Lebih Cakap Menulis daripada Bicara? Ketika Diri Menjadi Peneliti bagi Dirinya Sendiri

Lebih Cakap Menulis daripada Bicara? Ketika Diri Menjadi Peneliti bagi Dirinya Sendiri

Ada momen ketika saya mencoba mengambil jarak, memberi jeda terhadap ruang dan waktu—menjauh sejenak dari (wadag) diri saya sendiri. Seolah ada “saya” yang lain: yang mengamati, menilai, mengukur, dan terus ingin belajar karena penasaran. “Saya” yang lain itu barangkali adalah kesadaran reflektif saya sendiri—akal dan hati yang berusaha menjadikan diri (wadag) sebagai objek pembelajaran khalidina fiha abada.

Meminjam bahasa ilmiah, upaya ini dapat disebut sebagai bentuk riset personal. Bukan riset akademik formal, melainkan refleksi konseptual atas pengalaman empiris diri yang saya dialogkan dengan kerangka teori sosial dan kognitif.

Apa bisa? Kalau pun bisa, bagaimana caranya?

Pertanyaan semacam itu sengaja saya rawat secara sadar. Saya ingin membuktikan secara empiris apa yang pernah didhawuhkan Mbah Nun bahwa kesadaran riset tidak selalu harus tunduk pada metodologi akademis yang baku; yang utama adalah memiliki kesadaran riset dalam menjalani hidup.

Kesadaran riset itu sedang saya usahakan. Semampu saya. Sebisa-bisanya.

Berangkat dari role model yang mengemuka di awal paragraf, saya mencoba memetakan diri menjadi dua fungsi kesadaran. Pertama, diri reflektif—kesadaran yang mengamati, menilai, dan memaknai pengalaman. Kedua, diri empiris—tubuh biologis yang mengalami peristiwa konkret dalam kehidupan sosial. Pembagian ini bukan pemisahan ontologis, melainkan pembedaan fungsi kesadaran: sebagai pengamat reflektif dan sebagai pelaku pengalaman empiris.

Role modelnya sederhana namun menantang bagi diri saya pribadi: bagian reflektif dalam diri saya sedang “meriset” bagian empiris dalam diri saya sendiri.

Pusing? Pasti. Tulisan ini memang mengharuskan pikiran tajam untuk menganalisisnya. Jika tidak berkenan berpikir mendalam, tidak mengapa. Urusi saja kehidupan masing-masing: kelola finansial, nafkah keluarga, cicilan, listrik, pangan, pendidikan, dan seterusnya—itu memang kewajiban nyata yang tak bisa ditunda.

Namun, agar tidak melebar dari konteks, saya kembali ke titik koordinat yang presisi: role model bahwa diri saya terbagi menjadi dua fungsi kesadaran.

Dalam konteks ini, saya teringat momen Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik edisi ke-110, Februari 2026, bertajuk “Isyarat Fatwa Hati.” Pada satu sesi elaborasi tema yang berlangsung khusyuk, saya mendengar dengan cermat apa yang disampaikan oleh Cak Arif. Fokus perhatian saya menangkap bahwa beliau menyampaikan uneg-uneg personal kepada saya, usai beragam pendapat saya kemukakan di forum.

Saya merasa sudah menuturkan argumen secara runtut. Namun Cak Arif mengaku kesulitan menangkap celotehan ngalor-ngidul saya. Tutur ucap saya sulit dicerna logika, terlalu melebar, meloncat-loncat. Bahkan beliau menyatakan lebih memilih membaca tulisan-tulisan saya daripada mendengar argumen lisan saya.

Peristiwa ini saya jadikan sebagai salah satu objek penelitian diri. Ada beberapa indikator yang saya catat: ingatan saya tentang kejadian tersebut, respon indra pendengaran yang langsung diproses sistem saraf otak, pernyataan eksplisit yang disampaikan oleh Cak Arif, serta perbandingan antara kemampuan lisan dan tulisan saya.

Subjek penelitian adalah diri reflektif saya. Objeknya adalah diri empiris saya dalam peristiwa sosial tersebut. Dengan indikator-indikator itu, saya mencoba menyederhanakan model kejadiannya: ini adalah bagian dari proses berpikir yang sedang diuji melalui interaksi sosial.

Secara ilmiah, berpikir merupakan proses kognitif yang melibatkan penerimaan, pengolahan, dan pengambilan keputusan berdasarkan informasi dari pancaindra (Neisser, 1967). Proses ini tidak hanya terjadi saat dewasa, tetapi sejak manusia lahir. Tangisan bayi terhadap perubahan suhu atau ketidaknyamanan fisik menjadi bukti bahwa mekanisme berpikir untuk bertahan hidup telah bekerja dalam bentuk paling sederhana.

Namun, saya perlu memberi jarak terhadap kata “berpikir” itu sendiri. Saya tidak ingin terjebak dalam penjara pikiran. Sebab kualitas berpikir seringkali terganggu oleh berbagai bias kognitif. Ada bedanya antara berpikir benar dengan benar berpikir.

