Daur dan Nasab-Nasib Jalan yang Sedang Saya Cari

Daur dan Nasab-Nasib Jalan yang Sedang Saya Cari

Sebagaimana manusia normal pada umumnya, seharusnya jadwal saya sudah harus memejamkan mata. Tidur di atas kasur yang empuk, beristirahat, memberikan hak pada tubuh saya sendiri. Aktivitas begadang yang terlalu sering saya lakukan tidak sepenuhnya dapat dikatakan baik.

Tetapi, saya merasa dijatuhi bom-bom dengan daya hulu ledak yang tinggi. Memecahkan kepala. Otak hancur lebur berkeping-keping. Pikiran makin antah tak berantah. Perasaan saya seperti dijatuhi rudal-rudal tak kasat mata. Abstrak. Tak jelas bentuknya.

Makin ke sini, rasanya bahan-bahan untuk menulis makin berantakan. Sungguh, saya merasa kesulitan untuk memetakannya: mana yang harus saya tulis dulu, mana yang saya simpan sebagai bahan mentahan sementara, dan mana yang saya abaikan saja. “PR” itu makin menumpuk.

Dari permasalahan yang saya hadapi, saya memutuskan untuk menulis saja. Selepas membereskan laporan kerja harian JC, sengaja saya menelusuri sejarah, cikal-bakal, asal-muasal, tujuan, motif, kerangka besar, beserta semesta ketidakberhinggaan tulisan Mbah Nun di Caknun.com dalam rubrik Daur.

Ada alasan di balik mengapa hari ini saya menjadwalkan diri untuk menulis dengan konsentrasi fokus rubrik Daur. Bermula dari pertemuan singkat saya dengan Cak Fauzi, salah satu penggiat Damar Kedhaton Gresik, di rumahnya beberapa hari lalu. Satu istilah yang masih nyantol dalam ingatan saya: magnum opus. Rubrik Daur karya Mbah Nun umpama magnum opus. Sebuah karya besar, dan terutama dapat disebut sebagai pencapaian terbesar seorang seniman atau penulis di dunia.

Seperti yang pernah disampaikan oleh Mbah Nun sendiri tentang apa yang beliau sajikan dalam rubrik #Daur. #Daur bukanlah sebuah ilmu yang sudah matang, melainkan layaknya sebuah pelok mangga yang tidak bisa kita telan secara langsung.

Ada beberapa tulisan yang mungkin dalam rentang satu kali baca sudah dapat langsung dipahami. Ada juga tulisan yang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa dipahami dan diambil nilai-nilainya untuk menjadi pegangan hidup.

Sajian #Daur berupa kepingan-kepingan puzzle yang perlu dikuak, disusun, dipasangkan satu sama lain, dipelajari, dan direnungkan. Sebab itu, saya perlu tahu fondasi awal mulanya seperti apa untuk menyelaraskan gelombang frekuensi yang termuat di dalamnya—salah satunya adalah Menyambut DAUR.

Ada satu hal penting yang wajib saya sadari sejak awal: pilihan sadar Mbah Nun memilih menarik diri dari media massa nasional pasca Reformasi Mei 1998. Jauh sebelum era tersebut, Mbah Nun rutin mengirim tulisan untuk media massa sejak era 70-an hingga awal 90-an. Dari situ, muncul keresahan pada diri saya, yang kemudian membuat saya bertanya-tanya: kenapa Mbah Nun tidak rutin mengirim tulisan untuk media massa nasional lagi?

Yang unik dari tulisan Mbah Nun dalam rubrik #Daur adalah alur tulisannya yang tidak patuh pada aturan ideal redaksional pada umumnya. Sangat berbeda, bahkan bertentangan dengan tulisan-tulisan beliau yang pernah disuguhkan dan diterbitkan di media massa: sebagai masakan matang siap dimakan, sehingga pembaca tinggal menikmatinya saja.

Bagaimana tulisan-tulisan Mbah Nun dalam rubrik #Daur alurnya meloncat-loncat. Tidak jelas arahnya. Jujur saja, hal itu membuat pembaca kebingungan. Bahkan, banyak muatan tulisan di sana yang “memaksa” diri saya untuk mencari, menemukan, memetakan, merangkai. Muatan kandungan tulisannya mengajak saya untuk mengokohkan positioning kedaulatan diri: mau saya apakan tulisan itu?

Maka, tulisan kali ini adalah wujud ikhtiar saya untuk Terus Bersyukur dengan Mentadabburi Daur. Saya tidak ingat persis apakah berbekal dari beberapa tulisan Mbah Nun dalam rubrik #Daur, atau saya ambil sebagian. Dan sebagian lain adalah tulisan di luar rubrik #Daur.

Seperti keputusan “krusial” yang saya ambil secara sadar: tidak lanjut “profesi” wartawan sebagaimana pandangan konsep dunia tentang wartawan itu sendiri. Meskipun saya tetap berupaya setia menjalankan irisan-irisan aktivitas layaknya wartawan—menyimak, mendengar, melihat, merasakan, mencatat, mengambil foto atau video, dan menulis.

Nyaris berbulan-bulan lamanya, saya dilingkupi kebimbangan. Keresahan yang saya rawat dengan sadar. Saya terima dan rasakan keseluruhannya: sedih, senang, kecewa, sakit hati, patah hati, depresi, putus asa, marah, dan segala gejala kejiwaan atau psikologis manusia pada umumnya. Di tengah rasa depresi tersebut, beruntung saya tidak sampai mengambil keputusan paling mengerikan: mempersingkat jatah waktu di dunia. Itu sudah lebih dari cukup. Saya benar-benar bersyukur.

Banyak tulisan Mbah Nun yang betul-betul mengendap, meresap, sekaligus menubuh pada diri saya. Yang kemudian membuat saya merasa dituntun oleh sesuatu yang samar dan abstrak untuk terus berjalan mengarungi kehidupan ini. Entah sebagian kecil atau sebagian besar hidup saya—terutama setelah dipertemukan dan diperjalankan dalam gelombang frekuensi Maiyah—mendapat banyak bekal dan pegangan hidup. Sebentuk suntikan energi yang kehadirannya sangat nyata dan terasa betul betapa dahsyat limpahan kekuatannya.

Semoga yang saya tulis ini menjadi upaya kecil untuk menunaikan janji saya sendiri: Maka Lewat Tulisan, Aku Bertuhan. Karena itu pula, saya terus menulis karena saya belum kaffah berguru kepada Mbah Nun.

Tulisan ini mulai saya ketik tepat pukul 02:30 dan tuntas pukul 04:00 WIB pada Rabu, 1 April 2026.

 

Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)

JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyair; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.