Selamat Jalan, Mas Shofie
(Merawat Damar Kedhaton Sepanjang Ikhtiar Khalidina Fiha Abada)

Entah mengapa, mendadak status WhatsApp dengan nama kontak JMDK Mas Shofie muncul di barisan awal deretan status. Di tengah fokus saya menghadap laptop merah merek Asus milik JC, refleks saya langsung membukanya.
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Turut berbelasungkawa atas wafatnya rekan kami tercinta, Mohammad Shofie
(Tohoku University 2012–2014)
“Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya dan diluaskan alam kuburnya.”
Demikian flyer yang diposting pada status WhatsApp Mas Shofie, Jumat, 30 Januari 2026.
Adapun caption yang tertulis:
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, telah berpulang suami tercinta, Bpk. Mohammad Shofie, pada hari Selasa, 27 Januari 2026. Mohon dimaafkan segala kesalahannya.
Saya tercengang. Seolah tidak percaya kepulangan Mas Shofie begitu cepat. Waktu terasa berhenti berdetak. Sontak saya membalas status WhatsApp tersebut. Saat itu saya sedang berdinas di JC; status itu saya lihat sore hari, sekitar pukul 16.21 WIB.
Saya: “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un… Ya Allah, Mas Shofie….”
Saya: “Sebagai salah satu teman beliau, saya bersaksi beliau orang baik. Beliau pernah ikhlas, sabar, dan menemani saya berdiskusi penelitian S1 beberapa tahun lalu. Juga diskusi beragam topik lainnya di Javanese, termasuk di ruang tamu rumah.”
JMDK Mas Shofie: “Aamiin Ya Rabb…”
JMDK Mas Shofie: “Terima kasih banyak, Mas.”
Jujur saja, batin saya tidak kuat menerima kabar ini. Saya bingung seketika. Ada niat menyampaikan kabar ini ke grup WhatsApp Damar Kedhaton, tetapi saya urungkan. Namun di saat yang sama, saya merasa wajib menyampaikan kabar ini—entah kepada siapa.
Ingatan saya melambung ke masa lalu. Pada masa perampungan skripsi S1 berjudul Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Jamaah pada Komunitas Maiyah Damar Kedhaton Gresik. Pernah suatu malam—saya lupa persis tanggal dan bulannya, yang jelas masih masa Pandemi Covid-19—di depan Javanese Café, saya, Cak Fauzi, dan Mas Shofie duduk sinau bareng. Utamanya mendiskusikan penelitian saya. Seingat saya akhir 2021, sebab Februari 2022 saya wisuda.
Saya: “Cak Fauzi, Mas Shofie – Javanese Cerme kapundhut.”
Saya: “Aku lihat status nomor WA beliau. Caption dan fotonya seperti itu. Kemungkinan besar status itu dibuat istrinya.”
Saya: “Kabar ini juga dibenarkan salah satu kru JC (Hendra—red), tetangga rumah Mas Shofie. Barusan sudah kutanya.”
Cak Fauzi: “Ya Allah…”
Cak Fauzi: “Telung dina kepungkur.”
Saya bergegas mencari foto kenangan bersama Mas Shofie—juga dengan Cak Fauzi—beberapa tahun silam. Saya telusuri seluruh galeri HP, satu per satu folder. Tidak ketemu. Saya lanjutkan ke arsip kenangan Instagram pribadi. Saya amati satu per satu. Tetap tidak ada.
Batin saya menangis sederas-derasnya. Tangis paling dalam, yang mustahil ditumpahkan hanya lewat air mata. Ya Allah, Mas Shofie…. Rasanya hanya suwung, persis dalam tulisan saya: Puisi Tuhan dan Rumah Keabadian.
Saya sadar, tidak semua dulur Damar Kedhaton mengenal Mas Shofie. Bagi saya itu tidak masalah. Saya merasa mengenal beliau dengan cukup dekat, meski pertemuan ngopi dengannya bisa dihitung jari—tak lebih dari lima kali. Karena itu, saya pribadi merasa memiliki utang roso sekaligus tanggung jawab moral untuk mengenalkan Mas Shofie kepada dunia—melalui tulisan ini.
Bahwa ada sosok pejuang kehidupan sejati. Tak sekadar memperjuangkan nilai dan prinsip yang diyakini, Mas Shofie juga loman berbagi. Tutur katanya runtut, runut, dengan wawasan luas. Bahasa akademis yang beliau kuasai dibumikan dengan jernih.
Hal itu pula disaksikan oleh istrinya, Mbak Nia. Kesaksian itu saya dengar saat berkunjung dadakan ke rumah Mas Shofie, Senin sore, 2 Februari 2026. Saya sebut dadakan karena tiba-tiba saya ditelepon Cak Fauzi pukul 16.09 WIB, di tengah fokus dinas di JC.
Bersama istrinya, Mbak Wenda, beliau mengajak saya takziah saat itu juga. Sejak pukul 16.30 hingga 17.30 WIB, kami bertiga—mewakili Damar Kedhaton Gresik—menyampaikan kesaksian. Banyak hal kami bincangkan: pekerjaan, keseharian, hingga detik-detik menjelang Mas Shofie kapundhut.
Satu hal yang saya catat dari cerita Mbak Nia adalah soal menulis. Dua tahun terakhir, aktivitas menulis Mas Shofie memang tidak intens. Namun dari kesaksian yang saya tangkap, beliau gemar membaca dan menulis.
Sepanjang kehidupan rumah tangga mereka, Mas Shofie adalah pekerja keras. Sosok yang lembut, sabar, dan lapang dalam berbagi pengetahuan, wawasan, dan pengalaman.
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un…
Mas Shofie,
Beberapa tahun lalu sampeyan duduk, mendengar, dan tabah menemani saya berlatih berpikir: tentang skripsi, tentang hidup, tentang banyak hal yang mustahil tuntas dirembug di dunia.
Di Javanese Cerme.
Di ruang tamu rumah sampeyan.
Saya ingat betul rumah bergaya Jepang itu—minimalis, tidak berlebihan. Tata letaknya sampeyan aplikasikan hingga ke dalam jiwa: menyatu dalam laku keseharian.
Saya bersaksi, sampeyan orang baik, Mas: ikhlas dan sabar. Lebih banyak mendengar, merangkul. Banyak arahan dan insight dari sampeyan yang diam-diam menuntun dan membentuk kesadaran saya hingga detik ini.
Semoga semua itu pulang sebagai cahaya.
Suwargi langgeng kagem sampeyan, Mas Shofie.
Al-Fatihah.
Mengingat apa yang pernah didhawuhkan Mbah Nun bahwa kita ini sebenarnya hidup abadi, kholidina fiha abada (kekal di dalamnya dan abadi-red). Mati yang kita alami hanyalah transformasi. Karenanya kalau kita bikin rumah, atau melakukan apapun, apalah artinya jika bukan untuk selamanya, jika tidak dibawa untuk selamnya.
Jagad Jawi Cerme, Selasa, 3 Februari 2026.
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.