Epistemologi Keresahan dalam Gerakan Sebelum Terlambat

Epistemologi Keresahan dalam Gerakan Sebelum Terlambat

(Merawat Damar Kedhaton Sepanjang Ikhtiar Khalidina Fiha Abada 3)

Tema Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik edisi ke-109 Januari 2026 berbunyi: Mengolah Keresahan, Meneguhkan Laku.

Kalimat tersebut memang terbaca sederhana dan biasa saja. Tak ada yang istimewa. Namun, bagi saya, ia tidak sesederhana kata yang menyusunnya. Ia seperti cermin yang memantulkan kegamangan. Bahkan, sebelum forum dimulai, tema itu sudah lebih dulu menggelisahkan batin saya.

Saya harus jujur: ada rasa takut ketika menyebut diri sebagai bagian dari irisan kecil jalur koordinasi simpul-simpul Maiyah bersama Redaktur Maiyah (RedMa). Bukan karena punya posisi penting di sana, yang terjadi justru sebaliknya. Karena saya sadar betul bahwa posisi itu rawan disalahpahami—oleh orang lain, bahkan diri sendiri.

Di dalam lingkar itu, saya tidak mungkin berani (merasa) sebagai “orang dalam”. Atmosfer Maiyah terlalu “kompleks” untuk disederhanakan. Frekuensinya terasa sangat “wingit”. Maiyah tak akan cukup disebut sebagai jaringan, melainkan ruang kesadaran. Dan, ruang kesadaran itu menuntut adanya kejujuran batin, bukan semata jaringan akses komunikasi.

Tetapi, justru dari kegamangan itu, saya pribadi menemukan satu pelajaran berharga: keresahan yang saya alami adalah tanda hati belum mati, serta akal lembur bekerja. Demikian pemaknaan versi yang saya alami sejauh ini.

Keresahan sebagai Sensibilitas

Melalui komunikasi dengan Redma—Mas Helmi Mustofa—saya menerima rujukan bahan tulisan Mbah Nun: Wartawan tanpa Kamera, Intelektual tanpa Kekudusan, Ulama tanpa Keberanian. Tulisan itu sebenarnya relevan untuk dielaborasi dalam Majelis Ilmu Telulikuran edisi Januari 2026. Namun, pada pelaksanaannya, ia tidak terbahas sama sekali.

Bermula dari situ, saya (merasa) diuji: apakah ilmu yang diterima hanya berhenti sebagai informasi? Ataukah ia harus ditansformasikan menjadi laku pribadi?

Lewat Discord, Mas Helmi menulis begini: “Kita bisa belajar kepada Simbah, bagaimana Simbah memiliki kepekaan untuk resah, jauh sebelum orang pada resah…”

Kalimat tersebut rasa-rasanya menampar kesadaran saya seketika. Bahwa, resah bukan sekadar reaksi emosional sesaat. Ia adalah sensibilitas. Almarhum Kuntowijoyo pernah menyebut Mbah Nun sebagai pribadi dengan sensibilitas tinggi. Sensibilitas itu yang kemudian membuat beliau mampu membaca tanda-tanda zaman sebelum menjadi krisis kolektif.

Sinau Bareng—yang ditradisikan Mbah Nun lewat Maiyah—tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari kegelisahan atas kebekuan berpikir, atas jarak pemisah antara agama dan realitas, serta atas kegamangan sosial yang tidak memiliki ruang dialog. Yang kemudian saya maknai: Gerakan lahir dari keresahan yang diolah.

Mengolah, Bukan Menghindari

Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari, keresahan sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari, dan dihilangkan. Padahal, dalam perspektif Al-Qur’an—versi tadabbur saya—keresahan justru bisa menjadi pintu kesadaran yang lebih luas.

 

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar’Ra’d Ayat 28).

 

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةًۗ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْاَنْهٰرُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاۤءُۗ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

“Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga ia (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal, dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar. Ada pula yang terbelah, lalu keluarlah mata air darinya, dan ada lagi yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah Ayat 74).

 

Menurut pemaknaan saya, dua ayat di atas mengisyaratkan hati memiliki dua kutub: hati yang tenteram dan hati yang mengeras. Kemudian saya belajar memahami bahwa keresahan bukan lawan dari ketenteraman. Ia bisa berfungsi sebagai penjaga agar hati tidak keras membatu.

Justru yang berbahaya bukan rasa gelisah atau resahnya, melainkan ketika hati sudah mati rasa. Total. Tak pernah bisa merasakan. Maka, bagi saya, mengolah keresahan berarti bagaimana menempatkannya dalam ruang kesadaran.

Keresahan ditadabburi dan dikendurikan. Upaya tersebut sekaligus mengingat apa yang disampaikan Mas Sabrang: menjadikan resah sebagai ‘ilmu. Hadirnya rasa resah bukan dibiarkan menjadi keluhan atau sesambatan tanpa arah. Ia perlu ditransformasikan dalam sistem tubuh agar bekerja secara aktif.

Damar Kedhaton dan Risiko Rutinitas

Jika ditarik pada konteks Damar Kedhaton Gresik, maka pertanyaannya adalah: apakah Damar Kedhaton masih cukup resah?

Forum yang rutin digelar setiap bulan berisiko menjadi acara seremoni semata, tanpa ada ruh dan value yang nyata—dalam framework thinking dunia-akhirat, akhirat-dunia, khalidina fiha abada.

