Hujan, Bangbang Wetan, dan Bonus Diskusi Cak Irul: Mlaku ke Dalam Tulisan (5)

Hujan, Bangbang Wetan, dan Bonus Diskusi Cak Irul: Mlaku ke Dalam Tulisan (5)

(Jeda di Antara Kaffah Berguru kepada Mbah Nun)



CG : “Feb, mene bekne budhal PB..”

Saya :Ora, Cak. Aku budhal mene ae, pas BBW.”

Obrolan singkat di tengah ruang laboratorium JC. Lantas, gema irama suara itu lenyap—ditelan bising lalu-lalang kendaraan yang melintas di Jalan Raya Cerme Lor. Musik pengiring kru JC setia menemani. Dan, obrolan singkat itu benar-benar hilang ditelan “Demi masa”.

Keesokan harinya, Selasa, 3 Februari 2026. Demi masa ketika detik-detik jelang pelaksanaan Bangbang Wetan edisi Februari 2026. Sore pukul 16.50 WIB, saya berkirim pesan WhatsApp kepada Aji.

Saya :Piye, Ji? Suroboyo udan ta? Cerme wis mulai mendung peteng.

Aji :Udan ndisiki koyoke. Aku nak Sumber iki, wes udan.

Saya :Iki (Cerme-red) wis udan.

Tiga puluh menit berjalan. Tak ada respons sama sekali dari Aji. Saya dibuat resah karena tak kunjung ada kepastian. Laptop warna merah Asus milik JC masih terbuka di hadapan saya. Angka-angka, Microsoft Office Excel, Microsoft Office Word, dan Google menjadi teman paling setia.

Saya :Berarti mulih ya?”

Ternyata masih sama. Pesan WhatsApp itu tidak dibalas, tidak direspons. Dalam hati: sedikit memendam kecewa. Mangkel.

Saya sengaja mengirim pesan lagi, kendati Aji belum menjawab. Sebab, saya butuh kepastian—secepatnya.

Saya :Piye? Sida budhal gak?

Pesan itu terkirim pukul 18.47 WIB, ketika saya sudah di rumah. Mau beres-beres, mandi, makan, lalu langsung berangkat ke lokasi Bangbang Wetan edisi Februari 2026.

Bulan ini, Bangbang Wetan terjadwal berlangsung di Taman Budaya Cak Durasim, Jl. Genteng Kali No. 85, Genteng, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya. Tema yang diangkat: “Ngabudaya”.

Malam itu kondisinya masih hujan. Rintik-rintik gerimis. Tidak deras, tetapi kalau tanpa jas hujan, tetap sama: airnya dipastikan membasahi tubuh. Saya sempat bimbang, apakah tetap berangkat atau batal saja. Pertimbangan paling logis, sebetulnya ada: cuaca yang kurang bersahabat—bagi saya.

Namun, saya berupaya menghadirkan diri secara batin-lahir di forum Bangbang Wetan Surabaya pada bulan ini, setelah sekian tahun dan berbulan-bulan belakangan ini nyaris tak pernah datang ke sana.

Aji :Ga sida, Mas. Lagek teka aku. Legrek.

Saya : “Oke. Aku budhal dhewe.

Aji : “Oke, ati-ati.

Pesan terakhir dari Aji saya terima pukul 18.48 WIB. Kabar itu membuat dada lapang. Saya tidak lagi cemas. Dan, saya akhirnya memang memutuskan untuk sinau (lagi) ke Bangbang Wetan.

Setelah mendapat kabar tersebut, saya langsung bergegas mandi. Saya sengaja menyiapkan air hangat. Bukan karena manja, tetapi karena memang pengin mandi air hangat.

Terakhir kali saya berangkat Bangbang Wetan pada tahun 2024 lalu. Tepatnya 23 November. Lokasinya di STIKOSA AWS. Saat itu, Aji pertama kalinya saya ajak hadir di Bangbang Wetan. Tema yang diangkat: Menakar Ruang Ajar.

