(PROLOG / MUKADIMAH MAJELIS ILMU TELULIKURAN DAMAR KEDHATON GRESIK EDISI FEBRUARI 2026)

Zaman yang kita jalani hari ini bergerak sangat cepat. Terlalu cepat, barangkali, sampai-sampai kita jarang bertanya: apakah batin kita masih ikut berjalan, atau justru tertinggal jauh di belakangnya. Informasi datang silih berganti, teknologi berkembang tanpa henti, sementara manusia sering hanya sempat bereaksi, bukan menyadari. Belum sempat kita menata makna atas yang baru saja lewat, hal baru hadir kembali dan menuntut perhatian.
Media sosial, arus berita, dan kecerdasan buatan (AI) menjadi bagian dari keseharian kita. Semua menawarkan kemudahan, hiburan, dan jawaban cepat. Namun di sela-sela itu, ada ruang sunyi yang perlahan menyempit: jeda untuk berhenti, merasakan, dan mendengarkan suara paling dalam dari diri sendiri. Ketika jeda itu kian menyempit, kita tak hanya kehilangan ketenangan, tapi juga menumpuk kepenatan yang acap kali tak sempat kita kenali wujudnya.
Berlapisnya kepenatan itulah yang kemudian mengantarkan diri kita merasakan kelelahan. Di ruang-ruang digital, sebagian orang menyebut gejala ini dengan istilah brain rot. Tetapi barangkali yang lebih penting bukan istilahnya, melainkan pertanyaan: apa yang sebenarnya sedang lelah dalam diri kita? Pikiran kah, atau justru hati yang terlalu jarang diajak bermusyawarah?
Kanjeng Nabi pernah mengingatkan bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan setiap kepemimpinan membawa tanggung jawab. Barangkali, kepemimpinan paling awal dan paling berat adalah memimpin diri sendiri—menjaga apa yang kita lihat, dengar, dan biarkan tinggal di dalam batin.
Mbah Nun kerap mengajak kita untuk sinau tentang banyak hal, termasuk teknologi informasi. Bukan untuk ditolak, bukan pula untuk ditelan mentah-mentah, tetapi untuk ditempatkan dengan sadar. Supaya manusia tetap menjadi subjek, bukan sekadar objek dari zaman yang bergerak cepat.
Di tengah kepungan informasi yang dangkal dan serba instan ini, pertanyaan yang patut kita sadari dan ajukan kepada diri sendiri: masihkah kita memberi ruang bagi hati untuk memberi isyarat? Atau kita justru membiarkannya tenggelam oleh riuh layar dan notifikasi?
Kita tidak sedang memburu kesimpulan. Maka, sebelum kita terlalu jauh terseret oleh riuh zaman yang serba cepat, mari sejenak menepi dan duduk bersama. Tidak untuk saling mengalahkan argumen, tidak pula untuk memamerkan pemahaman, melainkan untuk belajar mendengarkan—pada diri sendiri, pada sesama, dan pada tanda-tanda sinyal yang kerap kita abaikan tanpa sadar. Barangkali, dengan cara itu, fatwa hati mulai berani berbicara kepada kita: sebagai sinyal pengingat diri agar tidak kehilangan arah.
Jawaban itu tidak kita buru sendirian, tapi kita rawat bersama, dalam sinau bareng rutinan Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik edisi ke-110, dengan tema “Isyarat Fatwa Hati” pada :
Hari/Tanggal : Selasa, 10 Februari 2026,
Waktu : 19.23 WIB
Tempat : di Balai Desa Raci Kulon, Kecamatan Sidayu, Gresik,