Mlaku ke Dalam Tulisan (4): Jeda yang Menyelamatkan Diri

Mlaku ke Dalam Tulisan (4): Jeda yang Menyelamatkan Diri

(Jeda di Antara Kaffah Berguru Kepada Mbah Nun)

Aroma kopi menawarkan obat yang paling manjur. Ia memberi hutang rasa untuk melawan ketakutan akan remangnya penglihatan, ketika kantuk mata tak lagi tertahankan. Bergelimang kata, ia mengendus rasa paling jujur. Diam-diam, kata-kata itu mengendap dalam ampas yang pekat—gelap, hitam, dan kelam: layaknya puisi yang menjelma keabadian, memotret waktu secara utuh.

Ia memilih satu jalan. Tak satu pun orang benar-benar paham apa yang dipikirkannya, sementara ia diam-diam mengamati rentetan kejadian dari masa lalu, masa kini, dan masa depan yang kelak datang—layaknya rimba: rapat, liar, dan penuh persimpangan.

Bila malam tiba, ia berbisik kepada sunyi. Seperti perjalanan panjang melewati kelokan tajam ujian, menembus gelap penyesalan, serta menanjak terjal masa yang telah terlewati. Gelombang mencipta basah sebagai air di mata, membuat langkahnya lamban dan ragu. Takkan pernah ada yang sepenuhnya memahami, ketika ia berjuang seorang diri.

Di saat harapan menghilang, kesepian mengeras, dan keterasingan menjauhkan segalanya, satu hal menjadi pasti: ia senantiasa melawan—diri sendiri. Dalam gelapnya kesendirian, jalan bertahan itu tak pernah ditutup sepenuhnya. Lewat tulisan, ia berTuhan dan bertahan.

Teruntuk dirinya sendiri: tetap tegar menghadapi pikiran yang belukar, impian mimpi indah yang nyaris patah, serta segenap ketidakmampuan yang hampir membuat hidupnya berantakan.

(Kenangan 1 Feb 2023 di fitur Instagram).

Kata Pak Sulak—AS.Laksana—menulis itu menjanjikan nama, panggung, sekaligus tepuk tangan. Maka, masuk akal jika banyak orang lebih suka menulis, sambung dia dalam sebuah postingan akun Facebook pribadinya, meskipun mereka suka membaca.

“Membaca jauh lebih berat ketimbang menulis. Membaca meminta anda duduk sendirian, menjauhi ingar bingar, dan berkonsentrasi pada baris-baris kalimat di halaman demi halaman. Dan … tidak menjanjikan panggung apa pun, tidak menjanjikan tepuk tangan, tidak menjanjikan nama,” tulis Pak Sulak.

Postingan Pak Sulak di akun pribadi Facebooknya seakan menampar keras ke arah saya. Saya mengalami dan menjalani aktivitas tersebut. Lebih bernafsu menulis panjang lebar daripada membaca—dengan waktu panjang yang sama di hadapan laptop. Yang saya tekuni beberapa bulan belakangan ini.

Ah, barangkali pemaknaan saya terhadap kata “jeda” menemukan resonansinya di sini. Saya diingatkan oleh postingan Pak Sulak di Facebook. Dan saya merasakan kebenarannya. Saya (merasa) tersadarkan diri bahwa langkah dan aktivitas yang saya tekuni dalam penuh keyakinan, bisa saja tanpa disadari justru menjerumuskan pada jurang kesombongan.

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman (31) Ayat 18).

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al Isra (17) Ayat 37).

“Pernahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan Tuhannya hawa nafsunya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. Al-Furqan (25) Ayat 43).

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya…..” (QS. Al-Jasiyah (45) Ayat 23).

Maka “jeda” bukan semata aktivitas menjauhi bising keramaian. “Jeda” saya maknai sebagai sikap sadar untuk menepi agar langkah tak berubah arah menjadi pamer arah. Saya tidak ingin tersesat oleh langkah saya sendiri. Kata-kata sengaja saya coba perlahankan ritme kecepatannya, ego saya tanggalkan—sebisa-bisanya—dan segala keinginan saya redam agar tak menjelma sebagai “Tuhan” baru.

Saya berjuang untuk belajar tinggal dalam sunyi, mendengarkan apa yang tak bisa diucapkan, dan menyerahkan arah kepada Yang Maha Mengetahui. Sebab, pada akhirnya, bertahan bukan hanya soal seberapa jauh saya melangkah, melainkan seberapa ikhlas saya kembali—nerima ing pandum—kepada ilmu batas, kepada rendah hati, kepada Tuhan. Maka Lewat Tulisan Aku BerTuhan.

 

Cerme, 2 Februari 2026

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.