Laku Menulis Sebagai Perang Batin dan Pikiran

Laku Menulis Sebagai Perang Batin dan Pikiran

Aktivitas menulis membutuhkan ruang bagi seseorang untuk betah berlama-lama menaruh perhatian pada proses berpikirnya sendiri. Aktivitas itu bukan sekadar kegiatan merangkai kata, melainkan bentuk lain dari latihan menempa kesabaran batin: mengambil jarak terhadap distraksi, menata kegelisahan, menjadikan resah sebagai ‘ilmu’, dan memberi waktu bagi pikiran untuk berdiam dalam satu titik kesadaran.

Namun, kesulitan sekaligus tantangan terbesar yang saya alami bukan semata karena distraksi dunia digital yang gaduh, melainkan karena sejak awal dengan sadar saya telah membawa konflik batin dalam laku menulis itu sendiri—kegelisahan tentang arah, tujuan, dan makna dari apa yang saya tulis.

Keresahan itu bukan akibat keberadaan teknologi, tetapi telah berwujud bahkan sebelum saya benar-benar menyadarinya sepenuhnya. Saya menulis, tetapi belum sepenuhnya tahu mengapa saya menulis—apa tujuan, latar belakang, dan dorongan batin yang menghendaki saya menulis.

Saya berjalan dalam proses aktivitas menulis itu tanpa peta yang jelas, seolah hanya mengikuti dorongan batin yang tak selalu bisa saya jelaskan. Dalam keadaan seperti ini, kehadiran era digital dengan segala distraksinya bukan penyebab utama krisis yang saya rasakan. Justru sebaliknya, kondisi itu makin memperparah konflik batin yang sudah lebih dulu ada di dalam diri saya.

Perangkat elektronik—terutama handphone—memang sudah tak bisa terpisahkan dari keseharian kita saat ini. Ia hadir nyaris sepanjang waktu, 24 jam non-stop. Menjelma dimensi ruang baru yang menghubungkan pekerjaan, pendidikan, hiburan, pengetahuan, bahkan relasi sosial dalam satu genggaman tangan.

Derasnya arus informasi menciptakan lingkungan yang menuntut perhatian secara terus-menerus. Di tengah situasi itu—bagi sebagian besar orang, khususnya saya—menulis menjadi aktivitas yang tampak sunyi. Kesadaran melambatkan waktu, ruang jeda yang tak memberi iming-iming kepuasan instan. Bukan karena menulis kehilangan maknanya, tetapi karena saya harus berhadapan dengan kegelisahan batin sendiri yang semakin terasa menguat di tengah derasnya distraksi informasi.

Tak heran bila pada titik tertentu aktivitas menulis terasa menjemukan, bahkan memunculkan rasa frustrasi. Dari seluruh keresahan dan kegelisahan yang membuat saya makin frustrasi, justru saya temukan kenikmatan. Dan saya akan terus mengembarai rasa frustrasi—resah ditemani tulisan—tersebut sepanjang Demi Masa.

Saya menyadari bahwa beberapa tulisan sebelumnya lahir tanpa arah yang benar-benar saya pahami. Saya menulis, tetapi belum sepenuhnya tahu mengapa saya memilih jalan itu. Ketika saya mencoba menelusuri proses menulis secara teoritis, saya justru menemukan ketidaksesuaian antara praktik yang saya jalani dengan teori menulis yang terstruktur—seperti tahapan pra-penulisan, penyusunan, hingga revisi (Kirszner dan Mandell, 1980:1–2). Ketidaksesuaian itu sempat membuat saya merasa semakin tidak tahu apa-apa, seolah proses menulis yang saya tempuh berjalan di luar peta yang telah dirumuskan oleh para ahli.

Namun, saya tidak berkecil hati. Justru saya mencoba belajar memahami bahwa ketidaksesuaian dengan teori tidak selalu berarti kesalahan. Barangkali itu menunjukkan bahwa saya sedang menempuh model praksis alternatif menulis yang lebih intuitif dan reflektif. Dalam konteks ini, kehadiran orang lain menjadi penting sebagai cermin pantulan dari diri saya. Ruang kritik, dialog, dan percakapan sosial tidak saya tempatkan sebagai serangan terhadap diri, melainkan sebagai bagian dari siklus refleksiegaliter dalam pembelajaran sosial yang membantu saya membaca ulang perjalanan menulis yang saya tekuni sejauh ini.

