DamPro dan Silaturahmi Energi

DamPro dan Silaturahmi Energi

(Merawat Damar Kedhaton Sepanjang Ikhtiar Khalidina Fiha Abada 2)

Sungguh di luar dugaan, “PR” khusus dari Redaktur Maiyah (RedMa), Cak Harianto, menjadi bahan “keresahan” baru bagi sebagian dulur Damar Kedhaton yang masuk dalam padatan Damar Produktif (DamPro). Namun saya—yang juga bagian dari tim DamPro—dilarang pesimis untuk mengeksekusi PR tersebut.

Toh, Tuhan sendiri telah berfirman secara tegas dan terang-terangan dalam ayat-Nya:

Fa inna ma‘al ‘usri yusra. Inna ma‘al ‘usri yusra.

Terjemahan: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. AL-Insyirah Ayat 5-6).

Melalui ayat tersebut, Tuhan sebetulnya telah memberi bekal kepada kami, para punggawa DamPro, agar tidak menjadikan beban itu sebagai “masalah besar”. Toh, keresahan—sebagai bekal laku Damar Kedhaton—senantiasa diikhtiari dan diijtihadi secara gembira.

Cak Harianto memberi PR kepada Damar Kedhaton, khususnya padatan DamPro, untuk membuat video dokumenter. Video tentang bagaimana cara kerja DamPro sebagai ikhtiar rakaat perang panjang Damar Kedhaton, dengan tujuan aman-mengamankan dan selamat-menyelamatkan.

Tulisan ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab moral yang pernah saya sampaikan di dalam grup WhatsApp Damar Produktif (DamPro) pada 20 November 2025. Pesan itu saya tulis sebagai respons atas Wak Kaji Bombom, yang meluangkan waktu, energi, dan pikiran untuk memadatkan bahan tulisan saya tentang DamPro ke dalam bentuk PowerPoint.

Wak Kaji Bombom: “File PowerPoint ini untuk dibawa saat Silatnas. Jika ada kesempatan, bisa dijadikan bahan presentasi. Silakan dikoreksi, dikritik, dan diperbaiki.”

Menurut saya, padatan poin-poin yang dibuat oleh Wak Kaji Bombom sudah lebih dari cukup. Dari bahan yang sebelumnya saya usulkan, materi itu telah mewakili intisari benang merah secara keseluruhan. Hemat saya: sudah paket lengkap.

Saya: “Jika pada akhirnya tidak ada waktu atau tidak disediakan sesi presentasi, bahan-bahan yang sudah disiapkan tetap akan berguna bagi DK sendiri.”

Saya: “Minimal, dan mugi-mugi, bisa menjadi bahan tulisanku untuk mengisi kolom jamaah di website DK.”

Alhamdulillah, proses pengambilan video diperjalankan menemui satu memontum perjumpaan yang memuat berlimpah energi, rasa syukur, dan nuansa penuh akan kegembiraan. Eksekusi itu bisa dimulai untuk pengumpulan bahan mentahan pada Minggu, 8 Februari 2026, setelah PR tersebut diberikan pada Januari lalu, tepatnya pada momen Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-109.

Saat itu, belum ada konsep baku atau kerangka jelas tentang muatan isi video. Saya bersama beberapa tim DamPro lain terus berupaya memosisikan diri sebagai pembelajar: belajar merumuskan masalah, sekaligus belajar merumuskan kerangka. Adapun tim DamPro: saya, Wak Kaji Bombom, Cak Teguh (Tukul), Cak Rizky, Cak Gogon, Cak Jemi, Cak Djalil, dan Cak Huda.

Bertempat di Desa Tenaru, Kecamatan Driyorejo, proses pengambilan video dilakukan oleh tim DamPro. Saya, Wak Kaji Bombom, dan Cak Rizky menemui calon Penerima Manfaat (PM) sejak pukul 08.30 pagi hingga siang. Di tengah sinau santai yang berlangsung, saya berpamitan lebih awal karena harus berkejaran dengan waktu dinas di JC. Pukul 13.00 saya undur diri, sementara obrolan santai masih berlanjut.

Dua kamera handphone disiapkan. Satu milik Wak Kaji Bombom dibiarkan mejeng di atas meja, berjarak sekitar dua meter dari lingkaran kami, disandarkan pada botol air mineral. Satu lagi adalah handphone milik saya.

