Tiga Tahun Membaca, Sembilan Tahun Menunggu Nasib: Antara Salah, Belum Benar, dan yang Benar
(Tadabbur Daur part 1)

Cak Fauzi membuka pembicaraan di dalam grup WhatsApp Sajen Pawon DK. “Feb, kalau boleh tahu, terakhir ente baca buku apa? Kapan? Buku fisik ya, bukan naskah yang elektronik.”
“Terakhir kali baca buku fisik pas ngancani Cak Arif ndhuk konter, berturut-turut tiga hari: 23-25 Maret 2026. Buku berjudul Reset Indonesia,” respon saya.
“Okrek. Sebelum Reset Indonesia, baca buku apa?” tanya Cak Fauzi.
“Psikologi Suryomentaraman karya Afthonul Afif,” jawab saya.
“Wuih, mantab,” lanjut Cak Fauzi. “Mungkin ada baiknya ente mengasup diri dengan membaca novel. Sebagai selingan, mbok menawa menyegarkan.”
Sebenarnya, perbincangan dalam grup Sajen itu saya yang mengawali, setelah mengirim tiga file tulisan pada rentang beberapa hari sebelumnya—yang belum mendapat review dari Cak Fauzi. Masing-masing judul ketiga file tulisan: Merawat DK (5), Cerita Tawashshulan, serta Daur Nasab Nasib Jalan.
Nyaris berbulan-bulan lamanya, saya dilingkupi kebimbangan. Keresahan yang saya rawat dengan sadar. Saya terima dan rasakan keseluruhannya: sedih, senang, kecewa sakit hati, patah hati, depresi, putus asa, dan segala gejala kejiwaan atau psikologis manusia pada umumnya. Di tengah rasa depresi tersebut, beruntung saya tidak sampai mengambil keputusan paling mengerikan: mempersingkat jatah waktu di dunia. Itu sudah lebih dari cukup. Saya benar-benar bersyukur.
Ternyata, Cak Fauzi peka dengan keresahan, kegelisahan, dan kebimbangan yang saya alami. Saya akui lagi, beliau betul-betul jeli, cermat, terukur, dan presisi. Padahal, pertemuan ngopi dengannya sudah tidak sesering dulu. Mungkin sekitar dua atau tiga tahun belakangan ini, sebelum Cak Fauzi disibukkan dengan jadwalnya yang super-duper padat.
“MasHuda perlu menambah dosis ilmu tleser,”
“Cak Arief perlu menaburinya dengan percikan tafsir Jalalain,”
“Mas KjBm perlu menggelar kopag agar ia ba haa… gia.”
Demikian pesan dalam grup WA yang ditulis Cak Fauzi, yang memperjelas arah dan andum tugas ke beberapa nama yang disebut, mewakili foto tangkapan layar sebagian dari isi tulisan saya dalam tulisan berjudul: Daur Nasab Nasib Jalan.
Karena fondasi awal tulisan itu dari rubrik Daur, maka sudah semestinya saya mewajibkan diri sendiri untuk Membaur ke Dalam Daur.
Saya yang mengakui diri sebagai generasi Maiyah yang hidup di era digital, wajib bersyukur lantaran dengan mudah mengakses tulisan-tulisan Mbah Nun tanpa perlu repot mencari karya-karya buku fisik beliau.
Sontak, seketika itu juga saya langsung mencari rubrik Daur di Caknun.com. Tanpa pola, tanpa urutan yang jelas, saya menjelajahi puluhan judul sekaligus. Ada 44 judul tulisan serial Daur yang sengaja saya buka untuk disimpan terlebih dahulu, tanpa perlu saya baca seketika. Seperti seseorang yang sedang mengais dirinya sendiri di antara serpihan-serpihan makna yang berserakan.
Saya tidak tahu, dari mana harus dimulai, dan akan berakhir di mana. Yang saya lakukan hanya mencari judul tulisan Daur secara acak—klik kanan open link in new tab. Seterusnya hal begitu saya lakukan.
Saya mulai dari Daur 1:
- Mewarisi Kelelahan (Daur 1 – 286),
- Anomali Regenerasi (Daur 1 – 258),
- Manajer Tauhid (Daur 1 – 253),
- Bukan Generasi Cangkir (Daur 1 – 249),
- Pemimpin Mbatin Allah (Daur 1 – 226),
- Wali Kok Sedih (Daur 1 – 206),
- Sworo Tanpo Rupo (Daur 1 – 188),
- Garis Lurus dari dan ke Titik Qadar (Daur 1 – 179),
- Pujangga Bumi yang Putus Asa (Daur 1 – 131),
- Waktu Adalah Milik-Ku (Daur 1 – 98),
- Sirno Ilang Kertaning Jawi (Daur 1 – 99),
- Apakah itu Suara-Mu? (Daur 1 – 89),
- Informasi Bakul, Bakul Informasi (Daur 1 – 49),
- Ilmu Peta Diri (Daur 1 – 30),
- Manajemen keAdaman dan keHawaan (Daur 1 – 22),
Belum sempat saya baca tuntas dan mencerna sepenuhnya, saya sudah melompat ke Daur 2. Rasanya seolah-olah saya tidak sabar, atau mungkin tidak tahu apa yang sedang saya cari.