Saya memadatkan hasil sinau bareng tersebut melalui tulisan berjudul: Menakar Pendidikan di Era Modern: Perspektif Mas Sabrang dalam Bangbang Wetan November 2024.

Bedanya, Bangbang Wetan edisi Februari 2026, saya berangkat sendirian. Tidak bersama Aji. Meskipun sebelumnya saya sudah merencanakan dan mengajaknya. Bahkan, sebetulnya dia yang menantang saya untuk berangkat.

Eh, ternyata kenyataan tidak selalu berjalan lurus dengan rencana matang yang sudah disusun. Tapi itu soal lain. Dan, tidak sama sekali saya jadikan sebagai masalah.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسٰٓى أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Dalam konteks ini, saya tidak membenci Aji, sebagaimana definisi benci menurut bahasa pemahaman manusia. Saya hanya menagih kepastian. Itu saja. Biar hati saya lega. Lagi pula, hasrat saya cukup tinggi: hadir di Bangbang Wetan edisi Februari 2026.

Menurut saya, itu juga bagian dari masalah kecil. Ketika ada masalah, ia perlu dirumuskan; dibicarakan; diungkapkan. Jawaban Aji adalah bagian kecil dari jawaban atas masalah yang saya buat sendiri.

Lucunya, saya nyaris nyasar ketika beberapa ratus meter mendekati lokasi. Sejak awal, saya sudah membuka Google Maps. Lalu saya ingat-ingat betul kenapa saya lakukan itu: karena saya benar-benar lupa jalanan di tengah kota Surabaya.

Saya sadar itu karena bertahun-tahun lamanya sudah tidak pernah keliling Kota Surabaya. Tidak seperti dulu, ketika masa-masa kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Apalagi Taman Budaya Cak Durasim tidak sekali dua kali forum Bangbang Wetan digelar di sana: sudah berkali-kali, puluhan kali, bahkan mungkin lebih. Dulu, rute menuju tempat itu saya hafal di luar kepala. Sekarang situasinya berbeda. Saya benar-benar lupa.

Bolak-balik saya menetralkan motor Megapro, menepi ke bahu kiri jalan protokol Surabaya. Membuka resleting tas selempang kecil. Tangan merogoh mencari HP, lalu membuka Google Maps, dan melanjutkan perjalanan.

Saya tiba di lokasi pukul 21.22 WIB. Mas Sabrang MDP belum naik ke panggung forum. Saya masih di luar area Pendopo—menikmati atmosfer, suasana, nuansa, sekaligus ingatan masa silam saya. Terutama pada rutinan Bangbang Wetan, 22 Maret 2019.

Ternyata, tujuh tahun telah berlalu. Waktu terasa cepat berpacu. Tiba-tiba saja saya sudah lulus kuliah, sudah bekerja. Persamaannya adalah: selalu ada keresahan. Yang membedakan: skala, ruang, waktu, konteks, nuansa, muatan tantangannya, dan seterusnya.

Ingatan itu terdokumentasi dalam salah satu postingan akun Instagram pribadi saya. Tampak tiga pemuda yang tertidur pulas, beralas keramik warna oranye kekuningan. Salah satu dari mereka adalah saya.

Saya mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam, beserta celana jeans pendek berwarna biru dongker agak pucat. Lalu ada Naufal Muzadi, arek Mojokerto. Dia mengenakan jaket, sarung, dan kopyah: warnanya serba gelap.

Berikutnya adalah Rovi’ul Huda, cah Bojonegoro—teman yang rumah kontrakannya di Semarang saya jadikan tempat menginap beberapa hari lalu, dalam ikhtiar mlaku (lagi) ke Semarang. Pada frame foto, dia mengenakan kaos lengan pendek warna hitam. Sebagian besar wajahnya tertutupi jaket dan tas hitam, termasuk tubuhnya: untuk melindungi dari dinginnya malam.

Adapun caption postingan yang saya buat:

Malam mendengkur pelan. Tertidur-lelap lah mimpi dalam mata yang pejam, meredam sibuk seharian.