Saya tidak menetap di satu titik. Sesekali mondar-mandir mencari sudut yang pas: dari pintu depan rumah PM, lalu berpindah ke sisi belakang rumah. Untuk mengakses pintu belakang, saya harus keluar rumah, memutari lompongan samping: tampak tersisa satu ular peliharaan PM yang ditempatkan pada sebuah akuarium kaca.

Rumah itu “cukup sempit”; dalam posisi duduk melingkar, mustahil saya melangkahi di tengah-tengah mereka, apalagi saat kamera Wak Kaji Bombom sedang menyala. Tentu akan mengganggu sisi estetika video candid—teknik perekaman gambar hidup secara spontan tanpa sepengetahuan subjek untuk menangkap momen kejadian yang natural, asli, dengan pose tidak dibuat-buat.

Namun ruang yang “sempit” itu justru membuat saya takjub. Sebab di dalamnya termuat keluasan ilmu hidup-kehidupan. Terbukti dari pigura-pigura foto yang menempel di dinding: Mbah Nun, Mbah Sujiwo Tedjo, Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer, Buya Hamka, dan masih banyak lainnya. Pajangan itu memancarkan getaran yang kuat, meresonansi, lalu masuk ke batin sekaligus pikiran saya.

Dalam proses pengambilan video, turut dilakukan penyerahan pinjaman modal untuk mendukung usaha penyablonan PM. Acara kemudian dilanjutkan dengan beberapa bacaan wirid dan sholawat, lalu dipungkasi doa oleh Cak Rizky.

Seperti rutinan biasanya, ada pula sesi ngobrol santai yang sesekali diselipi guyonan. Namun spirit daur melingkar dan sinau bareng tetap kami ugemi. Termasuk sepanjang obrolan dengan PM, Cak Teguh—yang sesekali juga akrab disapa Anggara Kasih.

Obrolan itu mencakup latar belakang kenapa Cak Harianto memberi PR kepada DamPro, beserta harapan dan tujuannya. Juga nostalgia masa lalu, seperti kisah nekat Cak Rizky yang berangkat ke Kenduri Cinta beberapa tahun silam.

Cerita itu mungkin terdengar tidak logis jika hanya didengar. Namun akan berbeda pemaknaannya jika ditadabburi bersama: bagaimana proses di baliknya, serta motivasi yang mendorong Cak Rizky berangkat ke Jakarta “hanya” untuk menghadiri rutinan Kenduri Cinta—bahkan pada momen pertama kali ia naik pesawat terbang. Buktinya, ia tampak lugu saat kesulitan memasang sabuk pengaman di dalam pesawat. Sontak, pemuda yang duduk tepat di sampingnya, tak segan untuk membantu Cak Rizky.

Pada saat itulah ingatan saya tertarik ke belakang, menuju tulisan Mbah Nun di Kebon (202 dari 241). Penekanan utama Mbah Nun adalah tentang bagaimana energi silaturahmi benar-benar terasa kuat dalam mengisi batin. Saling bershodaqoh energi. Timbal balik. Satu sama lain. Silaturahmi energi.

La ḥaula wa la quwwata illa billahil ‘Aliyyil ‘Aẓim.

“Jangan sampai adanya engkau menjadi tekanan bagi orang lain. Tekanan bagi siapa pun dalam keluarga dan masyarakatmu. Jangan sampai integritasmu berposisi negatif, membuat keluarga dan lingkungan pergaulanmu lelah, bosan, uring-uringan, hingga apatis dan putus asa karena adanya engkau,” tulis Mbah Nun.

“Kalau hidup ini kita jalani hanya dengan mengandalkan ilmu, kita akan mengalami banyak tekanan. Karena faktanya, jauh lebih banyak yang tidak kita ketahui dibanding yang kita ketahui; jauh lebih banyak yang tidak kita bisa dibanding yang kita bisa; jauh lebih banyak yang tidak kita capai dibanding yang kita capai,” lanjut Mbah Nun.

Lagi-lagi saya diingatkan oleh firman Tuhan. Soal ini, saya tidak berani memastikan diri sebagai orang yang mumpuni. Saya bukan ahli tafsir, bukan pula lulusan bahasa Arab. Saya tidak menguasai ilmu alat seperti nahwu, sharaf, atau tafsir. Saya hanya mengimani. Namun iman itu bukan “iman kok hanya”.

Lā yukallifullahu nafsan illa wus‘aha…
(QS. Al-Baqarah: 286)

Terjemahan: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”

Jagad Jawi Cerme, Minggu, 8 Februari 2026

 

Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya, dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.