Belajar Menepi: Mlaku ke Dalam Tulisan (3)

Belajar Menepi: Mlaku ke Dalam Tulisan (3)

(Jeda di Antara Kaffah Berguru kepada Mbah Nun)

 

Saya masih menikmati fase “Jeda di Antara Kaffah Berguru kepada Mbah Nun”. Saya sedang (merasa) berada di masa transisi. Artinya, saya belum sepenuhnya merasa kaffah berguru kepada Mbah Nun. Dan, saya juga tidak sedang memaksakan diri untuk buru-buru sampai di tujuan. Karena itu, saya memilih—secara sadar—menikmati jeda itu sebagai bagian dari perjalanan.

Sebetulnya, saya tidak punya cukup bahan pijakan logis sebagai argumentasi: kenapa saya memunculkan kata “jeda”. Toh, ada ataupun tidak, saya tetap mengikuti naluri untuk melengkapi rujukan bahan tulisan dari caknun.com. Jika demikian, maka kata “jeda” sendiri, bagi saya, cukup untuk membatalkan argumen saya sebelumnya. Tetapi, saya juga tidak berani menolak “bisikan”—antah berantah—yang makin mengepung belakangan ini setelah mlaku ke Semarang (lagi) pada 24-26 Januari 2026.

Mlaku ke Semarang (lagi) merupakan bagian dari ikhtiar saya mengaktivasi ingatan akan momentum ketika diperjalankan hadir secara batin-lahir dalam agenda Silatnas Penggiat Maiyah 2019. Perhelatan itu menjadi ajang di mana simpul-simpul Maiyah se-Nusantara dan luar negeri berkumpul bersama.

Saya: “Ya Allah Hud,. Tenanan dong. Aku nggak asing dengan daerah Banyumanik. Pas wingi nang omahmu, coba ta’ eling-eling maneh. Perasaanku kok gak asing bangettt… Tibakne bener, 2019 biyen aku pernah nang Banyumanik.” Bahkan, ingatan saya baru pulih pada saat mengirim pesan WhatsApp ini.

Di tengah proses mengetik tulisan ini, saya masih intens berkirim pesan WhatsApp dengannya. Pesan itu terkirim pada Jum’at, 30 Januari 2026 pukul 03.10 WIB. Tidak salah, setelah bertahun-tahun lamanya tak saling berkabar, akhirnya saya kembali intens berkomunikasi dengan dia. Belakangan ini setelah perjalanan saya mlaku ke Semarang. Huda, demikian sapaan akrabnya.

MD ’17 Huda: Walah… Ngeri awakmu 2019 wis tekan Semarang demi ilmu,” balas dia, pukul 03.14 WIB.

Kembali pada ingatan silam saya.  Di akhir pekan pertama bulan Desember, dengan mengambil tempat di Balatkop UMKM Jawa Tengah di Srondol, Banyumanik, Semarang, sebanyak 115 perwakilan simpul Maiyah dan para sesepuh, serta undangan dari berbagai daerah, hadir. Mereka duduk bersama dan berdiskusi sepanjang tiga hari. Mulai Jum’at petang (06/12/2019) hingga Ahad siang (08/12/2019).

Dalam kesempatan tersebut, Mas Sabrang menyampaikan titipan pesan dari Mbah Nun.

“Sampaikan kepada arek-arek, bahwa Maiyah tidak hanya seperti ini saja”.

Mas Sabrang mengurai tentang eskalasi kompleksitas yang mesti disadari oleh setiap gerakan. Keadaan dengan kompleksitas yang semakin meningkat, mustahil diselesaikan dengan cara-cara lama. Mas Sabrang menyebutnya, “Modern problems need modern solutions.”

Tetapi, saya tidak bisa melanjutkan tulisan ini. Saya masih teringat betapa berharganya waktu teman saya di Semarang. Nama lengkapnya Rovi’ul Huda. Teman masa kuliah di Surabaya, Cah Bojonegoro, akrab dipanggil Huda. “Rovi’ul” tak sepenuhnya berakar dari bahasa Arab murni. Bisa jadi, ia lahir karena dimensi khas lokal—bunyi lokal atau ilat jowo.

Maka, menurut versi tadabbur saya, kata “Rovi’ul” dapat dimaknai menggunakan dua alat pisau analisis: Rabi’; musim tumbuh yang meghidupkan. Dan kata “Rafi’”, yang mengangkat arah dan nilai.

Di antara (jeda) fase “tumbuh” dan “(peran dia) mengangkat” itu, kehadirannya terasa menenangkan sekaligus meneduhkan batin-lahir saya selama di Semarang. Matur sembah nunwun. Karena Huda, saya wajib bersyukur dan meyakini diri ini tidak masuk dalam kerugian.

Tepat pada Ahad malam, 25 Januari 2026, di sebuah rumah kontrakan perjuangannya—Bringin Putih, Ngaliyan, Semarang Barat—saya memetik banyak ilmu dan hikmah. Sinau bareng tadabbur QS. Al-Maryam, dan QS Al-‘Ashr.

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا ۝٤

Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku. (QS. Al-Maryam Ayat 4).

وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَّرَاۤءِيْ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّاۙ ۝٥

Sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu. (QS. Al-Maryam Ayat 5).

يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ۝٦

(Seorang anak) yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya’qub serta jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang diridhoi. (QS. Al-Maryam Ayat 6).

يٰزَكَرِيَّآ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ࣙاسْمُهٗ يَحْيٰىۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا ۝٧

(Allah berfirman), “Wahai Zakaria, Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang bernama Yahya yang nama itu tidak pernah Kami berikan sebelumnya.” (QS. Al-Maryam Ayat 7).