- Melingkarkan Cincin (Daur 2 – 318),
- Ujung Jalan Sunyi (Daur 2 – 316),
- Yang Maha Menciptakan Maiyah (Daur2 – 309),
- Telaga Maiyah (Daur 2 – 306),
- Mengislami Rahasia (Daur 2 – 302),
- Gerombolan Terombang-Ambing (Daur 2 – 286),
- Kalau Memang Harus Mokel (Daur 2 – 263),
- Kerjasama Allah dengan Manusia (Daur 2 – 44),
- Kehati-hatian Terhadap Pakaian Sosial (Daur 2 – 239),
- Memenggal Info Tuhan (Daur 2 – 217),
- Jalur Cinta Sejati (Daur 2 – 183),
- Ghaib Itu Perkasa dan Bijaksana (Daur 2 – 169),
- Hubungan Antara Ghaib dengan Kasih Sayang (Daur 2 – 170),
- Bijaksana Dulu, Baru Pandai (Daur 2 – 172),
- Betapa Jelasnya Alif Lam Mim (Daur 2 – 143),
- Ilmu Kelembutan, Kelembutan Ilmu (Daur 2 – 140),
- Tauhid, Wahid, Ahad (Daur 2 – 132),
- Yakin Karena Tak Mengerti (Daur 2 – 131),
- Eksplorasi Manfaat (Daur 2 – 111),
- Tafsir Logika Kehati-hatian (Daur 2 – 98),
- Setetes Tinta Kekerdilanku (Daur 2 – 080),
- Markesot Belajar Ngaji (Daur 2 – 077),
- Engkau dan Ibumu (Daur 2 – 051),
- Dunia Melupakan Nasibnya (Daur 2 – 050),
- Menatap Dari Angkasa Jauh (Daur 2 – 046),
- Modal Rasa Bersalah (Daur 2 – 040),
- Hakikat Ilmu Itu Meliputi (Daur 2 – 034),
- Ilmu “Kayaknya” (Daur Daur 2 – 031),
- dan Iqra’ Fisabilillah (Daur 2 – 002).
Saya sengaja tidak langsung membaca satu per satu sampai tuntas. Setidaknya, dari spontanitas yang saya lakukan itu terpotret satu hal: saya sedang berikhtiar menangkap momen tak terduga. Itu saja.
Dari Daur pertama yang tercatat, yang benar-benar saya cermati, judulnya terasa mengerikan bagi saya: Mewarisi Kelelahan.
Tahqiq
“…Pakdhe hanya berhasil tidak ikut keputusan yang tidak benar, tapi belum pernah sampai pada keputusan yang benar…. Jadi bengong dan mubadzir sampai tua….”
Sungguh, saya belum sepenuhnya menangkap isi dari daur dengan judul tersebut. Tetapi, ada kegembiraan ketika saya membacanya sedari awal hingga tuntas kalimat terakhir.
Seminimalnya, saya terus berikhtiar melanjutkan aktivitas mencatat, dan menulis.
Sebab, persis seperti yang dikatakan oleh Seger—sekaligus mengikuti apa yang ia lakukan—yang saya catat dan tulis adalah pointers. Bahwa saya tidak harus menulis novel atau cerita pendek.
Saya sadari, saya sebenarnya punya simpanan kerangka novel, tetapi terkatung-katung tak jelas. Ia menumpuk sebagai sampah file sejak beberapa tahun lalu. Yang sampai saat ini tak pernah saya sentuh lagi. Bahkan, level yang agak “lebih ringan” dari novel—cerpen—juga nyaris mengalami nasib serupa.
Selain itu, seperti yang disampaikan Brakodin. Apa yang saya rasakan dan alami cenderung mendekati ranah pegetahuan dan keyakinan yang telah mantab di hati—hampir sepanjang perjalanan hidup saya sejak dipertemukan dengan Damar Kedhaton Gresik, melalui pintu tema Ngreksa Wasita Sinandhi.
Di awal-awal, saya menaruh harapan, keyakinan, beserta optimisme yang tinggi. Baik dalam pekerjaan, metode ikhtiar menjemput rezeki, maupun jodoh.
Kurang lebih sembilan tahun berjalan, tetap saja saya tidak sanggup melawan arus. Yang tersisa adalah rasa tidak berdaya, lumpuh, tak berguna, dan—pada selapisan tertentu—sebenarnya putus asa. Bahkan boleh disebut depresi.
Tetapi, yang sedikit menjadi kabar gembira sekaligus pelipur lara bagi saya ialah: semoga saja setiap keputusan yang saya ambil tidak ikut-ikutan seperti keputusan yang tidak benar.
Tetapi, saya tidak berani sombong dan terlalu percaya diri. Sebab, saya sadar, keputusan yang saya ambil belum pernah sampai pada keputusan yang benar.
Singkatnya: menghindar dari keputusan yang tidak benar. Itu adalah satu tahapan sebelum mengambil keputusan yang benar.
Cerme, Sabtu 4 April 2026
Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)
JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyair, hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.