Trilogi Kedaulatan: Epistola dari Ashabul Kahfi, Manifesto Mystical Anarchism, dan Gelombang Maiyah

Gen Z, Y, X dan generasi lainnya tidak harus selalu sukses, dan itu bukan kegagalan. Masih ada banyak sekali bentuk perlawanan lain yang bisa dilakukan. Sebagaimana dalam pertandingan sepak bola—kadang untuk berjuang memenangkan pertandingan atau sebuah trofi, suatu tim tidak harus selalu tampil menyerang.
Akan tetapi, tim dituntut untuk mengetahui momentum keadaan kawan dan lawan saat menguasai bola. Lalu, Juru latih secara presisi menentukan strategi apa yang cocok digunakan untuk mencetak gol ke gawang lawan atau mempertahankan keunggulan. Sehingga dari keadaan tersebut, Sir Alex Ferguson—pelatih legendaris Manchester United—mengatakan kalau attack wins you games, defence wins you titles.
Tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah dari Ashabul Kahfi, entah itu kesebelasan-kah? duo? trio? atau bertujuh seperti tim mini soccer. Sebagaimana yang telah tertulis jelas di dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 22:
Namun, yang pasti adalah mereka memiliki formasi tersendiri beserta seekor anjingnya. Mereka adalah sekumpulan orang yang sedang lockdown tidur sirna ilang kertaning bumi selama 3 abad dan ditambah 9 tahun.
Allah SWT secara sengaja menutup telinga mereka dari kekufuran dunia luar. Melakukan perlawanan dari dalam kesunyian goa terhadap tulinya pemimpin yang berbuat zalim kepada rakyatnya, serta menghindar dari kebobrokan sistem tatanan yang mungkin belum ketemu relevansinya dengan zaman.
Kehadiran seekor anjing tentu menjadi salah satu simbol yang mindblowing: bahwa, bahkan dari hewan yang sering dipandang najis pun justru menjadi bagian dari kesucian sebuah kisah.
Kiwari—rasanya sangat naif sekali jika hanya mengharap perubahan datang dari pejabat pemerintah. Sudah banyak risiko yang kita saksikan setiap hari. Aparatur negara tanpa sadar hanya sering dijadikan sebagai alat untuk menindas rakyat. Rekan aktivis diculik tanpa delik. Kawan ojol terbunuh kendaraan protokol. Bahkan warga sipil yang innocent sekalipun bisa jadi korban bahlil, eh bathil.
Maka, agar perjuangan ini bertahan lebih lama, ada hal yang perlu dibenahi sebelum itu. Yaitu kesadaran memperbaiki keadaan pribadi diri sendiri. Mystical Anarchism menawarkan jalan revolusi tanpa senjata kepada pemerintah negara.
Konsep yang mulai diinisiasi sejak awal abad 19 ini mendobrak keberanian individu untuk berkelana menentang hierarki dan otoritas negara yang ngawur melalui proses kesadaran tanpa kekejaman dan paksaan.
Melampaui logika mistika, pengalaman spiritual filosofi jawa juga memunculkan pengamalan sugih tanpa bandha, ngluruk tanpa bala, digdaya tanpo aji, trimah mawi pasrah sepi pamrih tebih ajrih. Bahwa proses manifestasi perlawanan tetap bisa dilakukan tanpa melalui bentuk materialistik dan hal yang diketahui publik.
Berawal dari huru-hara orde baru, Maiyah tumbuh menjadi gelombang alternatif bagi manusia yang terombang-ambing di samudra lautan. Seolah merindukan pulau kasih sayang, kemunculannya tidak berminat untuk menjadi kompetitor bagi organisasi, korporasi dan institusi arus utama.
Gelombang Maiyah merangkul semua arus—elit dan alit—untuk berselancar dengan papan ataupun sampan. Berbagai sumber spektrum di penjuru daerah Nusantara menghubungkan orang-orang untuk berdaulat keluar-masuk mereguk resonansi frekuensinya.
Tidak sepenuhnya lancar, infrastruktur Maiyah pernah kecelik ketika peristiwa reformasi 98. Rencana tim formatur transformasi kepemimpinan pada tikungannya hanya dimanfaatkan oleh segelintir penunggang yang bertarung di gelanggang. Alih-alih redup, gelombang Maiyah justru semakin meluap menjaga kestabilan segitiga cinta – Allah, Muhammad dan hamba – di ruang sunyi peradaban.
Sementara orkestra belum akan usai. Sang dalang masih enjoy memainkan sandiwara algoritma. Kita dipertontonkan timeline pertikaian antar golongan, perpecahan antar kelompok, parpol ataupun ormas. Kita sendiri pun seringkali terjebak dalam dikte filter bubble dan echo chamber influencer dunia maya yang serba hitam-putih.
Padahal dunia nyata punya banyak sekali warna. Sebelum terjadinya kemungkinan terburuk, provokasi dari Sengkuni perlu diantisipasi—agar perang keluarga Baratayudha 2.0 tidak terjadi. Kita mesti cermat mencerna arus informasi di era post-truth media sosial. Pola penyelesaian masalah yang tindak-tanduknya seringkali hanya bertumpu pada justice based on viral news yang terjadi tidak boleh terus dibiarkan.
Maka, sudah seharusnya kita semua belajar bersama dari sebuah fenomena. Mengambil jarak, sudut, resolusi pandang yang lebih luas—agar bisa melihat view point dengan baik, benar dan indah.
Tentunya di era yang serba instan ini, tantangan yang kita hadapi semestinya tidak cukup dijawab dengan melakukan perubahan sak dheg-sak nyet. Ashabul kahfi kiwari bukan harus mereka yang sedang tertidur. Seperti gelombang Maiyah, kita berdaulat penuh atas diri kita sendiri melalui rakaat panjang melingkar sinau bareng di sudut sepi kota atau desa. Tanpa terdogma oleh judul—kita juga bisa mengganti ‘Maiyah’ dengan klub, komunitas, institusi, korporasi, atau bahkan individu diri kita sendiri yang merasa terasing dan diasingkan.
Dengan menjalani tapa ngrame melalui mystical anarchism, kita mengembangkan kewarasan layar perlawanan mencintai takdir diri sendiri dan negeri yang fucked-up ini. Meskipun mungkin tidak akan pernah ada kepastian berhasil sampai pada suatu pulau. Setidaknya, kontrol kendali jihad kita mengarungi samudera jahiliyah tersemogakan menjadi fisabililillah pada wilayah otoritatif-Nya. Wallahua’lam bisshowab…
Robith Abdillah
JM Damar Kedhaton tinggal di Manyar