Diskusi yang berulang juga dapat berisiko menjadi sebatas formalitas. Dan, gerakan yang terlalu “nyaman diam di tempat” juga berisiko kehilangan daya dobraknya. Maka, bagi saya, keresahan kolektif adalah radar. Ia membaca problem riil masyarakat Damar Kedhaton itu sendiri—baik dalam aspek ekonomi, sosial, maupun spiritual.

Ketika ada keresahan atas ketergantungan ekonomi, maka lahir ikhtiar kemandirian. Bersyukur, DamPro dan Silaturahmi Energi menjadi salah satu upaya inisiatif yang bergerak di bidang itu.

Ketika ada kegelisahan atas degradasi etika publik, maka lahir ruang literasi dan pendidikan. Bersyukur, sejak lama kita telah dibekali Mbah Nun ilmunya: forum egaliter, sinau bareng, dan beragam latihan cara berpikir yang mbois—melalui Majelis Ilmu, bukan seminar publik.

Ketika ada kecemasan atas kekosongan makna, maka lahir ruang dzikir dan dialog—baik jasmani maupun rohani. Semuanya sudah sepaket lengkap dalam tradisi yang senantiasa diperjuangkan bersama—dalam koridor rel bernama terus berjalan.

Tanpa keresahan, (mungkin saja) dari perspektif saya, Damar Kedhaton hanya menjadi ruang kumpul bersama sebatas cangkrukan tanpa arah, makna, dan tujuan yang jelas. Dengan keresahan yang diolah tersebut, maka ia akan menjadi ruang transformasi perubahan yang berdampak—sedikit-sedikit lama-lama bisa menjadi bukit. Tak perlu saksi dunia, melainkan bagaimana kesaksian Allah itu hadir seutuhnya. Sebagai bentuk ikhtiar sajen kita kepada Indonesia dan diri sendiri.

Keresahan yang Sengaja Dirawat

Saya harus mengakui sesuatu yang mungkin terdengar tak masuk akal: sebagian keresahan itu saya pelihara sendiri. Bahkan, sengaja saya ciptakan sendiri. Serial tulisan Merawat Damar Kedhaton Sepanjang Ikhtiar Khalidina Fiha Abada adalah PR yang saya buat sendiri tanpa ada yang meminta. Tantangan itu seringkali membuat saya frustasi. Rasa tidak cukup. Penasaran selalu menghantui saya. Dan, rasa takut dianggap melampaui batas.

Tetapi anehya, di dalam rasa frustasi itu justru ada kenikmatan yang saya alami. Sejenis kesegaran batin ketika diri dipaksa untuk terus belajar, terus membaca, dan terus bertanya. Barangkali, ini bisa disebut sebagai makna “mengolah keresahan” dalam level paling personal: membiarkan diri menemukan radar sensitivitas kepekaan batin-lahir, merasa tidak puas, tetapi tansah eling lan waspada supaya tidak kehilangan arah.

Meneguhkan Laku

Mengingat, mempertimbangkan, dan meneruskan tema Majelis Ilmu Telulikuran bulan Januari 2026, tentu tidak cukup bila hanya berhenti pada “mengolah”. Ia perlu dilanjutkan dengan “meneguhkan laku”. Barangkali di sinilah letak tantangan sesungguhnya. Menurut versi saya: mengolah adalah kerja batin, sedangkan meneguhkan adalah kerja praksis.

Artinya, jika keresahan tidak diterjemahkan menjadi langkah padat konkret—sekecil apa pun—ia akan berubah menjadi beban psikologis. Tetapi jika ia ditransformasikan menjadi tindakan, ia bisa menciptakan daya letup energi.

Meneguhkan laku—bagi saya—berarti bagaimana memastikan bahwa kegelisahan tidak hanya dirias, diperindah, atau dipercantik rupa dalam bentuk narasi semata, tetapi nyata diekspresikan dalam setiap pengambilan keputusan hidup—sekecil apa pun bentuknya.

Merawat Sepanjang “Demi Masa”

Tulisan ini sengaja saya buat sebagai pembayaran utang batin-lahir. Bukan karena merasa memiliki akses “eksklusif” dengan RedMa, melainkan karena saya merasa tidak pantas menyimpan sendiri apa yang semestinya dibagikan kepada dulur-dulur Damar Kedhaton Gresik.

Merawat Damar Kedhaton sepanjang ikhtiar khalidina fiha abada tidak lantas saya anggap sebagai proyek besar yang “wow”, apalagi diromantisasi dalam wujud tulisan. Bagi saya, itu adalah kesediaan untuk terus belajar merawat sekaligus mengolah keresahan—terutama pada diri saya sendiri.

Sebab, gerakan yang berhenti pada keresahan pelan-pelan akan membatu. Dan, “hati” yang membatu, sebagaimana diingatkan Al-Qur’an, lebih keras dari sifat batu itu sendiri. Sungguh, dalam situasi dan kondisi seperti ini: saya dilingkupi “rasa takut” tak berkesudahan.

Karena itu, saya memilih untuk tetap gelisah secara sadar. Berjuang untuk mengolah dan merumuskannya: maka lewat tulisan aku berTuhan. Sepanjang Demi Masa.

Cerme, 18-20 Februari 2026

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.