Jeda Di Antara Fakta dan Kata

Jeda Di Antara Fakta dan Kata

Ibarat ketiban berkah, demikian pemaknaan subjektif saya terhadap tulisan Cak Harianto: Diksi: Medan Pertempuran Moral.Tulisan tersebut menjawab salah satu keresahan yang belakangan ini saya alami. Sebuah keresahan yang sebelumnya masih samar bin abstrak, agak kabur duduk perkaranya, bahkan saya sendiri kesulitan merumuskan dengan jelas. Syukur Alhamdulilah perlahan mulai menemukan arahnya setelah membaca tulisan tersebut.

Belakangan ini saya merasakan semacam gejala yang cukup mengganggu pikiran saya sendiri. Ada perasaan seolah-olah saya merasa sudah mengetahui apa yang terjadi di dunia—baik dalam skala internasional, regional, nasional, maupun lokal. Berbagai peristiwa terasa begitu dekat melalui berita di media massa, tulisan-tulisan di berbagai platform media digital, dan arus informasi yang deras mengalir setiap hari. Dari situ awal mula kegelisahan saya muncul.

Tulisan Cak Harianto kemudian saya tempatkan sebagai semacam cermin untuk mengoreksi diri. Seperti teguran halus terhadap cara saya selama ini memahami berbagai peristiwa.

Satu kalimat yang mengunci perhatian saya: sering kali yang kita pahami bukanlah fakta itu sendiri, melainkan cara fakta itu disampaikan. Dalam kalimat tersebut, ada satu lapisan makna yang sebelumya jarang saya sadari. Di situlah ruang media bekerja: sebagai penyampai kabar sekaligus pembentuk persepsi.

Cak Harianto memberi satu contoh yang menarik dan masih hangat. Seperti sebuah kalimat yang sering kita temui dalam pemberiaan akhir-akhir ini: “Ayatullah Ali Khamenei tewas dalam serangan yang dilancarkan Amerika dan Israel terhadap Iran.”

Ia kemudian memfokuskan perhatian pada satu kata: tewas.

Di dalam bahasa Indonesia, sebenarnya terdapat beberapa padanan kata yang merujuk pada peristiwa yang sama, yaitu kematian. Namun, setiap kata membawa nuansa roso makna yang berbeda. Selain kata tewas, kita mengenal kata wafat, gugur, dan syahid.

Wafat mengandung rasa penghormatan. Gugur mengandung makna pengorbanan. Syahid mengandung kemuliaan spiritual. Sedangkan tewas, lebih sering digunakan untuk menggambarkan korban kecelakaan, perkelahian, atau peristiwa kriminalitas.

Dari contoh kata yang dikemukakan Cak Harianto, saya mulai merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak begitu terlalu saya pikirkan. Ternyata satu kata saja bisa menggeser roso makna yang diterima pembaca.

Kemudian muncul tiga keresahan dalam pikiran saya: fakta, cara fakta disampaikan, dan diksi kata.

Maka tulisan ini kemudian menjadi cara saya belajar. Sebuah upaya sederhana untuk merapikan kerumitan isi dalam kepala saya sendiri, kemudian dirupa-wujudkan sebagai tulisan.

Apa itu fakta? Apa itu yang dimaksud dengan cara fakta disampaikan? Apa peran diksi kata dalam membentuk konstruksi pemahaman kita?

Di antara ketiganya, mana yang menjadi sebab? Mana yang menjadi akibat? atau barangkali sejatinya mereka itu sama-sama bersifat netral?

Atau justru ketiganya baru menjadi tidak netral ketika bersentuhan dengan kepentingan, sudut pandang, atau bahkan emosi sesaat manusia yang menyampaikannya?

Pertanyaan lain yang kemudian muncul dari dalam diri saya sendiri adalah: Bagaimana seharusnya sikap saya dalam memosisikan diri terhadap mereka semua—fakta, cara fakta disampaikan, dan diksi kata?

