaligus merasakan, memikirkan dan nanti akan menemukan keresahan.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 179.

Demikian referensi ayat dalam Al-Qur’an yang diberikan Mas Helmi kepada saya, dengan tujuan untuk dielaborasi secara tadabbur pada Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-109 Januari 2026. Ayat tersebut, bagi saya, berfungsi sebagai cerminan atas referensi tulisan Mbah Nun: Wartawan tanpa Kamera, Intelektual tanpa Kekudusan, Ulama tanpa Keberanian.

Dua referensi sebelumnya—QS. Al-A’raf Ayat 179 dan tulisan Mbah Nun—secara tak langsung menjadi tamparan keras pada diri saya secara personal. Pendek kata: judulnya saja bagi saya sangat “mengerikan”, apalagi isi tulisannya. Ada sebagian irisan keresahan saya terjawab di sana semua—wartawan. Yang kemudian “melahirkan” tulisan mengalir menemui takdirnya sendiri. HPN: Demi Masa, dan Mengalami Pers (Utang Roso, Sunyi, dan Belajar Merawat “Fatwa Hati”).

Cerme, Selasa, 24 Februari 2026

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.