Aneh, Ajaib, dan Mukjizat: Menata Kategori Pengalaman
(Part 4 Serial Tadabbur, Tazakkur, I’tibar, dan Tafakkur 5W+1H Mukjizat)

Dalam perbincangan tentang mukjizat pada rutinan Bangbang Wetan edisi Maret 2024, Mas Sabrang MDP mengajak kita untuk menata ulang kategori beragam pengalaman manusia.
Tidak semua yang aneh adalah mukjizat. Tidak semua yang ajaib pantas ditempatkan di wilayah yang sama.
Mas Sabrang membentangkan sebuah rentang perspektif yang baru: hal aneh berada di luar jangkauan satu manusia, hal ajaib berada di luar banyak manusia, sementara mukjizat berada di luar jangkauan seluruh manusia.
Rentang ini membantu kita mengambil posisi secara lebih jernih. “Saya tidak pengen merendahkan mukjizat, tapi saya pengen membahas mekaniknya, agar kita bisa membahas lebih detail, dan dapat diukur secara tepat,” ungkap Mas Sabrang.
Contoh kodok yang dahulu dianggap mampu mendatangkan hujan menunjukkan bagaimana sesuatu yang semula ditempatkan sebagai mukjizat perlahan berpindah kategori ketika pengetahuan bertambah.
“Zaman dulu, keberadaan dan kemunculan kodok dianggap bisa mendatangkan hujan. Kita kemudian sama-sama mencari tahu (Apa betul seperti itu?). Satu dua orang akhirnya mencari tahu,” jelas Mas Sabrang.
Kemudian, ditemukannya faktor kelembapan menjadi latar belakang sekaligus indikator kemunculan keberadaan katak di suatu tempat secara serntak. Itu tidak serta-merta meniadakan pengalaman awal, tetapi menggeser cara memaknainya.
“Akhirnya menemukan faktor kelembapan. Sesuatu yang di luar nalar semua manusia (saat itu), yang tidak bisa dijelaskan secara teori.” Lanjut Mas Sabrang, “Yang tidak bisa dijelaskan dengan teori, itu yang namanya mukjizat.”
Dengan pemetaan ini, mukjizat tidak lagi menjadi label serba guna untuk segala hal yang tidak kita pahami.
Ia menjadi penanda batas, sekaligus pengingat bahwa pengetahuan manusia selalu bergerak. Ketika batas itu bergeser, keajaiban pun ikut menemukan bentuk barunya.
Jagad Jawi Cerme, Senin, 9 Februari 2026
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton, bukan penyair atau sastrawan; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.