selat hormuz dan selat pikiran

3 Maret 2026. Tak ada artikel bola yang saya kirim ke media massa. Alasan paling logis: saya memang capek. Lelah pikiran dan badan. Dua hari sebelumnya, 1 dan 2 Maret, saya masih mengirim tulisan—masing-masing tujuh dan empat dalam sehari.
Di akhir Februari, Sabtu 28 Februari 2026, saya menyentuh bahan mentah: draft prolog Majelis Ilmu Telulikuran (MIT) edisi ke-111 Damar Kedhaton Gresik. Jadwal pelaksanaannya 11 Maret 2026. Tubuh dan pikiran saya memang seperti “dipaksa” terus berjalan.
Tulisan ini pun sebenarnya bentuk pemaksaan—saya kepada diri sendiri. Meski artikel bola juga bisa disebut begitu. Bedanya, artikel bola adalah tanggung jawab “profesional” kepada jajaran pimpinan media—salah satu lubang—tempat saya menanam tanaman—meski belakangan saya lebih sering merasa seperti content writer.
Sementara di damarkedhaton.com, “pemaksaan” ini terasa lain. Ia seperti sajen kecil yang bisa saya persembahkan. Sajen Kita Kepada Indonesia dan Diri Sendiri—begitu saya menyebutnya. Sekaligus angsuran roso kepada Damar Kedhaton. Dan saya sadari sejak awal: mustahil bisa melunasi utang roso itu.
Tulisan ini juga bagian dari janji pribadi: Lewat Tulisan Aku BerTuhan.
Beberapa hari terakhir dunia ramai oleh eskalasi perang Iran dengan Amerika–Israel. Rudal-rudal berterbangan di langit. Saya membayangkannya seperti mercon yang disulut anak-anak kecil di kampung. Sama-sama ledakan. Tapi suasananya berbeda.
Mercon di kampung adalah kegembiraan. Ledakan yang ditunggu. Tawa yang candu.
Sementara di sana, ledakan berarti ketidakpastian. Salah satu imbasnya: jika Selat Hormuz ditutup Iran, harga minyak bisa melampaui USD100 per barel. Subsidi BBM akan terkuras. Program Makan Bergizi Gratis bisa terancam kekurangan gizi.
Secara geografis, rudal-rudal itu tak akan jatuh di Indonesia. Tidak di kampung saya. Tetapi entah kenapa frekuensinya tetap sampai. Sampai ke ruang pikiran. Sampai ke ruang rasa.
Saya mulai bertanya-tanya: sebenarnya yang saya takutkan itu apa?
Harga minyak? Masa depan negeri?
Atau sekadar kenyataan bahwa dunia bisa bergerak tanpa bisa saya kendalikan?
Saya belum punya jawaban.
Yang mulai saya sadari hanya ini: saya tak punya kuasa atas arah dunia. Ambisi para pemegang kuasa akan tetap berjalan. Rudal akan tetap diluncurkan. Angka-angka ekonomi dan korban akan berubah. Semua itu berada di luar jangkauan tangan saya.
Mungkin karena itu saya menulis. Bukan untuk mencari jawaban atas perang. Bukan untuk memastikan masa depan negeri. Tapi agar ledakan itu tidak pindah ke dalam diri saya sendiri.
Tulisan ini memang meloncat-loncat. Seperti hidup yang datang bersamaan: kelelahan, tanggung jawab, Damar Kedhaton, perang, keresahan, dan misteri masa depan. Saya tidak sedang merapikannya sepenuhnya. Saya hanya sedang berusaha tidak kehilangan arah di tengahnya.
Barangkali di situlah janji itu menemukan maknanya: Lewat Tulisan Aku BerTuhan. Bukan karena saya mengerti, melainkan karena saya mengakui keterbatasan.
Saya hanya punya ruang kecil bernama kesadaran. Dan hari ini, ruang itu pun masih belajar menampung segala dentuman yang datang dari luar.
Cerme, 4 Maret 2026
Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)
JM Damar Kedhaton Gresik
Bukan sastrawan atau penyair, hanya pengagum semesta kata yang sedang belajar setia pada prosesnya sendiri. Yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.