Menjembatani Lahir Menuju Tafakkur
(PART 5 EDISI 9 TAHUN DAMAR KEDHATON GRESIK)

Tak cukup jika hanya belajar mewujudkan bahagia saja, yang tak kalah penting adalah belajar meregulasi kecewa. Mas Sabrang pernah berpesan dalam berbagai kesempatan: kita sering tertipu oleh idiom “badai pasti berlalu.” Banyak yang lupa, bahwa “hari cerah pun akan berlalu juga.” Apa hanya badai yang pergi? Setelah reda, apakah hidup menjamin tak akan ada badai lagi? Lha wong ini namanya hidup—tempat segala cuaca berganti tanpa bisa kita atur. Seperti halnya sepak bola, hidup juga punya musimnya sendiri.
Namun, di balik euforia dan fanatisme, tak jarang nyawa manusia justru menjadi taruhannya. Tentu hal itu tidak bisa dibenarkan, apalagi dinormalisasikan. Sebab, tak ada alasan apa pun yang bisa membenarkan hilangnya nyawa hanya karena fanatisme buta terhadap klub sepak bola.
Dulu, yang saya lakukan hampir serupa. Merogoh dan rela mengeluarkan uang banyak, meluangkan waktu, bahkan melanggar aturan demi klub kebanggaan. Semua itu saya lakukan karena cinta yang membutakan logika.
Bagi saya, definisi cinta pada sepak bola punya banyak bentuk. Mulai dari main bola—entah futsal atau di lapangan besar—menonton pertandingan, baik langsung di stadion maupun lewat layar kaca. Mendukung klub sepak bola, dari yang lokal sampai internasional. Hingga memiliki tim futsal atau sepak bola sendiri, entah amatir maupun komunitas.
Dari semua yang saya sebut tadi, hampir semuanya pernah saya jalani, dan beberapa masih saya tekuni hingga sekarang. Lah piye, wis kadung cinta, og! Kalau cinta dhekne? Masih sedang diikhtiarkan dan diijtihadi dulu. Semoga, takdir paling indah mempertemukan di waktu yang tepat, heuheu. Mohon doanya. Yang penting, saya bisa menekuni aktivitas menulis dan membaca saja dulu.
Saya masih ingat betul, saat mondok dan masih duduk di bangku SMP. Saya lupa tepatnya tahun berapa, tapi ini catatan buruk yang sengaja saya tulis. Waktu itu, saya “mbobol” pondok tanpa izin. Bersama seorang teman, Farzu namanya—teman satu angkatan di SMPN 3 Peterongan Jombang, tapi beda asrama. Dia asli Kediri dan seorang Persikmania sejati, entah kalau sekarang. Apakah masih rutin? Atau pensiun, apalagi dia juga sudah rabi.
Romantisme sepak bola memang tak selalu rasional. Tetapi, di sana tersimpan kenangan dan proses pembentukan diri sebagai akar konstruksi pemikiran sekaligus pemahaman batin, dengan catatan dimaknai sebagai ruang kontemplatif. Tentang kesetiaan, ketulusan, kegilaan, dan cinta yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Perlu dicatat, kala itu belum banyak aliran suporter seperti sekarang. Kini, suporter sepak bola di Indonesia tumbuh dengan beragam kultur dan ekspresi. Ada yang modern, ada yang lokal, dan semuanya saya anggap bagian dari perkembangan budaya serta romantisme cinta pada sepak bola. Nah, kalau saya, Ultras Gresik.
Bersama Farzu, kami nekat berangkat dari Jombang ke Kediri naik bus. Saya ingin menonton dan mendukung Gresik United, sementara dia tentu membela Persik Kediri. Ironisnya, saya justru tidak berdiri di tribun khusus suporter tamu Ultras Gresik yang sudah disediakan panitia pelaksana. Saya malah duduk dan berdiri sendirian di tengah-tengah Cyber Xtreme—kelompok suporter fanatik Persik Kediri.
Saya masih ingat, saat itu mengenakan kaos kuning khas Ultras Gresik, tapi saya lapisi dengan kaos lengan panjang Superman Is Dead (SID). Mungkin, itu satu-satunya cara saya “menyamar” di tengah lautan hitam Cyber Xtreme Kediri.
Kebiasaan itu pun berlanjut hingga kuliah. bersama teman-teman yang menamai diri mereka “Gresik Fans Surabaya”, yang mayoritas mahasiswa UINSA. Saya pernah bolos kuliah. Bahkan pernah naik kereta ke Blitar Kota hanya untuk menonton langsung Gresik United bertanding.
Ada pula momen motoran pulang-pergi dari Surabaya ke Mojokerto ketika Gresik United bertemu PSMP Mojokerto. Dan jauh sebelum itu, sejak SD, saya masih ingat jelas: bersama ayah, kami pernah menerjang banjir di Cerme hanya agar bisa sampai ke Stadion Tri Dharma Petrokimia Gresik.
Lima belas tahun lalu, euforia seorang anak kecil yang demen sepak bola sedang membuncah. Ia menonton dan mengikuti perjalanan Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2010. Saat itu, skuad Garuda masih dilatih oleh Alfred Riedl.
Sebagai penikmat dan pengamat amatiran, saya merasa Timnas Indonesia punya kekuatan dan performa yang moncer. Saat itu, saya baru berusia sepuluh tahun. Markus Horison—kiper utama Timnas Indonesia kala itu—bersama rekan-rekannya digadang-gadang mampu membawa Indonesia meraih trofi juara.
Ada dua leg pertandingan final yang dimainkan. Leg pertama berlangsung di Stadion Bukit Jalil, Malaysia. Sebagai tuan rumah, Harimau Malaya menang telak 3–0 atas Indonesia. Lalu, pada leg kedua di Stadion Gelora Bung Karno, Indonesia menang tipis 2–1 di hadapan puluhan ribu suporternya. Namun, hasil agregat 4–2 membuat Malaysia berhak keluar sebagai juara.
Padahal, di fase grup sebelumnya, Indonesia sempat mempecundangi Malaysia dengan skor mencolok, 5–1. Maka tak heran, kegagalan juara itu terasa sangat menyakitkan bagi suporter Indonesia—termasuk saya pribadi.
Lima belas tahun kemudian, di tahun 2025, nuansa itu kembali terulang. Bedanya, bukan lagi di level Asia Tenggara, melainkan internasional—tahapan krusial menuju Piala Dunia 2026. Polanya terasa berulang, meski dengan konteks dan kualitas yang berbeda. Di era sekarang, komposisi pemain jauh lebih beragam. Beberapa di antaranya merupakan pemain diaspora yang merumput di liga-liga top Eropa.
Sebut saja Calvin Verdonk, yang kini berseragam OSC Lille di Ligue 1 Prancis, setelah sebelumnya bermain di Eredivisie bersama FC Twente, N.E.C Nijmegen, Feyenoord, dan PEC Zwolle. Kemudian Maarten Paes, penjaga gawang FC Dallas yang kini berkiprah di Major League Soccer, Amerika Serikat. Sebelum ke MLS, ia sempat bermain di Belanda bersama N.E.C Nijmegen dan FC Utrecht. Lalu Emil Audero, yang pernah berseragam Juventus, Venezia, Sampdoria, Inter Milan, Como 1907, hingga Palermo di Serie A Italia.
Nama-nama itu hanyalah sebagian dari pemain yang kualitasnya tak lagi diragukan. Di bawah asuhan Shin Tae-yong selama lima tahun terakhir, banyak hal yang sebelumnya dianggap mustahil mulai berubah menjadi harapan.
Namun, semua tinggal harapan yang terkubur dalam-dalam. Momen saat Timnas Indonesia dilatih STY ini mengingatkan saya pada euforia tahun 2010 silam—ketika harapan untuk menjadi juara Piala AFF sudah terbuka lebar, tapi hasil akhirnya lagi-lagi tidak seperti yang diinginkan.
Saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan itu—keluar pondok tanpa izin—merupakan kesalahan. Kesalahan karena tidak patuh pada aturan. Namun, ada hal-hal lain yang barangkali perlu dielaborasi secara mendalam dan melebar.
Ketika melihat fenomena fanatisme buta pada sepak bola, perlu kiranya dipetakan secara lebih detail. Tak perlu jauh-jauh, karena saya bukan sedang meneliti secara kaidah akademis. Berangkat dari beberapa pertanyaan sederhana: kenapa suporter bola rela datang ke luar kota demi menonton sekaligus mendukung tim kebanggaannya berlaga? Bahkan, tidak sedikit uang yang mereka keluarkan. Bagaimana akar sejarahnya, sehingga bisa muncul gejala psikologis dan analisis kejiwaan yang demikian? Kalau pertanyaan itu diajukan kepada diri saya pribadi, jawab saya: ya, karena cinta. Karena suka. Dan karena ada lambang yang bisa menyatukan orang-orang dengan ghirah dan spirit yang sama.
Sekilas, mungkin tak ada kaitan antara sepak bola dengan Damar Kedhaton atau Maiyah. Tapi saya percaya, setiap jalan punya hikmahnya masing-masing.
Sepanjang usia saya, tentu ada kalanya “meledak-ledak”—meluapkan apa saja yang tidak sejalan dengan hati dan pikiran. Seiring berjalannya waktu, saya diberi paham oleh pengalaman. Bahwa semua yang saya alami, tidak lain adalah bentuk proses menuju kedewasaan dan kematangan.