قَالَ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا وَّقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا ۝٨

Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana (mungkin) aku akan mempunyai anak, sedangkan istriku seorang yang mandul dan sungguh aku sudah mencapai usia yang sangat tua?” (QS. Al-Maryam Ayat 8).

قَالَ كَذٰلِكَۗ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَّقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْـًٔا ۝٩

Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah.” Tuhamu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.” (QS Al-Maryam Ayat 9).

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْٓ اٰيَةًۗ قَالَ اٰيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَ لَيَالٍ سَوِيًّا ۝١

Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” (Allah) berfirman, “Tandanya bagimu ialah bahwa engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama (tiga hari) tiga malam, padahal engkau sehat.” (QS. Al-Maryam Ayat 10).

فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا ۝١١

Lalu, (Zakaria) keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu dia memberi isyarat kepada mereka agar bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang. (QS. Al-Maryam Ayat 11).

يٰيَحْيٰى خُذِ الْكِتٰبَ بِقُوَّةٍۗ وَاٰتَيْنٰهُ الْحُكْمَ صَبِيًّاۙ ۝١٢

(Allah berfirman) “Wahai Yahya, ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Kami menganugerahkan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak. (QS. Al-Maryam Ayat 12).

وَّحَنَانًا مِّنْ لَّدُنَّا وَزَكٰوةًۗ وَكَانَ تَقِيًّاۙ ۝١٣

(Kami menganugerahkan juga kepadanya) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dia pun adalah seorang yang bertakwa. (QS. Al-Maryam Ayat 13).

وَّبَرًّا ۢ بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا ۝١٤

(Dia) orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan dia bukan orang yang sombong lagi durhaka. (QS. Al-Maryam Ayat 14)

وَسَلٰمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوْتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّاࣖ ۝١٥

Kesejahteraan baginya (Yahya) pada hari dia dilahirkan, hari dia wafat, dan hari dia dibangkitkan hidup kembali. (QS. Al-Maryam Ayat 15).

Jujur saja, saya belum tahu kandungan makna tersirat dari ayat 4 sampai ayat 15 tersebut. Saya juga belum tahu pertimbangan apa, dan kenapa saya mengutip sebelas ayat tersebut. Termasuk hasil tadabbur saya: belum sampai pada tahapannya. Tidak lain dan tidak bukan, ini adalah bentuk mengamankan bahan tulisan terlebih dahulu.

Saya: Pancen nggak sia-sia dipertemukan dan diperjalankan ketemu ‘Rovi’ul Huda’. Persis kaya makna sing ta’tadabburi. Alhamdulillah….” ungkapan rasa syukur saya kepadanya. Pesan ini terkirim pada pukul 03.29 WIB.

MD ’17 Huda: Entut kuwi, wkwkwkwk” respon dia dengan nada merendah diri.

Demikian tulisan ini saya cukupkan sampai di sini. Setelah sekian lama saya tidak ngopi di Jagad Jawi Cerme—fase Tafa’ul MP—tulisan ini tuntas dalam sekali duduk. Dimulai sejak pukul 02.37 WIB sampai puul 04.57 WIB. Di tengah prosesnya, saya juga tetap berkomunikasi intens lewat WhatsApp dengan Huda.

Termasuk bercerita banyak hal kepada Moeg. Tentunya lewat percakapan WhatsApp, sejak Kamis (29/01/2026) sampai Jum’at (30/01/2026) lewat tengah malam.

Saya: “Alhamdulillah, ternyata tulisan ini menemukan jalan dan takdir-Nya sendiri.”

Saya: “Surat Al-‘Ashr dan Al-Maryam iku ta’gawe bahan sinau tadabburan Al-Qur’an bareng kanca kuliahku biyen, sing arek-e saiki manggon nang Semarang,” terkirim pukul 20.33 WIB.

Di tengah percakapan berlangsung, Moeg kedatangan tamu dari salah satu dulur Damar Kedhaton Gresik. Moeg mengirim buktinya kepada saya, lewat video rekaman sekali lihat di WhatsApp. Spontan saya timpali seketika, meminta agar dulur Damar Kedhaton itu tetap di sana. Dan, saya akan bergegas meluncur ke sana usai tutup dari JC.

Ternyata, belum jodohnya untuk dipertemukan. Moeg bilang, dalam pesan WhatsApp, dulur Damar Kedhaton itu sudah pamit pulang kembali ke rumah, sekitar menjelang pukul 00.00 WIB.

Moeg: Wis ape siap-siap balik iki, wkwkwk. (Beliau) di sini sejak jam 11.”

Saya: “Loalah, okelah. Durung jodoh-e. Nek ngono aku ganti plan, ngopi di Jagad Jawi, lanjut (menuntaskan-red) bahan tulisan sing numpuk akeh.” Terkirim pukul 23.57 WIB.

Moeg: “Josss….. Pejuang tinta.”

Moeg: “Aku durung kober nulis-nulis (maneh-red), ngurus beban administrasi dosen, tibak-e malah lebih ribet daripada guru.” respon dia pukul 00.02 WIB.

Akhirnya kutempuh jalan yang sunyi

Mendendangkan lagu bisu

Sendiri di lubuk hati

Puisi yang kusembunyikan dari kata-kata

Cinta yang takkan kutemukan bentuknya

(Cuplikan lirik lagu “Jalan Sunyi” dalam album Kado Muhammad (1998) oleh Emha Ainun Nadjib)

 

Jagad Jawi, Cerme, 30 Januari 2026

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya, dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.