Tulisan “Berpikir Benar dan Benar Berpikir” memberi inspirasi ketika pikiran saya menemui jalan buntu—mandek, bingung, tersesat dalam kerumitan isi kepala sendiri. Dari sana saya menyadari bahwa proses berpikir tidak hanya soal isi kebenaran, tetapi juga soal metode dan kerangka yang digunakan.

Bias kognitif yang diidentifikasi dalam psikologi keputusan—seperti association bias, action bias, illusion bias, dan framing effect (Tversky & Kahneman (1974)—mengingatkan saya bahwa penilaian terhadap diri sendiri maupun orang lain tidak pernah steril dari prasangka. Kesadaran atas potensi bias ini penting agar saya tidak tergesa-gesa menafsirkan komentar Cak Arif sebagai kebenaran final ataupun sebagai ancaman identitas diri.

Berpikir benar berkaitan dengan substansi kebenaran yang sahih, baik empiris maupun normatif. Sementara benar berpikir berkaitan dengan metode, kerangka logika, dan keterbukaan terhadap kritik. Tanpa metode yang benar, pikiran mudah tersesat oleh prasangka; tanpa orientasi pada kebenaran, metode berpikir bisa disalahgunakan untuk membenarkan hal yang keliru.

Di titik ini, saya mulai memahami bahwa penilaian orang lain tidak harus dimaknai sebagai pencarian validasi semata. Ia bisa diposisikan sebagai proses verifikasi sosial terhadap struktur berpikir saya. Validasi berkaitan dengan kebutuhan psikologis untuk diakui, sedangkan verifikasi berkaitan dengan pengujian objektif terhadap kualitas argumen dan ekspresi pikiran.

Perbedaan ini penting bagi saya. Sebab jika saya hanya mencari validasi, maka tulisan ini berisiko menjadi pembelaan diri yang terselubung teori. Namun jika saya memposisikannya sebagai verifikasi, maka umpan balik sosial justru menjadi mekanisme refleksi kritis dalam pembelajaran sosial.

Dari sinilah kerangka “kesadaran riset” yang saya tempuh mulai menemukan titik terang. Kendati demikian, saya tidak berani geer pada diri sendiri. Tulisan ini justru saya posisikan sebagai bentuk perlawanan kepada diri saya sendiri: perlawanan badar yang sabar dan berilmu matang, sebuah jalan sunyi yang saya tempuh dalam perjalanan menuju Tuhan, kemanusiaan, dan kebangsaan—demikian yang acap didhawuhkan Mbah Nun.

Berangkat dari keresahan atas penilaian Cak Arif bahwa saya lebih cakap menulis daripada berbicara, saya mengolahnya dalam framework thinkingkesadaran riset” dengan pisau analisis role model dua fungsi diri: diri reflektif dan diri empiris. Maka saya merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana umpan balik sejawat berfungsi sebagai cermin reflektif dalam pembentukan kesadaran diri?
  2. Bagaimana diskusi egaliter—melalui medium tulisan—mengubah penilaian eksternal menjadi sarana evaluasi internal?
  3. Bagaimana transformasi makna penilaian orang lain bergerak dari kebutuhan validasi menuju refleksi kritis dalam proses belajar sosial?

Alur modelnya:

Orang lain berfungsi sebagai cermin reflektif sosial. Perspektif mereka memunculkan dialog korektif. Dialog berlangsung dalam ruang diskusi egaliter. Hasil dialog memicu refleksi diri kritis. Refleksi menghasilkan transformasi diri yang kemudian diuji kembali dalam interaksi sosial berikutnya. Sebuah loop belajar sosial yang berkelanjutan.

Saya menyebutnya—atas bantuan penajaman arah tulisan oleh AI: “Siklus Refleksi–Egaliter dalam Pembelajaran Sosial.”

Landasan teori dari perspektif interaksi sosial, konstruktivisme, diskursus egaliter, dan praktik reflektif memperkuat bahwa kesadaran diri memang lahir melalui relasi sosial yang dialogis. Orang lain bukan sekadar pemberi penilaian, melainkan cermin reflektif yang membantu individu memahami dirinya secara lebih objektif. Dialog dan koreksi berfungsi sebagai scaffolding kognitif. Diskusi egaliter menyediakan ruang rasional komunikatif tanpa dominasi kuasa. Dan feedback menjadi mekanisme refleksi berkelanjutan yang mendorong pertumbuhan intelektual dan metakognitif.

Dengan sintesis tersebut, saya sampai pada tesis utama tulisan ini: kebutuhan terhadap penilaian orang lain tidak semata dimaknai sebagai pencarian validasi diri, melainkan sebagai proses verifikasi reflektif dalam pembelajaran sosial yang dialogis dan egaliter.

Tulisan ini, pada akhirnya, adalah ruang sinau bareng lewat medium kata. Bukan kesimpulan final tentang diri saya, melainkan hipotesis reflektif yang terus diuji melalui perjumpaan-perjumpaan sosial berikutnya. Sebab kesadaran riset bukanlah label yang selesai di tempat. Ia terus berjalan dan bergerak, sebagai laku hidup: jatuh-bangun, dan diperbarui oleh dialog dengan sesama.

Cerme, Kamis 26 Februari 2026

Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyair; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.