Pada langit yang diam, energi mulai sempoyongan. Kupunguti bekas-bekas harapan, kepingan sepi;

yang terus menggoyang tubuh, tergerus waktu, hingga membangkai. Dan, kemudian kekal berpelukan dalam tidur panjang nan damai.

Saya larut dalam nuansa nostalgia masa-masa itu. Di mana saya tak perlu resah membaca peta Kota Surabaya. Momen ketika hampir rutin tiap bulan selalu hadir di Bangbang Wetan.

Cukup lama saya larut dalam ingatan tersebut. Bermenit-menit, hingga tiba Mas Sabrang MDP naik ke panggung forum.

Banyak topik dibahas Mas Sabrang pada kesempatan itu. Apalagi pasca beliau dilantik sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional. Mulai dari konsep budaya, teknologi, peluang AI, tantangan sekaligus ancaman sosial media, pendidikan, dan masih banyak lagi lainnya.

Dari itu semua, tidak keseluruhan berhasil saya catat. Tetapi saya wajib bersyukur karena masih diberi sempat, waktu, dan utamanya fokus perhatian untuk mengetik cepat di grup WhatsApp yang anggotanya hanya saya sendiri. Namanya: Aku Ijen.

Ada satu poin yang betul-betul saya taruh perhatian secara serius. Bahkan, saya mengetik di HP sambil berdiri. Mengambil jarak cukup jauh di sudut belakang, dekat Pojok Ilmu. Yakni: Fatwa Hati atau Istafti Qalbak. Itu saya lakukan demi tidak terganggu noise-noise di antara jamaah. Tapi, bukan berarti saya menyalahkan mereka. Intinya, saya ingin fokus menyimak dan mencatat. Titik.

Penjelasan selengkapnya, padatan poin-poin yang saya dapat, akan saya tulis dalam tulisan berikutnya. Mohon doanya saja.

Tulisan ini saya mulai pukul 11.00  WIB dan tuntas dalam sekali duduk tepat pukul 13.00 WIB. Sejak malam, dini hari, hingga tiba pagi dan siang harinya: saya belum tidur sama sekali.

Setuntas dinas di JC, saya ke Lidah Wetan hingga pukul 03.30 WIB. Lalu kembali pulang, dan melanjutkan ngopi untuk menyiapkan bahan beberapa artikel bola:

https://www.klikmedianetwork.com/sport/1947154231/benzema-ke-al-hilal-bikin-situasi-panas-cristiano-ronaldo-mogok-main-lagi, https://www.klikmedianetwork.com/sport/1947154246/mu-diam-diam-siapkan-kandidat-pelatih-baru-nasib-michael-carrick-belum-aman, https://www.klikmedianetwork.com/sport/1947154259/chelsea-10-laga-tak-pernah-menang-lawan-arsenal-ini-buktinya.

Setelahnya, saya mengantar Ibu ke Sememi, Benowo, Surabaya. Saya pun tiba-tiba membuat rencana dadakan: mampir ke rumah Cak Irul yang berada persis di gang sebelahnya. Ada satu pertimbangan logis, sudah lama saya tak bersua di rumahnya. Ndilalah, dalam pertemuan itu kami banyak diskusi.

Di sana, saya sampai pukul 10.00 WIB. Membahas banyak hal. Sinau bareng lagi, termasuk diskusi hasil catatan cepat saya dari Bangbang Wetan edisi Februari 2026.

Yang pasti, juga membahas: Fatwa Hati. Diskusi kami berjalan seperti aliran air. Rasa lelah saya sadari sudah hinggap di tubuh. Mata payah. Tapi, rasa kantuk hilang seketika saat diskusi masuk pada tadabbur Al-Qur’an.

‘Kan datang waktu di harimu

Saat kau merasa tak menentu

Jangan kau bimbang pada waktu

Akan ku ingatkan kepadamu

Tentang kita dan tentang cinta

Tentang janji yang kau bawa

Jika nanti saat kau sendiri

Temukanku di fatwa hatimu

(Cuplikan lirik lagu karya Letto “Fatwa Hati”).

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (QS. Qaf Ayat 16).

Warkop WG2P Dalean, Kamis, 5 Februari 2026.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.