Dari hal tersebut, saya mulai menyadari satu hal yang mungkin selama ini luput dari perhatian saya sendiri:

Fakta sebenarnya jarang sekali hadir kepada kita dalam keadaan telanjang. Hampir selalu ia datang bersama bahasa. Fakta dibawa oleh kalimat, diantar oleh pilhan kata, dan dikemas melalui cara penyampaian.

Bermula dari situ, keresahan saya makin memuncak. Persoalan menjadi semakin rumit untuk dipecahkan: semakin banyak hal yang tidak saya tahu daripada apa yang saya tahu.

Sebuah peristiwa boleh jadi hanya satu. Namun, ketika peristiwa itu memasuki wilayah bahasa, ia seperti bermetamorfosis dalam dimensi makna. Pemilihan diksi dapat menggeser roso makna. Pilihan kata dapat mengubah arah simpati pembaca. Bahkan, terkadang satu kata saja sudah sangat cukup untuk memindahkan posisi moral seseorang terhadap sebuah peristiwa.

Perlahan saya mulai memahami maksud dari keresahan yang muncul dari dalam diri saya kali ini. Merujuk kembali pada kalimat yang ditulis Cak Harianto—yang sebelumnya mengunci perhatian saya: sering kali yang kita pahami bukanlah fakta itu sendiri, melainkan cara fakta itu disampaikan.

Artinya, sangat mungkin selama ini saya merasa sedang memahami dunia. Seolah-olah tahu betul dengan jelas berbagai peristiwa yang sedang terjadi. Padahal, boleh jadi yang saya pahami sebenarnya hanyalah narasi tentang dunia, bukan sebagai dunia itu sendiri.

Kesadaran itu mengajak saya untuk sedikit menoleh ke belakang—kepada tulisan-tulisan saya sendiri. Mungkin seluruh tulisan yang pernah saya tulis pun tidak benar-benar 100 persen fakta. Ia hanya berupa narasi tentang fakta peristiwa. Sebuah narasi yang tentu saja disampaikan melalui sudut pandang subjektif saya sebagai penulis.

Sebagaimana manusia pada umumnya, subjektivitas itu hampir tidak pernah benar-benar steril dari kepentingan, preferensi, maupun kecenderungan tertentu—kultur, budaya, latar pendidikan, circle komunitas atau organisasi, termasuk berbagai buku atau tulisan yang dibaca.

Tulisan Cak Harianto kemudian menyadarkan saya tentang satu hal penting. Yakni, perlunya menahan dan mengelola diri dalam menentukan posisi.

Barangkali terlalu tergesa-gesa jika saya merasa telah mengetahui banyak hal tentang berbagai peristiwa—baik yang terjadi di tingkat internasional, regional, nasional, maupun lokal. Sebab, antara fakta dan pemahaman saya tentang fakta itu ternyata terdapat satu lapisan yang sangat menentukan persepsi pembaca: bahasa.

Sebagaimana yang kita tahu, bahasa sendiri tidak akan pernah benar-benar steril dari kepentingan, sudut pandang, maupun keberpihakan. Dari tulisan ini, saya belajar banyak hal sekaligus.

Belajar bagaimana memahami fakta. Belajar bagaimana membaca cara fakta disampaikan. Dan belajar mengenali diksi yang digunakan. Yang lebih penting lagi bagi saya ialah belajar bagaimana merasakan arah makna yang diam-diam digiring oleh bahasa.

Apakah sikap semacam ini bisa disebut sebagai salah satu bentuk kewaspadaan intelektual yang paling sederhana? Mungkin iya. Mungkin tidak.

Yang kemudian saya akrab dengan istilah: sikap skeptis. Skeptis adalah sikap keraguan yang sehat terhadap suatu klaim informasi, berita, dogma, atau berbagai narasi yang beredar. Sikap ini bukan untuk menolak semuanya, melainkan agar seseorang tidak mudah menelan sesuatu secara mentah-mentah tanpa mempertimbangkan bukti dan logika yang kuat, serta dapat diuji validitasnya.

