
Ainun menangis kala itu setelah adzan Subuh. Biasanya ketika subuh dia mesti bangun, kadang juga agak rewel minta dikudang.
Minggu pagi ini mau ambil bantal dan tidur lagi kok rasanya kurang nyaman. Oke. Ambil HP saja sambil menulis sesuatu yang ada di benak. Kupikir itu mungkin lebih menarik.
Ada nasihat “Sedekahlah maka akan diganti 10x lipat”. Wehhh, menarik juga kita bersedekah 2 ribu ketika ada orang yang minta-minta maka kita akan diganti dengan 20ribu. Cocoklah buat beli sebungkus rokok 234.
Kita menolong seseorang yang sedang membutuhkan maka akan diganti oleh Tuhan sepuluh kali lipat, bahkan lebih. Awalnya sih agak ketawa-ketawa ketika mendengar istilah itu, bahkan tertulis di firman Tuhan.
Suatu ketika aku merenung dalam heningan mengingat kembali perjalanan yang sudah pernah kulewati. Dengan hati sombongnya mengingat perbuatan baik yang pernah kutanam, perbuatan baik yang pernah kulakukan. Mungkin ketika itu malaikat lagi pegang kalkulator, apapun yang ku ingat dan malaikat berhitung dengan kalkulatornya.
Namun tiba-tiba ucapan kotor keluar dari mulut, “Jan…k, Gat..l., Raimu ja…ut! Kowe sok-sokan ngitung tetulungmu nang wong liya, padahal kabeh iku gawe nulung awakmu dhewe“.
Ayo diitung sak iki…
Dari segi amal, ketika ada orang minta-minta seolah kamu sudah memberikan sebagian yang kau miliki, tapi kau juga secara otomatis mendapatkan pahala yang nantinya akan menolong dirimu sendiri.
Dari segi materi, ketika di sebuah perusahaan atau tempat kerja, ketika engkau berfikir mau menolong perusahaan agar tercapai target yang diinginkan, dengan sombongnya kita berfikir sudah menolong perusahaan, padahal perusahaan lah yang sedang menolong kita, dengan kerja keras dan tekun maka perusahaan memberikan kita gaji, lembur, uang bonus bahkan kita masih diberikan reward sebagai orang pekerja keras atau pekerja terampil lah dll.
Aku juga pernah berdiskusi dengan salah seorang Carik di Sidayu. Beliau juga sependapat denganku bahwa kita ini tidak menolong siapapun namun kita ini menolong diri kita sendiri, tapi dengan KEPALSUAN bahwa kita sedang bekerja atau beraktivitas untuk orang lain, support yang membutuhkan, semuanya hanya KEPALSUAN belaka.
Pak Carik juga bercerita pernah melakukan sebuah kegiatan untuk menolong perekonomian masyarakat sekitar desanya. Beliau berusaha menciptakan UMKM yang mandiri dan berkualitas dengan mengadakan kelas atau seminar yang menghadirkan beberapa orang ahli dan kompetensi di bidang Usaha UMKM dengan getolnya beliau memfasilitasi kegiatan UMKM yang tanpa beliau sadari ikut belajar dan memahami bagaimanakah jadi UMKM yang berkualitas. Bahkan beliau juga lama-lama ikut serta berjualan layaknya UMKM, berjualan produk hanya dengan gambar dan foto yang di gadget, hasilnya juga lumayan untuk menopang perekonomian diri Pak Carik sendiri.
Akhirnya kita sama-sama (aku dan Pak Carik) misuh bareng di sela perbincangan itu. “Pean setuju ta Pak Carik kalau kabeh iku kepalsuan?” tanyaku.
Beliau menjawab, “wis bener, palsu thok!”
Diskusi itu mengajarkan kita bahwa tidak ada yang sudah tertolong, namun kita menolong diri kita masing-masing.
Yang masih kuingat hanyalah dhawuh dari beliau (Mbah Nun) yaitu “Nandur, Poso, Shodaqoh dan ojok arep-arep kapan panen“
Mungkin kata itu sebagai penutup tulisan ini
Minggu, 13 Oktober 2024
Fauzi “Madrim” Effendy
JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota