Kritis, Gumunan, dan Celah Ilusi

Kritis, Gumunan, dan Celah Ilusi

(Part 3 Serial Tadabbur, Tazakkur, I’tibar, dan Tafakkur 5W+1H Mukjizat)

Ada satu sikap manusia yang kerap menyelinap diam-diam ketika berhadapan dengan sesuatu yang tampak luar biasa: gumunan. Rasa kagum yang tak disertai kehendak untuk mencari tahu.

Dalam kondisi seperti ini, keajaiban tak lagi menjadi pintu pengetahuan, melainkan berpeluang menimbulkan celah manipulasi.

Mas Sabrang MDP mengingatkan bahwa manusia sering kali menikmati dibohongi karena merasa takjub. Seperti yang disampaikan dalam rutinan Bangbang Wetan edisi Maret 2024 bertajuk “Memeluk Mukjizat.

Ketika takjub itu dibiarkan berhenti pada rasa, ia berubah menjadi ilusi yang bekerja di kepala. Ilusi inilah yang kemudian dapat menjauhkan manusia dari sikap kritis.

“Jika kita tidak kritis, kita akan mudah dibohongi oleh ilusi atau trik yang sebenarnya bisa dijelaskan (secara logis) jika kita mau mencari tahu lebih lanjut,” jelas Mas Sabrang.

Mukjizat, dalam kondisi seperti itu, bukan lagi menjadi sarana mendekat kepada Tuhan, melainkan jebakan yang mematikan daya pikir.

Mas Sabrang memberi contoh sederhana: kambing yang bisa terbang. Ketertarikan kita terhadap hal itu, menurutnya, adalah modal—kasih sayang—dari Tuhan.

Rasa ingin tahu adalah anugerah. Masalah muncul ketika rasa itu tidak diikuti oleh proses pencarian, verifikasi, dan kesediaan menunda kesimpulan.

Di titik ini, sikap kritis dimaknai bukan sebagai penyangkalan, melainkan sebagai jeda. Percaya atau tidak, nanti dulu.

Jeda inilah yang menjaga manusia agar tidak mudah terseret pada ilusi. Mukjizat pun menemukan tempatnya yang lebih sehat: bukan sebagai tontonan yang memukau, tetapi sebagai pemantik kesadaran rasional berpikir kita.

“Kita seneng dibohongi karena kita sering (mudah) merasa takjub. Kemudian, ilusi di kepalamu bisa dipakai untuk membohongi dirimu,” lanjut Mas Sabrang.

Sebab itu, Mas Sabrang mengajak kita untuk merekonstruksi cara berpikir terhadap banyak hal. Sehingga kita tidak mudah menerima informasi dari luar. Dibutuhkan mekanisme filter secara kritis.

Mukjizat, sambung Mas Sabrang, bisa menjadi sarana bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Kendati begitu, beliau juga mewanti-wanti kepada kita agar tetap berpijak pada kuda-kuda sikap kritis.

Jagad Jawi Cerme, Senin, 9 Februari 2026

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.