Saya sepakat dan menerima kritik konstruktif yang pernah disampaikan oleh Cak Fauzi terhadap diri (tulisan) saya yang tak sekadar perlu dibaca, tetapi ditemani—termasuk penilaian Cak Arif yang kemudian saya respons lewat tulisan berjudul: Lebih Cakap Menulis daripada Bicara? Ketika Diri Menjadi Peneliti bagi Dirinya Sendiri.

Di tengah keresahan itu, saya hanya berpatokan pada satu pengalaman batin yang pernah saya tulis sebelumnya: sebuah puisi yang lahir di puncak Gunung Lawu pada tahun 2020, berjudul: Lewat Tulisan Aku BerTuhan. Tidak lebih. Tidak mengada-ada. Hanya ruang sunyi yang penuh keindahan, tempat saya merasakan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas merangkai kata, melainkan cara merawat kesadaran lapis rohani.

Melalui kritik konstruktif dan refleksi sosial itu, saya mulai menyadari bahwa keresahan menulis bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut persoalan makna. Ketika ruang dialog sosial menyingkap keterbatasan diri saya, secara tidak sadar saya justru dipertemukan dengan keluasan-keluasan tak terbatas.

Saya menganalogikan itu sebagai ruang orientasi makna yang terasa semakin sulit ditemukan dalam ritme kehidupan yang serba cepat saat ini. Dalam pencarian itu, imajinasi saya kerap bergerak menuju sebuah zaman yang saya bayangkan masih menjunjung tinggi kebaikan dan mempercayai kebenaran sebagai nilai hidup.

Saya (merasa) berguru secara sadar kepada sosok satu-satunya orang yang pernah digelari sebagai Presiden Malioboro oleh media massa, kalangan intelektual, dan aktivis kebudayaan puluhan tahun silam, yakni Umbu Landu Paranggi. Dari garis keindahan itu saya kemudian mengenal laku berpikir dan berjiwa yang dihidupi oleh Emha Ainun Nadjib—Mbah Nun—sosok teladan bagaimana merawat kejernihan rohani tanpa tercerabut dari realitas sosial.

Sejujurnya, saya juga sedang berimajinasi—melalui tulisan ini—untuk menyelam ke masa lalu. Sebuah masa yang bahkan saya belum ditakdirkan lahir di dunia ini. Saya belajar merenungi bahwa penyelaman itu bukanlah sikap pelarian dari kenyataan hari ini. Saya belajar mengelola keresahan batin untuk mencari kejernihan makna di tengah kehidupan yang bergerak terlalu cepat. Imajinasi itu saya tempatkan sebagai ruang kontemplasi diri, tempat saya menimbang ulang relasi antara dunia yang riuh dan kebutuhan batin akan kesunyian yang bermakna.

Pada akhirnya, dari seluruh pergulatan itu, saya sampai pada satu kesadaran baru: menulis bukan semata aktivitas intelektual, melainkan laku eksistensial untuk merawat sekaligus memperteguh makna diri. Saya menyebutnya sebagai aktivitas menepi ke Kehidupan Puisi.

Maka, pilihan saya untuk “menepi” bukan berarti bentuk penolakan terhadap dunia digital atau pelarian diri dari realitas dunia modern hari ini. Saya menempatkan “menepi” sebagai sikap perang batin jangka panjang untuk menjaga kejernihan berpikir dan kedalaman rohani di tengah arus distraksi yang tak berkesudahan.

Menepi, bagi saya, adalah tetap hidup dalam kewarasan akal serta kejernihan hati di tengah dunia yang makin riuh. Tetap berdialog dengan realitas sosial, tetapi tidak hanyut larut dalam kebisingannya. Saya belajar mengelola jarak reflektif agar aktivitas menulis tidak kehilangan “daya ledak” kesunyiannya. Sebab, justru dari ruang sunyi itulah saya juga belajar memahami bahwa lewat tulisan, saya sedang merawat hubungan batin dengan makna hidup itu sendiri.

Dengan kesadaran itu, laku menepi ke kehidupan puisi tidak bisa disebut penarikan diri dari dunia, melainkan pilihan eksistensial saya dalam jangka panjang: tetap sadar melibatkan diri di tengah kehidupan modern dengan kejernihan penglihatan batin yang setia pada kedalaman makna yang sengaja ingin saya rawat melalui tulisan. Ngreksa Wasita Sinandhi—tema yang disinaoni dalam Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik yang pertama saya hadiri pada tahun 2018.

Cerme, Jum’at, 27 Februari 2026

Febrian Kisworo Aji (Kelana Malio-bara)
JM Damar Kedhaton Gresik, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.