Di luar konteks fakta, cara fakta disampaikan, dan diksi kata—diam-diam sempat membuat saya tersenyum sendiri seperti orang gila.

Jangan-jangan tulisan yang sedang saya tulis ini sebenarnya sekaligus menjadi jawaban atas keresahan saya sendiri: lebih cakap menulis daripada bicara? Ketika diri menjadi peneliti bagi dirinya sendiri.

Secara sadar saya sedang belajar secara mandiri—dari tulisan, oleh tulisan, kepada tulisan, kembali lagi kepada tulisan. Bagaimana saya belajar menata kerumitan isi kepala saya sendiri, sekaligus mencoba mengkawinkannya dengan kedalaman fatwa hati.

Atau mungkin, jika dirumuskan secara sederhana, proses yang saya alami dalam tulisan ini dapat digambarkan melalui kerangka dialektika seperti ini:

Tesis saya:

Keresahan batin dan pikiran saya, yang merasa seolah-olah telah memahami berbagai peristiwa di dunia melalui informasi yang saya baca dan saya dengar.

Antitesis saya:

Muncul (rezeki) kesadaran bahwa yang saya pahami selama ini bukan sebagai fakta itu sendiri, melainkan narasi saya terhadap fakta—yang dibentuk oleh cara penyampaian dan pilihan diksi bahasa yang saya gunakan.

Sintesis saya:

Sebuah ikhtiar saya merawat kewaspadaan intelektual: tidak tergesa-gesa merasa tahu, belajar membaca bahasa yang membungkus fakta, serta menyadari bahwa tulisan saya sendiri pun hanyalah narasi subjektif tentang peristiwa.

Tiba-tiba saja saya merasa seperti dipaksa untuk sedikit menepi dari keramaian kesimpulan kata yang selama ini terlalu mudah saya buat-buat sendiri. Sebab, ternyata memahami dunia tidak sesederhana membaca deretan kalimat dalam berita atau tulisan semata.

Di antara fakta dan pemahaman saya tentang fakta, ada wilayah yang teramat luas dan mustahil saya jangkau seutuhnya: bahasa. Di dalam bahasa—melalui tulisan ini—dapat saya pahami tersimpan banyak hal yang sebetulnya tidak saya ketahui. Ada cara penyampaian. Ada sudut pandang. Ada pilihan diksi. Ada pula arah makna yang kerap tidak saya sadari.

Yang dapat saya sinaui dalam tulisan ini: kehati-hatian dalam membaca kata-kata menjadi semakin penting untuk disadari. Saya tidak bilang menjauhi informasi, tetapi saya dibuat sadar agar tidak gampang sembrono dan terlalu cepat merasa tahu dalam memahami realitas.

Saya pun teringat tulisan Mbah Nun yang berjudul Puasa dari Kata-kata”:

Sudah jelas semakin banyak kemudlaratan zaman yang diawali dengan kata, sehingga untuk mengatasinya kita perlu berunding ulang dengan setiap kata, setiap makna, dan nilai.

Yang seolah-olah paling gampang adalah kita bersama-sama menyingkir ke daerah yang sejauh mungkin dari peradaban rimba yang sedang berlangsung, mencoba babat alas kembali, menata tanah dan tetanaman lagi, memperbanyak kerja dan berpuasa dari kata-kata yang kita angkut dari peradaban yang kita tinggalkan.

Tulisan Mbah Nun tersebut seperti menuntun diri saya untuk kembali memasuki ruang bernama jeda. Upaya mempertebal kesadaran tadabbur, tazakkur, i’tibar, dan tafakkur terhadap kata.

Jangan-jangan persoalan kita hari ini memang tidak selalu berawal dari peristiwa besar yang berada di luar diri, melainkan dari kata-kata yang terlalu gampang kita gunakan, kita sebarkan, dan kita percayai.

Maka Lewat Tulisan Aku BerTuhan. Dan perjalanan Ke(diri) tak pernah ingkar janji.

Cerme, Senin, 9 Maret 2026

 

Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)

JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyair; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.