Gimana Sih Rasanya Jadi Pengamen?

Gimana Sih Rasanya Jadi Pengamen?

Pernah ada masa dalam hidup saya ketika rasa ingin tahu jauh lebih kuat daripada rasa takut—kecemasan, ketololan, dan kebodohan. Masa di mana ketika hal-hal paling membagongkan justru terasa wajar dilakukan.

Pada momen tersebut, saya dan beberapa teman ditimpa satu pertanyaan sederhana, tetapi sangat liar di dalam isi kepala: Gimana sih rasanya jadi pengamen? Pertanyaan itu datang seketika—liar, mendadak, dan langsung kami eksekusi saat itu juga.

Dari situ saya mencoba memaknai, terkadang sebuah ide itu muncul bukan dari ruangan yang rapi, teratur, dan estetik. Ide tak terduga itu muncul dari seruang kamar kost sempit—berukuran 4 x 3 meter—yang sumpek oleh guyonan ceplas-ceplos, obrolan larut malam hingga dini hari, dan teman-teman yang datang “tanpa aturan”.

Malam itu, saya lupa persis kapan? Tanggal berapa? Jam berapa? Hari apa? Tahun berapa? Di dalam ruang yang seharusnya hanya untuk ditempati dua orang, namun dipenuhi banyak orang hingga suasanya terasa sumuk.

Saya lupa persis bagaimana momen itu muncul. Yang saya ingat hanya suasananya: malam hari, di sebuah kamar kost yang berada di belakang kampus Fakultas Dakwah & Komunikasi UINSA persis—hanya dibatasi oleh tembok kampus setinggi 3 meter-an.

Secara aturan, kamar kost itu seharusnya hanya dihuni dua orang saja. Tetapi kamar kost saya sudah seperti pohon rindang di tengah gerahnya terik cuaca Kota Surabaya bagian selatan. Sebuah kamar kost yang kemudian bisa melahirkan satu tim futsal bernama Al-Ubaidi—pemainnya lintas prodi, fakultas, bahkan kiper cadangannya itu bukan mahasiswa UINSA. Dia adalah anak kampung Jagir, sudah bekerja, meski kerjanya serabutan. Bahkan, usianya, di atas saya terpaut jarak kurang lebih 6 tahun. Yang seharusnya itu masuk kategori usia lulus kuliah S1.

Sebuah kamar kost berukuran sempit, yang menjadi titik momentum bagaimana saya berproses di Surabaya. Di Universitas Maiyah, dengan dosen utama Padhangmbulan, di Fakultas Bangbang Wetan, dengan mengambil Progam Studi Damar Kedhaton, yang saya ambil fokus Mata Kuliah TULISAN (Tuangkan LISan jadi kenangAN).

Kamar kost Al-Ubaidi sudah seperti tempat singgah “milik bersama”. Layaknya pohon yang teduh-meneduhkan. Banyak teman lalu-lalang, numpang rebahan, bahkan menginap untuk tidur di sana.

Jelas hal itu melanggar aturan yang dibuat oleh pemilik kost. Tapi entah bagaimana, semuanya merasa “aman-mengamankan”. Pernah suatu malam, kami tidur berjejeran seperti ikan pindang yang dijemur. Momen itu pula, atmosfernya selalu mengingatkan saya pada masa-masa tidur beralas lantai dingin saat masih di Njoso.

Dari situasi yang serba spontan itu, ide liar seketika—gimana sih rasanya jadi pengamen—langsung kami eksekusi. Satu gitar, beberapa kaleng, dan rombongan kecil anak kuliahan yang sok nekat dan tatag njajaki rai gedeg, langsung meluncur ke salah satu titik lampu merah yang tidak jauh dari Wonocolo, Surabaya. Kami pun turun ke jalan, mengamen di lampu merah yang akrab disebut perenggut nyawa oleh banyak orang. Durasi lampu merahnya tidak manusiawi, terlalu lama untuk ditunggu.

Bahkan, nyala lampu merahnya saja bisa membuat antrean macet mengekor sepanjang 100-200 meter. Sementara nyala lampu hijau hanya sekian detik yang hanya bisa dilalui belasan kendaraan. Saking lamanya, durasi waktu itu bisa dibuat sambil ngopi, ngobrol, bahkan nyicil skripsi sambil menunggu nyala warna lampu berubah.

Dan, ternyata begini rasanya, “enaknya” ngamen. Dulu, tidak lebih dari setengah jam kami mengamen; uang recehan yang terkumpul kalau ditotal hampir menyentuh seratus ribu. Maka kenapa, mungkin, dan barangkali, “ngamen” itu justru terasa seperti profesi yang menjanjikan di tengah sulitnya mencari pekerjaan saat ini.

Maka, tulisan ini adalah bagian dari mengerjakan tugas “mata kuliah TULISAN (Tuangkan LISan jadi kenangAN), sekaligus saya mewajibkan diri untuk menyelipkan do’a Biarkan Tulisan Ini Menemui Takdirnya Sendiri.

Selain itu, tulisan ini sekaligus sebagai upaya saya untuk memaknai Yang Dimaksud Maiyah Sebagai Universitas—salah satu judul tulisan oleh Mas Helmi Mustofa. Tulisan itu menekankan dhawuh Mbah Nun dari Majelis Ilmu Padhangmbulan; ada satu butir pesan berkaitan dengan “cara melihat sesuatu dalam kehidupan atau hidup itu sendiri.” Dan, ini penting, Lur!!!

(Selasa, 25 November 2025)

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.