Ambil contoh begini: ketika masih usia remaja–duduk di bangku SMP sampai kuliah—ruang tanggung jawab kesadaran saat itu terbatas pada fokus pelajaran. Tidak lebih. Beda cerita ketika saya sudah memasuki usia bekerja, mencari “uang”, kemudian setelah keberpulangan Ayah. Secara tidak langsung, kesadaran akan tanggung jawab perlahan mulai tumbuh. Ada hal-hal yang mesti diprioritaskan. Harus tahu apa yang paling saya butuhkan, dan mana yang tidak atau bersifat sekunder.
Belum lagi ada faktor “permainan busuk” di balik pemanfaatan loyalitas fanatisme suporter bola. Jika dilihat dari sudut pandang ekonomi pasar untung-rugi, tentu ini menjadi celah besar yang rawan dimanfaatkan oleh segelintir orang.
Ketika saya pakai kacamata sudut pandang ilmu Maiyah—dengan spirit belajar, melingkar, menyambungkan banyak hal untuk dicari irisan-irisannya yang saling berkaitan—kuncinya ialah setia pada proses belajar, iqra, dan peka membaca pola-pola fenomena sosial, budaya, politik, dan sebagainya. Yang pasti, saya, secara tidak langsung, dilatih untuk berpikir jangkep terhadap segala hal.
Misalnya, hari ini tidak atau belum ketemu jawabannya, ya sudah. Dicari lagi seiring berjalannya waktu. Dalam konteks ini saya menyebutnya sebagai “paham.” Kelak, jika saya masih ditakdirkan hidup berkeluarga, punya istri, kemudian dititipi amanah berupa anak laki-laki, pengalaman hidup ini akan saya jadikan bekal menghadapi anak saya nanti. Biarkan anak saya nanti itu “meledak-ledak” untuk meluapkan seluruh emosi dan rasa kedalaman batin yang sedang ia alami. Hanya saja, sebagai pengingat, perlu dibuat pagar rambu-rambu agar tidak terpeleset terlalu jauh.
Melalui Sakinahan—tradisi yang diijazahkan oleh Mbah Nun untuk mensyukuri momen pernikahan—bekal menjadi orang tua kelak sudah saya miliki. Tinggal bagaimana nanti saya menerapkan di keluarga. Beberapa Sakinahan dulur Damar Kedhaton juga pernah saya datangi, dan saya abadikan di beberapa judul tulisan: Sakinahan Mensyukuri Pernikahan Dimas Maulana Malam Itu[1]; Jaga Tradisi Mbah Nun, Damar Kedhaton Gresik Sakinahan Mensyukuri Pernikahan Cak Ateng di Sidoarjo[2]; Sakinahan di Ngasinan Kepatihan[3].
Tulisan-tulisan tersebut–seperti judul tulisan saya sebelumnya Biarkan Tulisan Ini Menemui Takdirnya Sendiri—yang saya sebut “secuil catatan” itu hanyalah pecahan cermin dari perjalanan batin yang panjang. Setiap agenda rutinan bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi bagi saya merupakan latihan “melatih kepekaan rasa”. Latihan kecil untuk memahami rahmat tidak selalu berbentuk keberhasilan, melainkan keberlanjutan yang ajeg dalam ruang kebersyukuran. Saya terus belajar merekam momen demi momen melalui mata, tangan, pikiran, dan hati. Sebagian terabadikan lewat catatan, sebagian tersimpan dalam kenangan, dan sebagian lagi melalui ruang tafakkur dalam diam. Terima kasih, Damar Kedhaton.
Biarlah setiap kata mengalir bagai embun pagi yang menetes di daun, di tengah lingsir wengi yang sunyi. Padhang mBulan menatap diri dengan tenang, bagas kewarasan makin matang, a(bang)-a(bang) teko (wetan) menyebarkan sinar, menuntun jiwa dari dhulumat menuju an-nuur. DeKa langit jingga menyalurkan energi hangat yang menumbuhkan senyum bunga di kedalaman hati. Tak pernah aku menyesali perjalanan yang kulewati tuk memahami kata hati yang menuntunku tanpa henti. Karena rasa dan senyuman itu; segenap cinta aku terima, seolah serpihan surga hadir terasa sebening senja. Menandai refleksi dan syukur dalam menyambut Milad ke-9 Damar Kedhaton Gresik.
Bersambung…
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton tinggal di Guranganyar, Cerme
———————————————————————————–
[1] Artikel di mymaiyah.id, diakses 12 November 2025
[2] Artikel di mymaiyah,id, diakses 12 November 2025
[3] Artikel di damarkedhaton.com, diakses 12 November 2025