(Merawat Damar Kedhaton Sepanjang Ikhtiar Khalidina Fiha Abada 5)

Pertemuan dengan Cak Fauzi pada Kamis malam, 26 Maret 2026, sejatinya berada di luar agenda saya. Saya hanya manut Isal—arek Ngebret yang bekerja di Kalimantan—yang sedang mudik ke Gresik. Karena itu, posisi saya malam itu: bersyukur bisa ikut dalam alur yang sudah ia rencanakan.
Namun bagi saya, pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi. Ada semacam pintu kecil yang terbuka. Yang, jika disadari, bisa mengantarkan pada pemahaman tentang bagaimana sebuah perjalanan itu saling tersambung.
“Wah cocok iki, aku kentek’an rokok Surya 16 coklat,” kata Cak Fauzi.
“Kalau saya cocoknya Surya 16 abang. Kalau coklat, terasa serik,” jawab saya.
“Aku malah musuhan ambek Surya warna abang,” lanjutnya, seolah benar-benar memusuhi varian tersebut.
Obrolan ringan itu mengalir begitu saja. Tidak ada yang terasa istimewa di awal obrolan basi-basi saya dengan Cak Fauzi. Namun justru dari yang sederhana seperti itulah, sesuatu yang lebih dalam pelan-pelan membuka dirinya.
Agenda Isal mengantar adiknya ke rumah Cak Fauzi merupakan tindak lanjut dari obrolan kami sebelumnya, saat ngopi di momen malam Sidang Isbat penentuan 1 Syawal. Dari situ, ingatan saya tertambat pada Cak Fauzi dan Abah Hamim Ahmad—sahabat karib Mbah Nun semasa di Berlin.
Dengan sedikit kepercayaan diri, saya menyarankan agar mereka terlebih dahulu ngopi santai dengan Cak Fauzi. Waktu itu, saya belum sepenuhnya merumuskan alasannya. Saya hanya merasa bahwa langkah itu perlu ditempuh. Bagi saya sendiri adalah sebuah keharusan yang mutlak.
Baru setelah pertemuan ini berlangsung, saya seperti menemukan bahasanya. Bahwa jalan ini tidak akan pernah benar-benar dapat saya tempuh sendirian.
Ada pertemuan-pertemuan yang menyambungkannya.
Ada orang-orang yang mengantar tanpa selalu disadari.
Ada aliran ilmu yang bekerja pelan-pelan, bahkan sebelum saya mengerti arahnya.
Perlahan, saya mulai menyadari dan memahami apa yang saya sebut sebagai nasab jalan.
Nasab jalan bukan sekadar siapa mengenal siapa. Bukan pula tentang merasa dekat dengan siapa. Ia bukan legitimasi, apalagi kekeramatan.
Nasab jalan adalah kesadaran diri masing-masing dari kita.
Kesadaran bahwa setiap langkah memiliki ketersambungan. Bahwa pertemuan tidak pernah benar-benar kebetulan. Bahwa apa yang kita pelajari hari ini, sering kali merupakan lanjutan dari sesuatu yang telah lebih dulu mengalir.
Isal mempertemukan saya dengan Cak Fauzi.
Obrolan ngopi mempertemukan kami dengan tema skripsi.
Skripsi mempertemukan kami dengan pencarian ilmu.
Dan tanpa terasa, semuanya seperti tersusun dalam satu garis yang tidak kasatmata.
Pada titik itu, saya melihat irisan yang menarik antara skripsi penelitian saya dengan skripsi adiknya Isal, Aqil—yang sedang menyelesaikan studinya di jurusan Filsafat di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Irisan itu bukan terletak pada judul atau metode, melainkan pada sumber rasa ingin tahunya: kandungan ilmu dari tetes-tetes pemikiran Mbah Nun. Cipratannya terasa menyegarkan, lalu berkembang menjadi apa yang kini kita dikenal sebagai Maiyah.
Saya memang belum sepenuhnya memahami istilah-istilah filsafat yang Aqil gunakan. Namun justru di situlah letak daya tariknya. Ia memantik sesuatu di dalam diri saya—rasa ingin tahu yang lama seperti dipanggil kembali.
Barangkali, itu juga bagian dari nasab jalan.
Bahwa ilmu tidak selalu datang dalam bentuk yang langsung bisa dipahami. Kadang ia hadir sebagai kegelisahan. Kadang sebagai rasa penasaran. Kadang hanya sebagai dorongan kecil yang membuat kita ingin terus melangkah.
Dan semua itu, jika ditelusuri, memiliki ketersambungannya.
Karena itu, ketika saya menyebut nasab dan sanad keilmuan, yang saya maksud bukanlah garis lurus yang kaku. Melainkan aliran yang hidup. Tidak hirarkis, tidak kaku, tetapi terus bergerak—menghidupkan siapa saja yang bersedia belajar.
Ilmu tidak berhenti pada satu nama. Ia tidak selesai dalam satu pertemuan. Ia mengalir, melintasi ruang dan waktu, dan kita—sadar atau tidak—menjadi bagian dari aliran itu.
Tulisan ini sekaligus melanjutkan serial Merawat Damar Kedhaton Sepanjang Ikhtiar Khalidina Fiha Abada. Ia lahir dari pembacaan saya atas momentum—pertemuan yang tampak sederhana, tetapi memperlihatkan bagaimana jalan-jalan itu saling memiliki garis ketersambungannya.
Maiyah, Mbah Nun, Damar Kedhaton, dan skripsi—semuanya seperti menemukan titik persambungan. Tidak direncanakan, tetapi terasa berjodoh.
Sinau bareng. Terus berjalan.
Sebab dalam sinau bareng—dalam merawat Damar Kedhaton sepanjang ikhtiar khalidina fiha abada—kita mungkin saja dipertemukan ke sana ke mari. Meng-kendurikan cinta, menyemai ilmu, merawat paseduluran al-mutahabbina fillah.
Namun perlahan saya mulai menyadari, arah paling jauh dari perjalanan ini justru bukan ke luar. Melainkan ke dalam diri sendiri.
Nasab jalan, pada akhirnya, tidak hanya mempertemukan kita dengan orang lain. Ia juga mempertemukan kita dengan diri sendiri—lapis demi lapis yang selama ini mungkin terlewat tanpa kita sadari.
Menyibak yang tertutup.
Menghadapi yang selama ini kerap dihindari.
Hingga, jika diizinkan-Nya, menemukan cahaya yang sebenarnya sudah ada dan kekal.
Dan mungkin, dari ruang-ruang kecil seperti inilah—dari pertemuan sederhana, dari obrolan yang tampak biasa saja—lahir ikhtiar dengan daya energi yang tak pernah habis.
Sebuah ikhtiar perlawanan badar yang berilmu dan matang.
Dengan harapan, pelan-pelan akan tumbuh generasi pembaharu dalam skala peradaban—yang mandiri, berdaulat dalam mencari kebenaran, menikmati kebaikan, dan merawatnya sebagai keindahan.
Cerme, Jumat, 27 Maret 2026
Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)
JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyair; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.